MetodolOgi mengajar adalah ilmu yang mempelajari cara-cara untuk melakukan aktivitas yang tersistem dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga proses belajar berjalan dengan baik dalam arti tujuan pengajaran tercapai.
Agar tujuan pengajaran tercapai sesuai dengan yang telah dirumuskan oleh pendidik, maka perlu mengetahui, mempelajari beberapa metode mengajar, serta dipraktekkan pada saat mengajar.
Beberapa metode mengajar
1. Metode Ceramah (Preaching Method)
Metode ceramah yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan saecara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Muhibbin Syah, (2000). Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi, dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya beli dan paham siswa.
Beberapa kelemahan metode ceramah adalah :
a. Membuat siswa pasif
b. Mengandung unsur paksaan kepada siswa
c. Mengandung daya kritis siswa ( Daradjat, 1985)
d. Anak didik yang lebih tanggap dari visi visual akan menjadi rugi dan anak didik yang lebih tanggap auditifnya dapat lebih besar menerimanya.
e. Sukar mengontrol sejauhmana pemerolehan belajar anak didik.
f. Kegiatan pengajaran menjadi verbalisme (pengertian kata-kata).
g. Bila terlalu lama membosankan.(Syaiful Bahri Djamarah, 2000)
Beberapa kelebihan metode ceramah adalah :
a. Guru mudah menguasai kelas.
b. Guru mudah menerangkan bahan pelajaran berjumlah besar
c. Dapat diikuti anak didik dalam jumlah besar.
d. Mudah dilaksanakan (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)
2. Metode diskusi ( Discussion method )
Muhibbin Syah ( 2000 ), mendefinisikan bahwa metode diskusi adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan memecahkan masalah (problem solving). Metode ini lazim juga disebut sebagai diskusi kelompok (group discussion) dan resitasi bersama ( socialized recitation ).
Metode diskusi diaplikasikan dalam proses belajar mengajar untuk :
a. Mendorong siswa berpikir kritis.
b. Mendorong siswa mengekspresikan pendapatnya secara bebas.
c. Mendorong siswa menyumbangkan buah pikirnya untuk memcahkan masalah bersama.
d. Mengambil satu alternatif jawaban atau beberapa alternatif jawaban untuk memecahkan masalah berdsarkan pertimbangan yang seksama.
Kelebihan metode diskusi sebagai berikut :
a. Menyadarkan anak didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan berbagai jalan
b. Menyadarkan ank didik bahwa dengan berdiskusi mereka saling mengemukakan pendapat secara konstruktif sehingga dapat diperoleh keputusan yang lebih baik.
c. Membiasakan anak didik untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun berbeda dengan pendapatnya dan membiasakan bersikap toleransi. (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)
Kelemahan metode diskusi sebagai berikut :
a. tidak dapat dipakai dalam kelompok yang besar.
b. Peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas.
c. Dapat dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara.
d. Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)
3. Metode demontrasi ( Demonstration method )
Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan. Muhibbin Syah ( 2000).
Metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran. Syaiful Bahri Djamarah, ( 2000).
Manfaat psikologis pedagogis dari metode demonstrasi adalah :
a. Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan .
b. Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
c. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa (Daradjat, 1985)
Kelebihan metode demonstrasi sebagai berikut :
a. Membantu anak didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atu kerja suatu benda.
b. Memudahkan berbagai jenis penjelasan .
c. Kesalahan-kesalahan yeng terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki melaui pengamatan dan contoh konkret, drngan menghadirkan obyek sebenarnya (Syaiful Bahri Djamarah, 2000).
Kelemahan metode demonstrasi sebagai berikut :
a. Anak didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan dipertunjukkan.
b. Tidak semua benda dapat didemonstrasikan
c. Sukar dimengerti bila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan (Syaiful Bahri Djamarah, 2000).
4. Metode ceramah plus
Metode ceramah plus adalah metode mengajar yang menggunakan lebih dari satu metode, yakni metode ceramah gabung dengan metode lainnya.Dalam hal ini penulis akan menguraikan tiga macam metode ceramah plus yaitu :
a. Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas (CPTT).
Metode ini adalah metode mengajar gabungan antara ceramah dengan tanya jawab dan pemberian tugas.
Metode campuran ini idealnya dilakukan secar tertib, yaitu :
1). Penyampaian materi oleh guru.
2). Pemberian peluang bertanya jawab antara guru dan siswa.
3). Pemberian tugas kepada siswa.
b. Metode ceramah plus diskusi dan tugas (CPDT)
Metode ini dilakukan secara tertib sesuai dengan urutan pengkombinasiannya, yaitu pertama guru menguraikan materi pelajaran, kemudian mengadakan diskusi, dan akhirnya memberi tugas.
c. Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan (CPDL)
Metode ini dalah merupakan kombinasi antara kegiatan menguraikan materi pelajaran dengan kegiatan memperagakan dan latihan (drill)
5. Metode resitasi ( Recitation method )
Metode resitasi adalah suatu metode mengajar dimana siswa diharuskan membuat resume dengan kalimat sendiri (http://re-searchengines.com/art05-65.html).
Kelebihan metode resitasi sebagai berikut :
a. Pengetahuan yang anak didik peroleh dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama.
b. Anak didik berkesempatan memupuk perkembangan dan keberanian mengambil inisiatif, bertanggung jawab dan berdiri sendiri (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)
Kelemahan metode resitasi sebagai berikut :
a. Terkadang anak didik melakukan penipuan dimana anak didik hanya meniru hasil pekerjaan temennya tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri.
b. Terkadang tugas dikerjakan oleh orang lain tanpa pengawasan.
c. Sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individual (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)
6. Metode percobaan ( Experimental method )
Metode percobaan adalah metode pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan. Syaiful Bahri Djamarah, (2000)
Metode percobaan adalah suatu metode mengajar yang menggunakan tertentu dan dilakukan lebih dari satu kali. Misalnya di Laboratorium.
Kelebihan metode percobaan sebagai berikut :
a. Metode ini dapat membuat anak didik lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri daripada hanya menerima kata guru atau buku.
b. Anak didik dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksplorasi (menjelajahi) tentang ilmu dan teknologi.
c. Dengan metode ini akan terbina manusia yang dapat membawa terobosan-terobosan baru dengan penemuan sebagai hasil percobaan yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia.
Kekurangan metode percobaan sebagai berikut :
a. Tidak cukupnya alat-alat mengakibatkan tidak setiap anak didik berkesempatan mengadakan ekperimen.
b. Jika eksperimen memerlukan jangka waktu yang lama, anak didik harus menanti untuk melanjutkan pelajaran.
c. Metode ini lebih sesuai untuk menyajikan bidang-bidang ilmu dan teknologi.
Menurut Roestiyah (2001:80) Metode eksperimen adalah suatu cara mengajar, di mana siswa melakukan suatu percobaan tentang sesuatu hal, mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas dan dievaluasi oleh guru.
Penggunaan teknik ini mempunyai tujuan agar siswa mampu mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atau persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri. Juga siswa dapat terlatih dalam cara berfikir yang ilmiah. Dengan eksperimn siswa menemukan bukti kebenaran dari teori sesuatu yang sedang dipelajarinya.
Agar penggunaan metode eksperimen itu efisien dan efektif, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : (a) Dalam eksperimen setiap siswa harus mengadakan percobaan, maka jumlah alat dan bahan atau materi percobaan harus cukup bagi tiap siswa. (b) Agar eksperimen itu tidak gagal dan siswa menemukan bukti yang meyakinkan, atau mungkin hasilnya tidak membahayakan, maka kondisi alat dan mutu bahan percobaan yang digunakan harus baik dan bersih. (c) dalam eksperimen siswa perlu teliti dan konsentrasi dalam mengamati proses percobaan , maka perlu adanya waktu yang cukup lama, sehingga mereka menemukan pembuktian kebenaran dari teori yang dipelajari itu. (d) Siswa dalam eksperimen adalah sedang belajar dan berlatih , maka perlu diberi petunjuk yang jelas, sebab mereka disamping memperoleh pengetahuan, pengalaman serta ketrampilan, juga kematangan jiwa dan sikap perlu diperhitungkan oleh guru dalam memilih obyek eksperimen itu. (e) Tidak semua masalah bisa dieksperimenkan, seperti masalah mengenai kejiwaan, beberapa segi kehidupan social dan keyakinan manusia. Kemungkinan lain karena sangat terbatasnya suatu alat, sehingga masalah itu tidak bias diadakan percobaan karena alatnya belum ada.
Prosedur eksperimen menurut Roestiyah (2001:81) adalah : (a) Perlu dijelaskan kepada siswa tentang tujuan eksprimen,mereka harus memahami masalah yang akan dibuktikan melalui eksprimen. (b) memberi penjelasan kepada siswa tentang alat-alat serta bahan-bahan yang akan dipergunakan dalam eksperimen, hal-hal yang harus dikontrol dengan ketat, urutan eksperimen, hal-hal yang perlu dicatat. (c) Selama eksperimen berlangsung guru harus mengawasi pekerjaan siswa. Bila perlu memberi saran atau pertanyaan yang menunjang kesempurnaan jalannya eksperimen. (d) Setelah eksperimen selesai guru harus mengumpulkan hasil penelitian siswa, mendiskusikan di kelas, dan mengevaluasi dengan tes atau tanya jawab.
Metode eksperimen menurut Djamarah (2002:95) adalah cara penyajian pelajaran, di mana siswa melakukan percobaan dengan mengalami sendiri sesuatu yang dipelajari. Dalam proses belajar mengajar, dengan metode eksperimen, siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu obyek, keadaan atau proses sesuatu. Dengan demikian, siswa dituntut untuk mengalami sendiri , mencari kebenaran, atau mencoba mencari suatu hukum atau dalil, dan menarik kesimpulan dari proses yang dialaminya itu.
Metode eksperimen mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut :
Kelebihan metode eksperimen : (a) Membuat siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya. (b) dalam membina siswa untuk membuat terobosan-terobosan baru dengan penemuan dari hasil percobaannya dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. (c) Hasil-hasil percobaan yang berharga dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran umat manusia.
Kekurangan metode eksperimen :
(a) Metode ini lebih sesuai untuk bidang-bidang sains dan teknologi. (b) metode ini memerlukan berbagai fasilitas peralatan dan bahan yang tidak selalu mudah diperoleh dan kadangkala mahal. (c) Metode ini menuntut ketelitian, keuletan dan ketabahan. (d) Setiap percobaan tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan karena mungkin ada factor-faktor tertentu yang berada di luar jangkauan kemampuan atau pengendalian.
Menurut Schoenherr (1996) yang dikutip oleh Palendeng (2003:81) metode eksperimen adalah metode yang sesuai untuk pembelajaran sains, karena metode eksprimen mampu memberikan kondisi belajar yang dapat mengembangkan kemampuan berfikir dan kreativitas secara optimal. Siswa diberi kesempatan untuk menyusun sendiri konsep-konsep dalam struktur kognitifnya, selanjutnya dapat diaplikasikan dalam kehidupannya.
Dalam metode eksperimen, guru dapat mengembangkan keterlibatan fisik dan mental, serta emosional siswa. Siswa mendapat kesempatan untuk melatih ketrampilan proses agar memperoleh hasil belajar yang maksimal. Pengalaman yang dialami secara langsung dapat tertanam dalam ingatannya. Keterlibatan fisik dan mental serta emosional siswa diharapkan dapat diperkenalkan pada suatu cara atau kondisi pembelajaran yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan juga perilaku yang inovatif dan kreatif.
Pembelajaran dengan metode eksperimen melatih dan mengajar siswa untuk belajar konsep fisika sama halnya dengan seorang ilmuwan fisika. Siswa belajar secara aktif dengan mengikuti tahap-tahap pembelajarannya. Dengan demikian, siswa akan menemukan sendiri konsep sesuai dengan hasil yang diperoleh selama pembelajaran.
Pembelajaran dengan metode eksperimen menurut Palendeng (2003:82) meliputi tahap-tahap sebagai berikut : (1) percobaan awal, pembelajaran diawali dengan melakukan percobaan yang didemonstrasikan guru atau dengan mengamati fenomena alam. Demonstrasi ini menampilkan masalah-masalah yang berkaitan dengan materi fisika yang akan dipelajari. (2) pengamatan, merupakan kegiatan siswa saat guru melakukan percobaan. Siswa diharapkan untuk mengamati dan mencatat peristiwa tersebut. (3) hipoteis awal, siswa dapat merumuskan hipotesis sementara berdasarkan hasil pengamatannya. (4) verifikasi , kegiatan untuk membuktikan kebenaran dari dugaan awal yang telah dirumuskan dan dilakukan melalui kerja kelompok. Siswa diharapkan merumuskan hasil percobaan dan membuat kesimpulan, selanjutnya dapat dilaporkan hasilnya. (5) aplikasi konsep , setelah siswa merumuskan dan menemukan konsep, hasilnya diaplikasikan dalam kehidupannya. Kegiatan ini merupakan pemantapan konsep yang telah dipelajari. (6) evaluasi, merupakan kegiatan akhir setelah selesai satu konsep.
Penerapan pembelajaran dengan metode eksperimen akan membantu siswa untuk memahami konsep. Pemahaman konsep dapat diketahui apabila siswa mampu mengutarakan secara lisan, tulisan, , maupun aplikasi dalam kehidupannya. Dengan kata lain , siswa memiliki kemampuan untuk menjelaskan, menyebutkan, memberikan contoh, dan menerapkan konsep terkait dengan pokok bahasan .
Metode Eksperimen menurut Al-farisi (2005:2) adalah metode yang bertitik tolak dari suatu masalah yang hendak dipecahkan dan dalam prosedur kerjanya berpegang pada prinsip metode ilmiah.
7. Metode Karya Wisata
Metode karya wisata adalah suatu metode mengajar yang dirancang terlebih dahulu oleh pendidik dan diharapkan siswa membuat laporan dan didiskusikan bersama dengan peserta didik yang lain serta didampingi oleh pendidik, yang kemudian dibukukan.
Kelebihan metode karyawisata sebagai berikut :
a. Karyawisata menerapkan prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran.
b. Membuat bahan yang dipelajari di sekolah menjadi lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan yang ada di masyarakat.
c. Pengajaran dapat lebih merangsang kreativitas anak.
Kekurangan metode karyawisata sebagai berikut :
a. Memerlukan persiapan yang melibatkan banyak pihak.
b. Memerlukan perencanaan dengan persiapan yang matang.
c. Dalam karyawisata sering unsur rekreasi menjadi prioritas daripada tujuan utama, sedangkan unsur studinya terabaikan.
d. Memerlukan pengawasan yang lebih ketat terhadap setiap gerak-gerik anak didik di lapangan.
e. Biayanya cukup mahal.
f. Memerlukan tanggung jawab guru dan sekolah atas kelancaran karyawisata dan keselamatan anak didik, terutama karyawisata jangka panjang dan jauh.
Kadang-kadang dalam proses belajar mengajar siswa perlu diajak ke luar sekolah, untuk meninjautempat tertentu atau obyek yang lain. Menurut Roestiyah (2001:85) , karya wisata bukan sekedar rekreasi, tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajarannya dengan melihat kenyataannya. Karena itu dikatakan teknik karya wisata, ialah cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau obyek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu seperti meninjau pabrik sepatu, suatu bengkel mobil, toko serba ada, dan sebagainya.
Menurut Roestiyah (2001:85) ,teknik karya wisata ini digunakan karena memiliki tujuan sebagai berikut: Dengan melaksanakan karya wisata diharapkan siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dari obyek yang dilihatnya, dapat turut menghayati tugas pekerjaan milik seseorang serta dapat bertanya jawab mungkin dengan jalan demikian mereka mampu memecahkan persoalan yang dihadapinya dalam pelajaran, ataupun pengetahuan umum. Juga mereka bisa melihat, mendengar, meneliti dan mencoba apa yang dihadapinya, agar nantinya dapat mengambil kesimpulan, dan sekaligus dalam waktu yang sama ia bisa mempelajari beberapa mata pelajaran.
Agar penggunaan teknik karya wisata dapat efektif, maka pelaksanaannya perlu memeperhatikan langkah-langkah sebagai berikut: (a) Persiapan, dimana guru perlu menetapkan tujuan pembelajaran dengan jelas, mempertimbangkan pemilihan teknik, menghubungi pemimpin obyek yang akan dikunjungi untuk merundingkan segala sesuatunya, penyusunan rencana yang masak, membagi tugas-tugas, mempersiapkan sarana, pembagian siswa dalam kelompok, serta mengirim utusan, (b) Pelaksanaan karya wisata, dimana pemimpin rombongan mengatur segalanya dibantu petugas-petugas lainnya, memenuhi tata tertib yang telah ditentukan bersama, mengawasi petugas-petugas pada setiap seksi, demikian pula tugas-tugas kelompok sesuai dengan tanggungjawabnya, serta memberi petunjuk bila perlu, (c) Akhir karya wisata, pada waktu itu siswa mengadakan diskusi mengenai segala hal hasil karya wisata, menyusun laporan atau paper yang memuat kesimpulan yang diperoleh, menindaklanjuti hasil kegiatan karya wisata seperti membuat grafik, gambar, model-model, diagram, serta alat-alat lain dan sebagainya.
Karena itulah teknik karya wisata dapat disimpulkan memiliki keunggulan sebagai berikut: (a) Siswa dapat berpartisispasi dalam berbagai kegiatan yang dilakukan oleh para petugas pada obyek karya wisata itu, serta mengalami dan menghayati langsung apa pekerjaan mereka. Hal mana tidak mungkin diperoleh disekolah, sehingga kesempatan tersebut dapat mengembangkan bakat khusus atau ketrampilan mereka, (b) Siswa dapat melihat berbagai kegiatan para petugas secara individu maupun secara kelompok dan dihayati secara langsung yang akan memperdalam dan memperluas pengalaman mereka, (c) dalam kesempatan ini siswa dapat bertanya jawab, menemukan sumber informasi yang pertama untuk memecahkan segala persoalan yang dihadapi, sehingga mungkin mereka menemukan bukti kebenaran teorinya, atau mencobakan teorinya ke dalam praktek, (d) Dengan obyek yang ditinjau itu siswa dapat memperoleh bermacam-macam pengetahuan dan pengalaman yang terintegrasi, yang tidak terpisah-pisah dan terpadu.
Penggunaan teknik karya wisata ini masih juga ada keterbatasan yang perlu diperhatikan atau diatasi agar pelaksanaan teknik ini dapat berhasil guna dan berdaya guna, ialah sebagai berikut: Karya wisata biasanya dilakukan di luar sekolah, sehingga mungkin jarak tempat itu sangat jauh di luar sekolah, maka perlu mempergunakan transportasi, dan hal itu pasti memerlukan biaya yang besar. Juga pasti menggunakan waktu yang lebih panjang daripada jam sekolah, maka jangan sampai mengganggu kelancaran rencana pelajaran yang lain. Biaya yang tinggi kadang-kadang tidak terjangkau oleh siswa maka perlu bantuan dari sekolah. Bila tempatnya jauh, maka guru perlu memikirkan segi keamanan, kemampuan pihak siswa untuk menempuh jarak tersebut, perlu dijelaskan adanya aturan yang berlaku khusus di proyek ataupun hal-hal yang berbahaya.
Suhardjono (2004:85) mengungkapkan bahwa metode karya wisata (field-trip) memiliki keuntungan: (a) Memberikan informasi teknis, kepada peserta secara langsung, (b) Memberikan kesempatan untuk melihat kegiatan dan praktik dalam kenyataan atau pelaksanaan yang sebenarnya, (c) Memberikan kesempatan untuk lebih menghayati apa yang dipelajari sehingga lebih berhasil, (d) membei kesempatan kepada peserta untuk melihat dimana peserta ditunjukkan kepada perkembangan teknologi mutakhir.
Sedangkan kekurangan metode Field Trip menurut Suhardjono (2004:85) adalah: (a) Memakan waktu bila lokasi yang dikunjungi jauh dari pusat latihan, (b) Kadang-kadang sulit untuk mendapat ijin dari pimpinan kerja atau kantor yang akan dikunjungi, (c) Biaya transportasi dan akomodasi mahal.
Menurut Djamarah (2002:105), pada saat belajar mengajar siswa perlu diajak ke luar sekolah, untuk meninjau tempat tertentu atau obyek yang lain. Hal itu bukan sekedar rekreasi tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajarannya dengan melihat kenyataannya. Karena itu, dikatakan teknik karya wisata, yang merupakan cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau obyek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu seperti meninjau pegadaian. Banyak istilah yang dipergunakan pada metode karya wisata ini, seperti widya wisata, study tour, dan sebagainya. Karya wisata ada yang dalam waktu singkat, dan ada pula yang dalam waktu beberapa hari atau waktu panjang.
Metode karya wisata mempunyai beberapa kelebihan yaitu: (a) Karya wisata memiliki prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran, (b) Membuat apa yang dipelajari di sekolah lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan di masyarakat, (c) Pengajaran serupa ini dapat lebih merangsang kreativitas siswa, (d) Informasi sebagai bahan pelajaran lebih luas dan aktual.
Kekurangan metode karya wisata adalah: (a) Fasilitas yang diperlukan dan biaya yang diperlukan sulit untuk disediakan oleh siswa atau sekolah, (b) Sangat memerlukan persiapan dan perencanaan yang matang, (c) memerlukan koordinasi dengan guru-guru bidang studi lain agar tidak terjadi tumpang tindih waktu dan kegiatan selama karya wisata, (d) dalam karya wisata sering unsure rekreasi menjadi lebih prioritas daripada tujuan utama, sedang unsure studinya menjadi terabaikan, (e) Sulit mengatur siswa yang banyak dalam perjalanan dan mengarahkan mereka kepada kegiatan studi yang menjadi permasalahan.
Metode field trip atau karya wisata menurut Mulyasa (2005:112) merupakan suatu perjalanan atau pesiar yang dilakukan oleh peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar, terutama pengalaman langsung dan merupakan bagian integral dari kurikulum sekolah. Meskipun karya wisata memiliki banyak hal yang bersifat non akademis, tujuan umum pendidikan dapat segera dicapai, terutama berkaitan dengan pengembangan wawasan pengalaman tentang dunia luar.
Sebelum karya wisata digunakan dan dikembangkan sebagai metode pembelajaran, hal-hal yang perlu diperhatikan menurut Mulyasa (2005:112) adalah: (a) Menentukan sumber-sumber masyarakat sebagai sumber belajar mengajar, (b) Mengamati kesesuaian sumber belajar dengan tujuan dan program sekolah, (c) Menganalisis sumber belajar berdasarkan nilai-nilai paedagogis, (d) Menghubungkan sumber belajar dengan kurikulum, apakah sumber-sumber belajar dalam karyawisata menunjang dan sesuai dengan tuntutan kurikulum, jika ya, karya wisata dapat dilaksanakan, (e) membuat dan mengembangkan program karya wisata secara logis, dan sistematis, (f) Melaksanakan karya wisata sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, dengan memperhatikan tujuan pembelajaran, materi pelajaran, efek pembelajaran, serta iklim yang kondusif. (g) Menganalisis apakah tujuan karya wisata telah tercapai atau tidak, apakah terdapat kesulitan-kesulitan perjalanan atau kunjungan, memberikan surat ucapan terima kasih kepada mereka yang telah membantu, membuat laporan karyawisata dan catatan untuk bahan karya wisata yang akan datang.
8. Metode latihan keterampilan ( Drill method )
Metode latihan keterampilan adalah suatu metode mengajar , dimana siswa diajak ke tempat latihan keterampilan untuk melihat bagaimana cara membuat sesuatu, bagaimana cara menggunakannya, untuk apa dibuat, apa manfaatnya dan sebagainya. Contoh latihan keterampilan membuat tas dari mute/pernik-pernik.
Kelebihan metode latihan keterampilan sebagai berikut :
a. Dapat untuk memperoleh kecakapan motoris, seperti menulis, melafalkan huruf, membuat dan menggunakan alat-alat.
b. Dapat untuk memperoleh kecakapan mental, seperti dalam perkalian, penjumlahan, pengurangan, pembagian, tanda-tanda/simbol, dan sebagainya.
c. Dapat membentuk kebiasaan dan menambah ketepatan dan kecepatan pelaksanaan.
Kekurangan metode latihan keterampilan sebagai berikut :
a. Menghambat bakat dan inisiatif anak didik karena anak didik lebih banyak dibawa kepada penyesuaian dan diarahkan kepada jauh dari pengertian.
b. Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan.
c. Kadang-kadang latihan tyang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang monoton dan mudah membosankan.
d. Dapat menimbulkan verbalisme.
9. Metode mengajar beregu ( Team teaching method )
Metode mengajar beregu adalah suatu metode mengajar dimana pendidiknya lebih dari satu orang yang masing-masing mempunyai tugas. Biasanya salah seorang pendidik ditunjuk sebagai kordinator. Cara pengujiannya, setiap pendidik membuat soal, kemudian digabung. Jika ujian lisan maka setiap siswa yang diuji harus langsung berhadapan dengan team pendidik tersebut.
10. Metode mengajar sesama teman ( Peer teaching method )
Metode mengajar sesama teman adalah suatu metode mengajar yang dibantu oleh temannya sendiri
11. Metode pemecahan masalah ( Problem solving method )
Metode ini adalah suatu metode mengajar yang mana siswanya diberi soal-soal, lalu diminta pemecahannya.
12. Metode perancangan ( projeck method )
yaitu suatu metode mengajar dimana pendidik harus merancang suatu proyek yang akan diteliti sebagai obyek kajian.
Kelebihan metode perancangan sebagai berikut :
a. Dapat merombak pola pikir anak didik dari yang sempit menjadi lebih luas dan menyuluruh dalam memandang dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan.
b. Melalui metode ini, anak didik dibina dengan membiasakan menerapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dengan terpadu, yang diharapkan praktis dan berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Kekurangan metode perancangan sebagai berikut :
a. Kurikulum yang berlaku di negara kita saat ini, baik secara vertikal maupun horizontal, belum menunjang pelaksanaan metode ini.
b. Organisasi bahan pelajaran, perencanaan, dan pelaksanaan metode ini sukar dan memerlukan keahlian khusus dari guru, sedangkan para guru belum disiapkan untuk ini.
c. Harus dapat memilih topik unit yang tepat sesuai kebutuhan anak didik, cukup fasilitas, dan memiliki sumber-sumber belajar yang diperlukan.
d. Bahan pelajaran sering menjadi luas sehingga dapat mengaburkan pokok unit yang dibahas.
13. Metode Bagian ( Teileren method )
yaitu suatu metode mengajar dengan menggunakan sebagian-sebagian, misalnya ayat per ayat kemudian disambung lagi dengan ayat lainnya yang tentu saja berkaitan dengan masalahnya.
14. Metode Global (Ganze method )
yaitu suatu metode mengajar dimana siswa disuruh membaca keseluruhan materi, kemudian siswa meresume apa yang dapat mereka serap atau ambil intisari dari materi tersebut.
15. Metode Discovery
Salah satu metode mengajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan di sekolah-sekolah yang sudah maju adalah metode discovery, hal itu disebabkan karena metode discovery ini: (a) Merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif, (b) Dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan, tidak akan mudah dilupakan siswa, (c) Pengertian yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul-betul dikuasai dan mudah digunakan atau ditransfer dalam situasi lain, (d) Dengan menggunakan strategi penemuan, anak belajar menguasai salah satu metode ilmiah yang akan dapat dikembangkannya sendiri, (e) dengan metode penemuan ini juga, anak belajar berfikir analisis dan mencoba memecahkan probela yang dihadapi sendiri, kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan demikian diharapkan metode discovery ini lebih dikenal dan digunakan di dalam berbagai kesempatan proses belajar mengajar yang memungkinkan.
Metode Discovery menurut Suryosubroto (2002:192) diartikan sebagai suatu prosedur mengajar yang mementingkan pengajaran perseorangan, manipulasi obyek dan lain-lain, sebelum sampai kepada generalisasi.
Metode Discovery merupakan komponen dari praktek pendidikan yang meliputi metode mengajar yang memajukan cara belajar aktif, beroreientasi pada proses, mengarahkan sendiri, mencari sendiri dan reflektif. Menurut Encyclopedia of Educational Research, penemuan merupakan suatu strategi yang unik dapat diberi bentuk oleh guru dalam berbagai cara, termasuk mengajarkan ketrampilan menyelidiki dan memecahkan masalah sebagai alat bagi siswa untuk mencapai tujuan pendidikannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metode discovery adalah suatu metode dimana dalam proses belajar mengajar guru memperkenankan siswa-siswanya menemukan sendiri informasi yang secara tradisional biasa diberitahukan atau diceramahkan saja.
Suryosubroto (2002:193) mengutip pendapat Sund (1975) bahwa discovery adalah proses mental dimana siswa mengasimilasi sesuatu konsep atau sesuatu prinsip. Proses mental tersebut misalnya mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya.
Langkah-langkah pelaksanaan metode penemuan menurut Suryosubroto (2002:197) yang mengutip pendapat Gilstrap (1975) adalah: (a) Menilai kebutuhan dan minat siswa, dan menggunakannya sebagai dasar untuk menentukan tujuan yang berguna dan realities untuk mengajar dengan penemuan, (b) Seleksi pendahuluan atas dasar kebutuhan dan minat siswa, prinsip-prinsip, generalisasi, pengertian dalam hubungannya dengan apa yang akan dipelajarai, (c) Mengatur susunan kelas sedemikian rupa sehingga memudahkan terlibatnya arus bebas pikiran siswa dalam belajar dengan penemuan, (d) Berkomunikasi dengan siswa akan membantu menjelaskan peranan penemuan, (e) menyiapkan suatu situasi yang mengandung masalah yang minta dipecahkan, (f) Mengecek pengertian siswa tentang maslah yang digunakan untuk merangsang belajar dengan penemuan, (g) Menambah berbagai alat peraga untuk kepentingan pelaksanaan penemuan, (h) memberi kesempatan kepada siswa untuk bergiat mengumpulkan dan bekerja dengan data, misalnya tiap siswa mempunyai data harga bahan-bahan pokok dan jumlah orang yang membutuhkan bahan-bahan pokok tersebut, (i) Mempersilahkan siswa mengumpulkan dan mengatur data sesuai dengan kecepatannya sendiri, sehingga memperoleh tilikan umum, (j) Memberi kesempatan kepada siswa melanjutkan pengalaman belajarnya, walaupun sebagian atas tanggung jawabnya sendiri, (k) memberi jawaban dengan cepat dan tepat sesuai dengan data dan informasi bila ditanya dan diperlukan siswa dalam kelangsungan kegiatannya, (l) Memimpin analisisnya sendiri melalui percakapan dan eksplorasinya sendiri dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi proses, (m) Mengajarkan ketrampilan untuk belajar dengan penemuan yang diidentifikasi oleh kebutuhan siswa, misalnya latihan penyelidikan, (n) Merangsang interaksi siswa dengan siswa, misalnya merundingkan strategi penemuan, mendiskusikan hipotesis dan data yang terkumpul, (o) Mengajukan pertanyaan tingkat tinggi maupun pertanyaan tingkat yang sederhana, (p) Bersikap membantu jawaban siswa, ide siswa, pandanganan dan tafsiran yang berbeda. Bukan menilai secara kritis tetapi membantu menarik kesimpulan yang benar, (q) Membesarkan siswa untuk memperkuat pernyataannya dengan alas an dan fakta, (r) Memuji siswa yang sedang bergiat dalam proses penemuan, misalnya seorang siswa yang bertanya kepada temannya atau guru tentang berbagai tingkat kesukaran dan siswa siswa yang mengidentifikasi hasil dari penyelidikannya sendiri, (s) membantu siswa menulis atau merumuskan prinsip, aturan ide, generalisasi atau pengertian yang menjadi pusat dari masalah semula dan yang telah ditemukan melalui strategi penemuan, (t) Mengecek apakah siswa menggunakan apa yang telah ditemukannya, misalnya teori atau teknik, dalam situasi berikutnya, yaitu situasi dimana siswa bebas menentukan pendekatannya.
Sedangkan langkah-langkah menurut Richard Scuhman yang dikutip oleh Suryosubroto (2002:199) adalah : (a) identifikasi kebutuhan siswa, (b) Seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian, konsep dan generalisasi yang akan dipelajari, (c) Seleksi bahan, dan problema serta tugas-tugas, (d) Membantu memperjelas problema yang akan dipelajari dan peranan masing-masing siswa, (e) Mempersiapkan setting kelas dan alat-alat yang diperlukan, (f) Mencek pemahaman siswa terhadap masalah yang akan dipecahkan dan tugas-tugas siswa, (g) Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan penemuan, (h) Membantu siswa dengan informasi, data, jika diperlukan oleh siswa, (i) memimpin analisis sendiri dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi proses, (j) Merangsang terjadinya interaksi antar siswa dengan siswa, (k) memuji dan membesarkan siswa yang bergiat dalam proses penemuan, (l) Membantu siswa merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi atas hasil penemuannya.
Metode discovery memiliki kebaikan-kebaikan seperti diungkapkan oleh Suryosubroto (2002:200) yaitu: (a) Dianggap membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan ketrampilan dan proses kognitif siswa, andaikata siswa itu dilibatkan terus dalam penemuan terpimpin. Kekuatan dari proses penemuan datang dari usaha untuk menemukan, jadi seseorang belajar bagaimana belajar itu, (b) Pengetahuan diperoleh dari strategi ini sangat pribadi sifatnya dan mungkin merupakan suatu pengetahuan yang sangat kukuh, dalam arti pendalaman dari pengertian retensi dan transfer, (c) Strategi penemuan membangkitkan gairah pada siswa, misalnya siswa merasakan jerih payah penyelidikannya, menemukan keberhasilan dan kadang-kadang kegagalan, (d) metode ini memberi kesempatan kepada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan kemampuannya sendiri, (e) metode ini menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara belajarnya sehingga ia lebih merasa terlibat dan bermotivasi sendiri untuk belajar, paling sedikit pada suatu proyek penemuan khusus, (f) Metode discovery dapat membantu memperkuat pribadi siswa dengan bertambahnya kepercayaan pada diri sendiri melalui proses-proses penemuan. Dapat memungkinkan siswa sanggup mengatasi kondisi yang mengecewakan, (g) Strategi ini berpusat pada anak, misalnya memberi kesempatan pada siswa dan guru berpartisispasi sebagai sesame dalam situasi penemuan yang jawaban nya belum diketahui sebelumnya, (h) Membantu perkembangan siswa menuju skeptisssisme yang sehat untuk menemukan kebenaran akhir dan mutlak.
Kelemahan metode discovery Suryosubroto (2002:2001) adalah: (a) Dipersyaratkan keharusan adanya persiapan mental untuk cara belajar ini. Misalnya siswa yang lamban mungkin bingung dalam usanya mengembangkan pikirannya jika berhadapan dengan hal-hal yang abstrak, atau menemukan saling ketergantungan antara pengertian dalam suatu subyek, atau dalam usahanya menyusun suatu hasil penemuan dalam bentuk tertulis. Siswa yang lebih pandai mungkin akan memonopoli penemuan dan akan menimbulkan frustasi pada siswa yang lain, (b) Metode ini kurang berhasil untuk mengajar kelas besar. Misalnya sebagian besar waktu dapat hilang karena membantu seorang siswa menemukan teori-teori, atau menemukan bagaimana ejaan dari bentuk kata-kata tertentu. (c) Harapan yang ditumpahkan pada strategi ini mungkin mengecewakan guru dan siswa yang sudahy biasa dengan perencanaan dan pengajaran secara tradisional, (d) Mengajar dengan penemuan mungkin akan dipandang sebagai terlalu mementingkan memperoleh pengertian dan kurang memperhatikan diperolehnya sikap dan ketrampilan. Sedangkan sikap dan ketrampilan diperlukan untuk memperoleh pengertian atau sebagai perkembangan emosional sosial secara keseluruhan, (e) dalam beberapa ilmu, fasilitas yang dibutuhkan untuk mencoba ide-ide, mungkin tidak ada, (f) Strategi ini mungkin tidak akan memberi kesempatan untuk berpikir kreatif, kalau pengertian-pengertian yang akan ditemukan telah diseleksi terlebih dahulu oleh guru, demikian pula proses-proses di bawah pembinaannya. Tidak semua pemecahan masalah menjamin penemuan yang penuh arti.
Metode Discovery menurut Rohani (2004:39) adalah metode yang berangkat dari suatu pandangan bahwa peserta didik sebagai subyek di samping sebagai obyek pembelajaran. Mereka memiliki kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki.
Proses pembelajaran harus dipandang sebagai suatu stimulus atau rangsangan yang dapat menantang peserta didik untuk merasa terlibat atau berpartisipasi dalam aktivitas pembelajaran. Peranan guru hanyalah sebagai fasilitator dan pembimbing atau pemimpin pengajaran yang demokratis, sehingga diharapkan peserta didik lebih banyak melakukan kegiatan sendiri atau dalam bentuk kelompok memecahkan masalah atas bimbingan guru.
Ada lima tahap yang harus ditempuh dalam metode discovery menurut Rohani(2004:39) yaitu: (a) Perumusan masalah untuk dipecahkan peserta didik, (b) Penetapan jawaban sementara atau pengajuan hipotesis, (c) Peserta didik mencari informasi , data, fakta, yang diperlukan untuk menjawab atau memecahkan masalah dan menguji hipotesis, (d) Menarik kesimpulan dari jawaban atau generalisasi, (e) Aplikasi kesimpulan atau generalisasidalam situasi baru.
Metode Discovery menurut Roestiyah (2001:20) adalah metode mengajar mempergunakan teknik penemuan. Metode discovery adalah proses mental dimana siswa mengasimilasi sesuatu konsep atau sesuatu prinsip. Proses mental tersebut misalnya mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya. Dalam teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental itu sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan instruksi.
Pada metode discovery, situasi belajar mengajar berpindah dari situasi teacher dominated learning menjadi situasi student dominated learning. Dengan pembelajaran menggunakan metode discovery, maka cara mengajar melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat dengan diskusi, seminar, membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri.
Penggunaan metode discovery ini guru berusaha untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar. Sehingga metode discovery menurut Roestiyah (2001:20) memiliki keunggulan sebagai berikut: (a) Teknik ini mampu membantu siswa untuk mengembangkan, memperbanyak kesiapan, serta panguasaan ketrampilan dalam proses kognitif/ pengenalan siswa, (b) Siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat sangat pribadi / individual sehingga dapat kokoh atau mendalam tertinggal dalam jiwa siswa tersebut, (c) Dapat meningkatkan kegairahan belajar para siswa.
Metode discovery menurut Mulyasa (2005:110) merupakan metode yang lebih menekankan pada pengalaman langsung. Pembelajaran dengan metode penemuan lebih mengutamakan proses daripada hasil belajar.
Cara mengajar dengan metode discovery menurut Mulyasa (2005:110) menempuh langkah-langkah sebagai berikut: (a) Adanya masalah yang akan dipecahkan, (b) Sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif peserta didik, (c) Konsep atau prinsip yang harus ditemukan oleh peserta didik melalui kegiatan tersebut perlu dikemukakan dan ditulis secara jelas, (d) harus tersedia alat dan bahan yang diperlukan, (e) Sususnan kelas diatur sedemian rupa sehingga memudahkan terlibatnya arus bebas pikiran peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar, (f) Guru harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengumpulkan data, (g) Guru harus memberikan jawaban dengan tepat dengan data serta informasi yang diperlukan peserta didik.
14. Metode Inquiry
Metode inquiry adalah metode yang mampu menggiring peserta didik untuk menyadari apa yang telah didapatkan selama belajar. Inquiry menempatkan peserta didik sebagai subyek belajar yang aktif (Mulyasa , 2003:234).
Kendatipun metode ini berpusat pada kegiatan peserta didik, namun guru tetap memegang peranan penting sebagai pembuat desain pengalaman belajar. Guru berkewajiban menggiring peserta didik untuk melakukan kegiatan. Kadang kala guru perlu memberikan penjelasan, melontarkan pertanyaan, memberikan komentar, dan saran kepada peserta didik. Guru berkewajiban memberikan kemudahan belajar melalui penciptaan iklim yang kondusif, dengan menggunakan fasilitas media dan materi pembelajaran yang bervariasi.
Inquiry pada dasarnya adalah cara menyadari apa yang telah dialami. Karena itu inquiry menuntut peserta didik berfikir. Metode ini melibatkan mereka dalam kegiatan intelektual. Metode ini menuntut peserta didik memproses pengalaman belajar menjadi suatu yang bermakna dalam kehidupan nyata. Dengan demikian , melalui metode ini peserta didik dibiasakan untuk produktif, analitis , dan kritis.
Langkah-langkah dalam proses inquiry adalah menyadarkan keingintahuan terhadap sesuatu, mempradugakan suatu jawaban, serta menarik kesimpulan dan membuat keputusan yang valid untuk menjawab permasalahan yang didukung oleh bukti-bukti. Berikutnya adalah menggunakan kesimpulan untuk menganalisis data yang baru (Mulyasa, 2005:235).
Strategi pelaksanaan inquiry adalah: (1) Guru memberikan penjelasan, instruksi atau pertanyaan terhadap materi yang akan diajarkan. (2) Memberikan tugas kepada peserta didik untuk menjawab pertanyaan, yang jawabannya bisa didapatkan pada proses pembelajaran yang dialami siswa. (3) Guru memberikan penjelasan terhadap persoalan-persoalan yang mungkin membingungkan peserta didik. (4) Resitasi untuk menanamkan fakta-fakta yang telah dipelajari sebelumnya. (5) Siswa merangkum dalam bentuk rumusan sebagai kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan (Mulyasa, 2005:236).
Metode inquiry menurut Roestiyah (2001:75) merupakan suatu teknik atau cara yang dipergunakan guru untuk mengajar di depan kelas, dimana guru membagi tugas meneliti suatu masalah ke kelas. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, dan masing-masing kelompok mendapat tugas tertentu yang harus dikerjakan, kemudian mereka mempelajari, meneliti, atau membahas tugasnya di dalam kelompok. Setelah hasil kerja mereka di dalam kelompok didiskusikan, kemudian dibuat laporan yang tersusun dengan baik. Akhirnya hasil laporan dilaporkan ke sidang pleno, dan terjadilah diskusi secara luas. Dari sidang pleno kesimpulan akan dirumuskan sebagai kelanjutan hasil kerja kelompok. Dan kesimpulan yang terakhir bila masih ada tindak lanjut yang harus dilaksanakan, hal itu perlu diperhatikan.
Guru menggunakan teknik bila mempunyai tujuan agar siswa terangsang oleh tugas, dan aktif mencari serta meneliti sendiri pemecahan masalah itu. Mencari sumber sendiri, dan mereka belajar bersama dalam kelompoknya. Diharapkan siswa juga mampu mengemukakan pendapatnya dan merumuskan kesimpulan nantinya. Juga mereka diharapkan dapat berdebat, menyanggah dan mempertahankan pendapatnya. Inquiry mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, seperti merumuskan masalah, merencanakan eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisa data, menarik kesimpulan. Pada metode inquiry dapat ditumbuhkan sikap obyektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka, dan sebagainya. Akhirnya dapat mencapai kesimpulan yang disetujui bersama. Bila siswa melakukan semua kegiatan di atas berarti siswa sedang melakukan inquiry.
Teknik inquiry ini memiliki keunggulan yaitu : (a) Dapat membentuk dan mengembangkan konsep dasar kepada siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar ide-ide dengan lebih baik. (b) Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru. (c) mendorong siswa untuk berfikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersifat jujur, obyektif, dan terbuka. (d) Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesanya sendiri. (e) Memberi kepuasan yang bersifat intrinsik. (f) Situasi pembelajaran lebih menggairahkan. (g) Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu. (h) Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri. (i) Menghindarkan diri dari cara belajar tradisional. (j) Dapat memberikan waktu kepada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.
Metode inquiry menurut Suryosubroto (2002:192) adalah perluasan proses discovery yang digunakan lebih mendalam. Artinya proses inqury mengandung proses-proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya merumuskan problema, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisa data, menarik kesimpulan, dan sebagainya.
Kesimpulannya, tidak ada satupun metode pengajaran dan penyampain materi ke anak didik yang sempurna. Buktinya, tiap-tiap metode memiliki celah dan kelemahan di sana-sini. Jadi, semuanya tergantung tenaga pendidik dalam mengoptimalisasikan kelebihan yang tersedia serta meminimalisir berbagai kelemahan yang ada pada tiap-tiap metode. Saya yakin, dengan adanya keserasian antara metode yang diterapkan dengan kemampuan yang dimiliki oleh tenaga pendidik jauh lebih ampuh dalam mencapai hasil optimal dalam proses belajar mengajar ketimbang "sibuk" menerapakan tradisi pengajaran lama yang kurang berbobot dan terkadang begitu monoton!!
Model Pembelajaran yang Menyenangkan
“Banyak model yang dapat diterapkan dalam mempelajari fisika, diantaranya dengan praktek, media TI, fenomena alam, gambar/charta dan lain-lain yang dapat digunakan untuk meningkatkan prestasi siswa”
Apa yang menyebabkan sulitnya belajar fisika? Siapa yang kesulitan? Kapan menghadapai kesulitan itu? Dimana letak kesulitan? Bagaimana mengatasi kesulitan tersebut?
Pada tahun ini pelajaran fisika akan masuk kedalam mata ujian yang di UN-kan oleh depdiknas. Mata pelajaran yang paling tidak disukai oleh sebagian besar siswa ini harus menghadapi tantangan besar untuk diketahui tingkat pencapaian yang dimiliki oleh siswa. Dari hasil wawancara dengan berbagai siswa di setiap tingkat sekolah, akan didapatkan bahwa kesulitan siswa terletak pada banyaknya rumus yang harus dihafal. Tetapi ada juga yang sulit dalam pemahaman materi dan soal, sehingga jika soal diubah dalam bentuk lain maka siswa tidak akan mampu mengerjakannya. Untuk itu guru harus menggunakan berbagai media yang ada sehingga siswa dapat memahami fisika dengan baik.
Oleh karena itu jauh-jauh hari sebelum siswa kita menghadapi “perang”, kita harus mempersiapkan pembelajaran yang baik untuk siswa di sekolah masing-masing. Ada pepatah dari seorang ahli “jika saya ingin menggunakan pedang dalam perang maka 80 �aya mengasah pedang dan 20 �enggunakannya”. Dari sini jelas bahwa kesiapan siswa dalam ujian dipengaruhi oleh persiapan yang matang sebelum kita melaksanakan ujian nasional, khususnya persiapan dalam pembelajarannya.
Cara yang dikembangkan oleh pendidik yang dalam hal ini adalah guru mungkin dapat digunakan dalam pembelajaran fisika yang baik dan menarik minat siswa adalah sebagai berikut.
1. Dengan menghubungkan fenomena alam
Cara ini dikembangkan dengan cara menghubungkan materi pelajaran dengan peristiwa yang terjadi sehari-hari. Sebagai contoh dalam menerangkan energi gelombang kepada siswa kita dapat menjelaskan bahwa bangunan yang terkena tsunami dapat roboh. Dalam menerangkan perpindahan kalor dapat dijelaskan dengan air yang tetap panas jika dimasukkan dalam termos. Dalam menerangkan angin darat dan angin laut dengan melihat kapan nelayan mulai melaut dan kapan kembali ke pantai.
Contoh-contoh diatas adalah sebagian kecil dari fenomena alam yang ada di sekitar lingkungan siswa yang berhubungan dengan materi fisika, dan masih banyak lagi fenomena alam lain. Karena fisika adalah ilmu yang berasal dari fenomena alam di sekitar kita, sehingga siswa dapat memikirkannya secara nyata dan tidak abstrak serta hanya tertuju pada rumusan saja. Jadi dapat memadukan antara fenomena dengan konsep fisika secara tepat.
2. Dengan menggunakan gambar
Cara dapat dikembangkan dengan cara mencari gambar yang ada di berbagai media dan lingkungan sekitar. Sebagai contoh dalam menerangkan gaya gesekan kita dapat mencari gambar macam-macam ban dari pirelli, michellin, bridgestone sampai swallow, GT radial, IRC dan lain-lain di internet, gambar yang didapatkan di internet atau berbagai media ditampilkan ke siswa, sehingga kita dapat menjelaskan kepada siswa tentang lukisan/guratan yang ada pada ban, teruma guratan yang ban racing dengan yang biasa. Atau menanyakan kepada siswa tentang perbedaan penggunaan ban di balapan F1 pada cuaca panas dengan hujan .
Selain itu dalam menjelaskan prinsip Bernoulli pada fluida bergerak, kita dapat mencari gambar macam-macam mobil di internet seperti ferrari. BMW, Mercedes sampai toyota, daihatsu, suzuki, honda dan lain-lain. Gambar ditampilkan kesiswa dan menjelaskan mobil mana yang larinya lebih cepat dan mobil mana yang harganya lebih mahal.
Cara ini dikembangkan oleh Bpk. Masno Ginting ketua HFI (Himpunan Fisika Indonesia) yang sengaja mengambil gambar yang ada di sekitar beliau dan ditampilkan kepada siswa, serta disertai pertanyaan-pertanyaan yang membuat siswa berfikir tentang gambar yang ditampilkan dan menggabungkannya dengan materi yang ada. Jadi dengan gambar tersebut diharapakan siswa mengetahui secara detail pemanfaatan teori fisika yang banyak diterapkan untuk kemajuan teknologi.
3. Dengan memakai software
Pada jaman sekarang ini fasilitas teknologi informasi semakin pesat sehingga penggunaan berbagai instrumen TI tersebut dapat diterapkan dalam pembelajaran fisika, software atau model pembelajaran yang dikembangkan dengan program animasi interaktif yang divisualkan kepada siswa maka siswa dapat memahami konsep yang dipelajari secara nyata.
Model pembelajaran yang dikembangkan dengan program flash dapat dicari dan di download dari berbagai situs di internet. Seperti e-dukasi.net, duniaguru.com, dan berbagai ikon untuk pdf. Di situs tersebut akan mempermudah guru dalam penyampaian materi pelajaran kepada siswa sehingga siswa dapat mengamati proses fisika secara faktual, karena selama ini siswa menganggap konsep fisika adalah khayal, dan ini yang membuat siswa sangat sulit menerima materi.
Penggunaan software yang juga menggunakan program flash adalah software pesona fisika. Software ini telah digunakan oleh banyak sekolah baik di luar maupun dalam negeri sendiri. Program ini juga menampilkan materi fisika yang ada untuk dihubungkan dengan animasi yang visual, audiovisual dan psikomotor. Terlibatnya AVP dalam pembelajaran akan membuat siswa tidak jenuh, malas, dan hal negatif lain. Sifat negatif ini akan berubah menjadi hal ang positif sehingga minat siswa untuk belajar semakin meningkat.
Tetapi walaupun penggunaan sofware ini bisa “berjalan sendiri” peran guru sebagai motivator dan stabilisator di kelas harus dijalankan dengan baik. Yaitu dengan cara memberikan penjelasan materi atau pokok bahasan yang tidak dapat diterima secara langsung oleh siswa.
4. Dengan percobaan
Model pembelajaran dengan percobaan dapat dikembangkan dengan alat-alat yang tersedia di laboratorium sekolah. Sekolah yang besar akan mempunyai fasilitas laboratorium yang lengkap sedangkan sekolah yang kecil maka fasilitas alat lab akan sedikit. Jadi cara ini akan sukses di sekolah besar dan akan menjadi basi jika di sekolah kecil.
Kalau kita terpaku pada alat lab yang sebenarnya maka pembelajaran yang berbasis praktek tidak pernah akan terlaksana. Kita dapat menyusun dan merancang alat-alat praktikum sendiri. Dengan cara mencari benda benda di sekitar kita yang masih berhubungan dengan materi fisika secara luas. Kemudian alat yang dibuat ditampilkan kepada siswa dan dianalisi proses fisika apa yang terjadi.
Seperti yang dikembangkan oleh Bpk. Chandra dari SMA N 10 Malang, yang berhasil membuat alat-alat peraga fisika dari bahan-bahan bekas yang didapat dari penjual barang bekas dan dirangkai menjadi suatu alat peraga fisika sederhana yang tentunya materi fisika terutama konsep fisika masuk dalam alat peraga tersebut.
Tentunya model pembelajaran diatas hanya sebagian kecil dari cara belajar yang mebuat siswa untuk menyenangi pembelajaran fisika . Selain itu kalau kita tidak mencoba model tersebut maka kita akan merasa kalah dengan siswa yang semakin hari membutuhkan refresing materi sehingga mampu menangkap apa yang disampaikan oleh semua guru mata pelajaran.
________________________________________
Student Centered Learning
Your Ad Here
Perubahan paradigma dalam proses pembelajaran yang tadinya berpusat pada guru (teacher centered) menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa (learner centered) diharapkan dapat mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam membangun pengetahuan, sikap dan perilaku.
Pembelajaran yang berpusat pada siswa adalah pembelajaran dengan menggunakan sepasang perspektif, yaitu fokus pada individu pembelajar (keturunan, pengalaman, perspektif, latar belakang, bakat, minat, kapasitas, dan kebutuhan) dengan fokus pada pembelajaran (pengetahuan yang paling baik tentang pembelajaran dan bagaimana hal itu timbul serta tentang praktek pengajaran yang paling efektif dalam meningkatkan tingkat motivasi, pembelajaran, dan prestasi bagi semua pembelajar. Fokus ganda ini selanjutnya memberikan informasi dan dorongan pengambilan keputusan pendidikan.
Melalui proses pembelajaran dengan keterlibatan aktif siswa ini berarti guru tidak mengambil hak anak untuk belajar dalam arti yang sesungguhnya.
Dalam proses pembelajaran yang berpusat pada siswa, maka siswa memperoleh kesempatan dan fasilitasi untuk membangun sendiri pengetahuannya sehingga mereka akan memperoleh pemahaman yang mendalam (deep learning), dan pada akhirnya dapat meningkatkan mutu kualitas siswa.
Tantangan bagi guru sebagai pendamping pembelajaran siswa, untuk dapat menerapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa perlu memahami tentang konsep, pola pikir, filosofi, komitmen metode, dan strategi pembelajaran. Untuk menunjang kompetensi guru dalam proses pembelajaran berpusat pada siswa maka diperlukan peningkatan pengetahuan, pemahaman, keahlian, dan ketrampilan guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran berpusat pada siswa.
Peran guru dalam pembelajar berpusat pada siswa bergeser dari semula menjadi pengajar (teacher) menjadi fasilitator. Fasilitator adalah orang yang memberikan fasilitasi. Dalam hal ini adalah memfasilitasi proses pembelajaran siswa. Guru menjadi mitra pembelajaran yang berfungsi sebagai pendamping (guide on the side) bagi siswa.
Bekal bagi para guru untuk dapat menjalankan perannya sebagai fasilitator salah satunya adalah memahami prinsip pembelajaran yang berpusat pada siswa. Ada lima faktor yang penting diperhatikan dalam prinsip psikologis pembelajaran berpusat pada siswa, yaitu:
1. Faktor Kognitif yang menggambarkan bagaimana siswa berpikir dan mengingat, serta penggambaran faktor-faktor yang terlibat dalam proses pembentukan makna informasi dan pengalaman;
2. Faktor Afektif yang menggambarakan bagaimana keyakinan, emosi, dan motivasi mempengaruhi cara seseorang menerima situasi pembelajaran, seberapa banyak orang belajar, dan usaha yang mereka lakukan untuk mengikuti pembelajaran. Kondisi emosi seseorang, keyakinannya tentang kompetensi pribadinya, harapannya terhadap kesuksesan, minat pribadi, dan tujuan belajar, semua itu mempengaruhi bagaimana motivasi siswa untuk belajar;
3. Faktor Perkembangan yang menggambarkan bahwa kondisi fisik, intelektual, emosional, dan sosial dipengaruhi oleh factor genetik yang unik dan faktor lingkungan;
4. Faktor Sosial yang menggambarkan bagaimana orang lain berperan dalam proses pembelajaran dan cara-cara orang belajar dalam kelompok. Prinsip ini mencerminkan bahwa dalam interaksi sosial, orang akan saling belajar dan dapat saling menolong melalui saling berbagi perspektif individual;
5. Faktor Perbedaan yang menggambarkan bagaimana latar belakang individu yang unik dan kapasitas masing-masing berpengaruh dalam pembelajaran. Prinsip ini membantu menjelaskan mengapa individu mempelajari sesuatu yang berbeda, waktu yang berbeda, dan dengan cara-cara yang berbeda pula.
PRINSIP PEMBELAJARAN (GAGNE, THE CONDITION OF LEARNING)
Perlunya menimbulkan minat dan perhatian siswa dengan mengemukakan sesuatu yang baru, aneh kontradiksi atau kompleks. Diharapkan siswa memiliki kepekaan indera untuk merespon dengan cepat stimulus yang diberikan. Ketika menarik perhatian siswa, pembimbing atau guru dapat memberikan gerakan isyarat atau merubah mimik muka dan suara tiba-tiba.
Contoh :
Mengenalkan hutan dengan cara mengajak siswa TKA seolah-olah kemping. Dengan mendekorasi ruangan kelas seperti hutan (tanaman dengan pot yang ditutup kain atau kertas, batu batuan, bunga, ranting dll). Hari sebelumnya, Guru meminta siswa membawa peralatan dan perlengkapan berkemah seperti makanan, pakaian, sepatu, tas ransel, senter, dll. Ketika kegiatan ini dilaksanakan biarkan siswa memperlihatkan kemampuan menolong dirinya sendiri serta bersosialisasi dengan temannya. Kenalkan hutan melalui temuan-temuan siswa/yang dilihat siswa di hutan (ruangan yang sudah disiapkan) dan cocokkan dengan buku tentang hutan yang dibawa guru. Ajak siswa mendengarkan bunyi-bunyian yang berkaitan, misalnya rekaman air dan suara binatang. Lampu dapat dimatikan seolah-olah malam hari di hutan. Untuk siswa TKB, dapat diajak langsung melihat hutan (misalnya ke hutan di Cibubur), memasang tenda sungguhan dan berkemah (sekitar 1 jam). Ajak pula siswa menonton film dokumenter tentang hutan.
Menyampaikan tujuan pembelajaran (informing learners of the objective)
Perlunya mengatakan pada siswa apa yang akan diperoleh atau dikuasai setelah mengikuti pelajaran, sehingga siswa dapat mengetahui kemampuan yang dikuasai setelah mengikuti pelajaran. Menyampaikan tujuan pembelajaran bisa menjadi motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
Contoh :
Kegiatan diawali dengan tanya jawab, untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa, dilanjutkan menyampaikan tujuan pembelajaran.
Sebelum kegiatan berkemah, guru mengadakan tanya jawab dengan siswa. Seperti mengatakan “Siapa yang pernah ke hutan?” “Seperti apa ya hutan itu?” “Apa saja isinya?” “Siapa yang mau ke hutan?” “Nanti teman-teman akan melihat hutan, juga mengetahui isi hutan!”
Mengingatkan konsep/prinsip yang telah dipelajari (Stimulating recall of prior learning)
Merangsang timbulnya ingatan tentang pengetahuan/keterampilan yang telah dipelajari yang menjadi prasyarat untuk mempelajari materi yang baru..
Contoh :
Di pertemuan berikutnya, untuk mengingat kembali pengetahuan tentang hutan, ajak siswa TKA mengklasifikasikan kepingan gambar yang disediakan. Menklasifikasikan gambar yang berkaitan dengan hutan dengan yang bukan hutan. Untuk siswa TKB kegiatan dapat berupa mengklasifikasikan kepingan gambar misalnya ke dalam kelompok binatang, tanaman, bunga. Atau dapat berupa klasifikasi benda hidup dan benda mati.
Menyampaikan materi pembelajaran (Presenting the stimulus)
Penyampaian materi pembelajaran dengan menggunakan contoh, penekanan baik secara verbal maupun “features” tertentu.
Contoh :
Guru menyampaikan materi “hutan” dengan bercerita menggunakan wayang hutan (dibuat sendiri, berupa gambar-gambar seperti : pohon, binatang, jamur, batu, matahari, air dll yang diberi tongkat). Guru juga mengajak siswa ikut memainkan wayang yang disediakan.
Memberikan bimbingan belajaran (Providing “Learning Guidance”)
Bimbingan diberikan melalui persyaratan-persyaratan yang membimbing proses/alur berpikir siswa, agar memiliki pemahaman yang lebih baik. Berikan contoh-contoh, gambar-gambar sehingga siswa siswa dapat lebih memahami materi yang disampaikan.
Contoh :
Kegiatan berupa membuat peta pikiran di atas sebuah kertas besar atau papan tulis dengan spidol warna warni. Guru menuliskan kata “hutan” di tengah papan. Ajukan pertanyaan misalnya “Kalau mendengar kata hutan, apa yang terlintas di pikiranmu?” Biarkan siswa menjawab dan tuliskan /gambarkan jawaban siswa. Tidak ada jawaban salah. Arahkan siswa ke pada tema kali ini. Misalnya ketika siswa menjawab “Harimau.” Guru dapat balik bertanya “Kenapa harimau?” siswa menjawab “Kan adanya di hutan.” dan seterusnya. Atau siswa lain mengatakan pendapatnya tentang hutan, siswa tersebut mengatakan “Takut” Guru dapat menayakan “Kenapa takut?” Misalnya siswa menjawab “Gelap” Guru dapat menanyakan “Kenapa gelap? Misalnya siswa menjawab “banyak pohon.” dan seterusnya. Dalam kegiatan ini, dapat juga menggunakan potongan-potongan gambar dari koran atau majalah atau clip-art dan lain-lain.
Memperoleh unjuk kerja siswa (eliciting performance)
Siswa diminta untuk menunjukkan apa yang telah dipelajari atau untuk menunjukkan penguasaannya terhadap materi.
Contoh :
Di pertemuan berikutnya, untuk siswa TKA kegiatan berupa membuat gambar hutan, dan guru dapat memancing siswa bercerita tentang hutan melalui gambar yang siswa buat. Untuk siswa TKB kegiatan dapat berupa membuat maket hutan. Siswa TKB dapat membuat “hutan” nya sendiri atau berkelompok dengan bahan-bahan yang disediakan (karton, kertas warna, gunting, lem, dll) dan guru dapat memancing siswa bercerita tentang hutan malalui maket yang siswa buat.
Memberikan balikan (Providing feedback)
Siswa diberi tahu sejauh mana ketepatan unjuk kerjanya (performance)
Contoh :
Berkaitan dengan poin sebelumnya yaitu memperoleh unjuk kerja siswa, guru dapat memberikan balikan atas hasil karya yang siswa buat. Misalnya, ketika siswa menunjukkan maket hutan buatannya, guru dapat mengajukan pujian atau mengajukan beberapa pertanyaan yang memancing siswa menceritakan hasil karyanya. Misalnya ketika siswa membuat gajah berkaki dua guru dapat bertanya “Ini apa?” “Menurutmu kaki gajah ada berapa?” jika siswa mengalami kesulitan, ajak siswa melihat buku, gambar atau foto gajah hingga siswa memahami.
Menilai hasil belajar (Assessing performance)
Memberikan tes atau tugas untuk menilai sejauh mana siswa menguasai tujuan pembelajaran
Contoh :
Minta siswa memilih sebuah kartu kata atau gambar berkaitan dengan hutan (siapkan kata atau gambar yang berbeda sejumlah siswa). Misalnya gambar pohon, batu, jamur dll. Ajak siswa bercerita di depan kelas sekitar 1-2 menit mengenai kata atau gambar tersebut. Guru dapat merekam cerita siswa tersebut dan memutarnya kembali setelah siswa selesai bercerita. Ajak siswa mendengarkan suaranya sendiri. Kegiatan ini juga mengajak siswa lainnya belajar menghargai temannya yang sedang bercerita.
Memperkuat retensi dan transfer belajar (Enhancing retention and transfer)
Merangsang kemampuan mengingat-ingat dan mentransfer dengan memberikan rangkuman, mengadakan review atau mempraktekkan apa yang telah terjadi. Diharapkan nantinya siswa dapat mentransfer atau menggunakan pengetahuan, keahlian dan strategi ketika menghadapi masalah dan situasi baru.
Contoh :
Ajak siswa membaca/melihat gambar/mendengar guru membacakan koran anak (misalnya dalam lembar anak Koran Kompas edisi Minggu, Desember 2007 tentang pemanasan global). Ajak siswa kembali mengingat tema hutan dengan mengajak siswa menanam biji dari buah yang biasa mereka makan dan jadikan ini proyek berkelanjutan (menanam dan merawat pohon yang nantinya tumbuh).
Sumber : - Gagne, Robert M. The Conditions of Learning and Theory of Instruction. Fourt Edition. Holt-Saunders International Edition.
Rujukan : http://martiningsih.blogspot.com/2007/12/macam-macam-metode-pembelajaran.html
http://bocahkecil.info/student-centered-learning.html
Sabtu, April 25, 2009
MENGURAI BENANG KUSUT DI........................
Mengurai benag kusut di………sekolahku….
Manusia selalu akan mencari yang terbaik bagi hidupnya dalam segala hal.Segala daya dan upaya dikerahkan sepenuhnya untuk meraihnya.Adakalanya tujuan itu tercapai , tapi tak jarang pula tujuan yang diharapkan tak tercapai melayang entah kemana.
Sebagai institusi pendidikan tentunya berharap bahwa output pendidikan yang dihasilkan memiliki kualitas yang optimal.Banyak hal yang sebenarnya perlu untuk dipersiapkan, diperbaiki, dan dioptimalisasikan.
Perencanaan yang tidak matang, perencanaan yang tergesa-gesa, perencanaan yang hanya untuk kepentingan sesaat, intinya perencanaan yang “elek” tentunya akan mempengaruhi proses dan hasil dari pendidikan itu sendiri.Banyak institusi sering berbuat secara spontan, misalnya dalam menghadapi Ujian Nasional.Pelaksanaan ujian tinggal beberapa minggu, tiba-tiba sejumlah kegiatan dipaksakan untuk dilaksanakan , mulai dari pemadatan materi hingga les tambahan.Siswa sebagai subyek pendidikan menjadi tidak siap dengan adanya “program dadakan” seperti itu.Alangkah baiknya bila kegiatan menghadapi Ujian Nasional ( misalnya ) dipersiapkan /direncanakan sejak awal/semester 1 .Bila perencanaan sudah dipersiapkan jauh-jauh hari maka instusi pendidikan tersebut dapat dengan seksama dan ffokus kegiatan sehingga siswa pun dapat mempersiapkan diri dengan baik pula.
Bila perencanaan sudah dipersiapkan dengan matang maka pelaksanaan dari rencana harus sesuai dengan konsisten.Sering dijumpai bahwa rencana tinggal rencana, pelaksanaannya sekehendak hati, bila ingin melaksanakan rencana, ya dilaksanakan bila tidak ingin melaksanakan, ya ditinggalkan. Misalnya , sudah direncanakan kegiatan “mengulas materi kelas X” ternyata tidak dilaksanakan, dengan berbagai alas an yang dibuat-buat.
Baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan seharusnya terjalin koordinasi yang baik antara siswa, guru dan kepala sekolah. Bila koordinasi tidak ada, maka dapat dipastikan akan mempengaruhi output yang akan dihasilkan. Yang lebih parah lagi bila komponen-komponen pendidikan mengambil sikap masa bodoh.Semua program akan sia-sia bila sikap seperti itu mendominasi dalam pendiikan. Idealnya siswa , guru dan kepala sekolah terjalin komunikasi dan koordinasi yang harmonis.Tentunya dalam satuan pendidikan seorang Kepala Sekolah memiliki peran yang paling besar karea ia sebagai pimpinan, yang seharusnya mampu merencanakan /bersama komite, melaksanakan,mengkoordinasi,meevaluasi dengan baik.
Peran siswa juga sangat mempengaruhi keberhasilan pendidikan . Penulis mengamati bahwa dalam pemilihan jurusan ketika kenaikan kelas XI.Dalam system pendidikan yang menganut system “remidi “sebenarnya tidak menggambarkan kemampuan akademik murni pada siswa.Hal tersebut mudah dipahami karena bila siswa tidak tuntas/tidak mencapai KKM maka diberi kesempatan untuk menuntaskannya.Maka nilai rapor yang dijadikan rujukan untuk penjurusan ( sebenarnya ) perlu untuk dicermati.Bila mengacu pada kemampuan akademik murni maka yang sebenarnya dapat memasuki jurusan IA/IPA tentunya terbatas.Siswa yang memiliki nilai dirapot yang tuntas karena remidi “seharusnya” mawas diri bahwa nilainya itu diperoleh melalui suatu proses perbaikan.Namun pada kenyataannya mereka tetap berkehendak untuk memilih jurusan IA yang sarat dengan ilmu itung-itungan. Kemampuan yang karena factor perbaikan ini akan teruji manakala ada UJIAN NASIONAL, maka kemampuan akademik yang sesungguhnya akan tampak dengan nilai UN yang diperoleh.Hal tersebut telah diamati oleh penulis beberapa tahun ini.Penulis menghimbau kepada siswa kelas X bila kelak akan mengambil jurusan pertimbangkanlan kemampuan akademik, jangan memaksakan diri, yang pada akhirnya ketika di kelas XI dan XII tidak terhambat oleh kemampuan akademik yang pas-pasan. Setelah selesai menempuh pendidikan SMU diharapkan dapat melanjutkan di Perguruan Tinggi. Para siswa jangan ngawatir bila memasuki Jurusan IPS, karena banyak pilihan prodi di perguruan tinggi.Oleh karena itu tidak bijaksana bila memilih jurusan di kelas XI dengan kemampuan akademik pas-pasan, lebih baik memilih jurusan dengan kemampuan akademik yang optimal.
Tentunya masih banyak hal lain yang belum tersentuh pada tulisan ini. Namun dengan sekelumit tulisan ini setidaknya dapat memberikan inspirasi bagi perbaikan system pendidikan.
Mohon maaf bila terdapat tulisan yang tidak bekenan. Salam untuk semua..eka.....
Manusia selalu akan mencari yang terbaik bagi hidupnya dalam segala hal.Segala daya dan upaya dikerahkan sepenuhnya untuk meraihnya.Adakalanya tujuan itu tercapai , tapi tak jarang pula tujuan yang diharapkan tak tercapai melayang entah kemana.
Sebagai institusi pendidikan tentunya berharap bahwa output pendidikan yang dihasilkan memiliki kualitas yang optimal.Banyak hal yang sebenarnya perlu untuk dipersiapkan, diperbaiki, dan dioptimalisasikan.
Perencanaan yang tidak matang, perencanaan yang tergesa-gesa, perencanaan yang hanya untuk kepentingan sesaat, intinya perencanaan yang “elek” tentunya akan mempengaruhi proses dan hasil dari pendidikan itu sendiri.Banyak institusi sering berbuat secara spontan, misalnya dalam menghadapi Ujian Nasional.Pelaksanaan ujian tinggal beberapa minggu, tiba-tiba sejumlah kegiatan dipaksakan untuk dilaksanakan , mulai dari pemadatan materi hingga les tambahan.Siswa sebagai subyek pendidikan menjadi tidak siap dengan adanya “program dadakan” seperti itu.Alangkah baiknya bila kegiatan menghadapi Ujian Nasional ( misalnya ) dipersiapkan /direncanakan sejak awal/semester 1 .Bila perencanaan sudah dipersiapkan jauh-jauh hari maka instusi pendidikan tersebut dapat dengan seksama dan ffokus kegiatan sehingga siswa pun dapat mempersiapkan diri dengan baik pula.
Bila perencanaan sudah dipersiapkan dengan matang maka pelaksanaan dari rencana harus sesuai dengan konsisten.Sering dijumpai bahwa rencana tinggal rencana, pelaksanaannya sekehendak hati, bila ingin melaksanakan rencana, ya dilaksanakan bila tidak ingin melaksanakan, ya ditinggalkan. Misalnya , sudah direncanakan kegiatan “mengulas materi kelas X” ternyata tidak dilaksanakan, dengan berbagai alas an yang dibuat-buat.
Baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan seharusnya terjalin koordinasi yang baik antara siswa, guru dan kepala sekolah. Bila koordinasi tidak ada, maka dapat dipastikan akan mempengaruhi output yang akan dihasilkan. Yang lebih parah lagi bila komponen-komponen pendidikan mengambil sikap masa bodoh.Semua program akan sia-sia bila sikap seperti itu mendominasi dalam pendiikan. Idealnya siswa , guru dan kepala sekolah terjalin komunikasi dan koordinasi yang harmonis.Tentunya dalam satuan pendidikan seorang Kepala Sekolah memiliki peran yang paling besar karea ia sebagai pimpinan, yang seharusnya mampu merencanakan /bersama komite, melaksanakan,mengkoordinasi,meevaluasi dengan baik.
Peran siswa juga sangat mempengaruhi keberhasilan pendidikan . Penulis mengamati bahwa dalam pemilihan jurusan ketika kenaikan kelas XI.Dalam system pendidikan yang menganut system “remidi “sebenarnya tidak menggambarkan kemampuan akademik murni pada siswa.Hal tersebut mudah dipahami karena bila siswa tidak tuntas/tidak mencapai KKM maka diberi kesempatan untuk menuntaskannya.Maka nilai rapor yang dijadikan rujukan untuk penjurusan ( sebenarnya ) perlu untuk dicermati.Bila mengacu pada kemampuan akademik murni maka yang sebenarnya dapat memasuki jurusan IA/IPA tentunya terbatas.Siswa yang memiliki nilai dirapot yang tuntas karena remidi “seharusnya” mawas diri bahwa nilainya itu diperoleh melalui suatu proses perbaikan.Namun pada kenyataannya mereka tetap berkehendak untuk memilih jurusan IA yang sarat dengan ilmu itung-itungan. Kemampuan yang karena factor perbaikan ini akan teruji manakala ada UJIAN NASIONAL, maka kemampuan akademik yang sesungguhnya akan tampak dengan nilai UN yang diperoleh.Hal tersebut telah diamati oleh penulis beberapa tahun ini.Penulis menghimbau kepada siswa kelas X bila kelak akan mengambil jurusan pertimbangkanlan kemampuan akademik, jangan memaksakan diri, yang pada akhirnya ketika di kelas XI dan XII tidak terhambat oleh kemampuan akademik yang pas-pasan. Setelah selesai menempuh pendidikan SMU diharapkan dapat melanjutkan di Perguruan Tinggi. Para siswa jangan ngawatir bila memasuki Jurusan IPS, karena banyak pilihan prodi di perguruan tinggi.Oleh karena itu tidak bijaksana bila memilih jurusan di kelas XI dengan kemampuan akademik pas-pasan, lebih baik memilih jurusan dengan kemampuan akademik yang optimal.
Tentunya masih banyak hal lain yang belum tersentuh pada tulisan ini. Namun dengan sekelumit tulisan ini setidaknya dapat memberikan inspirasi bagi perbaikan system pendidikan.
Mohon maaf bila terdapat tulisan yang tidak bekenan. Salam untuk semua..eka.....
Jumat, April 24, 2009
REFLEKSI UN SMA 2009
Pelaksanaan UN SMA 2009 telah berlalu beberapa waktu yang lalu.Walau tlah berlalu,namun meninggalkan berbagai cerita yang takkan telupakan.
Sebelum UN, para siswa menjadi sasaran dari berbagai pihak, orang tua menghaarapkan anaknya lulus dengan nilai yang memuaskan, pemerintah berharap dengan UN ini dapat diukur ketercapaian pendidikan secara nasional, bagi pihak sekolah, hasil UN merupakan tolok ukur bagi prestise dan prestasi sekolah.Oleh karena berbagai alas an itulah para siswa diperlakukan sedemikian rupa sehingga akan memberikan hasil sesuai dengan berbagai tuntutan di atas.
Coba kita lihat apa yang telah dilalui siswa untuk menghadapi UN 2009.Secara umum berbagai sekolah melakukan hal sbb:
1. Pemadatan materi.
2. Penambahan jam pelajaran tatap-muka.
3. Les sore hari.
4. Latihan Ujian Nasional/try out.
5. Pembahasan soal-soal ujian nasional tahun-tahun sebelumnya dan prediksinya.
6. Ada pula yang masih melakukan les pada bimbel.
7. Dll.
Dari pemantauan kami, para siswa mengalami kejenuhan yang begitu mendalam.Kalau memang hal-hal diatas dianggap penting maka seharusnya direncanakan secara matang sejak awal. Namun kenyataannya hal-hal tersebut diatas dilakukan pada bulan-bulan terakhir mendekati UN berlangsung. Pada diri siswa akan mengalami beban fisik dan mental.Bagi institusi pendidikan seharusnya hal ini perlu untuk dikaji lebih mendalam . Jangan sampai siswa menjadi korban dari kebijaksanaan pendidikan.
Menurut penulis, seharusnya UN jangan dijadikan penentu dominan bagi kelulusan siswa.Secara umum pihak penyelenggara pendidikan akan memberikan “kemudahan dalam ujian sekolah”.Dengan demikian hampir dipastikan kalau hasil UN tidak mencapai kriterian yang telah ditentukan maka ia divonis tidak lulus. Dan ironisnya nilai UN tidak berfungsi manakala siswa melanjutkan ke perguruan tinggi.Siswa harus mengikuti tes seleksi masuk perguruan tinggi. Oleh karena itu diharapkan kepada pembuat kebijakan , kalau memang UN dianggap masih perlu maka janganlah nilai UN menjadi penentu kelulusan siswa.
Dalam pelaksanaan UN ’09, kalau semua pihak mau jujur dan obyektif, pelaksanaan UN masih banyak terjadi ketidakjujuran.Aturan dalam pengawasan memang dibuat sedemikian rupa sehingga diharapkan dalam pelaksanaan UN dapat menunjukkan tingkat pencapaian kompetensi pada siswa.Dari beberapa kasus yang dijumpai, bagi guru yang mengawasi UN sesuai dengan aturan yang berlaku ( bahasa orang =ketat ) akan menghadapi berbagai masalah. Sehingga sering terdengan ditelinga “kalau ngawasi jangan ketat…..biarkan anak-anak dapat bekerjasama”.Kalau sistemnya seperti ini kedepan kita akan meninggalkan:
1. generasi yang lemah,
2. tidak memiliki daya saing dalam era globalisasi,
3. anak dibekali dengan menghalalkan berbagai cara dalam mencapai tujuan,
4. anak tidak memiliki keyakinan yang kuat pada diri sendiri dalam pengambilan keputusan
5. dan yang paling bahaya adalah anak didik tidak memiliki motivasi/semangat /minat belajar.Meraka akan menggantungkan diri pada orang lain.
6. Dan masih banyak dampak lainnya.
Kalau memang UN mau dijadikan ukuran keberhasilan pendidikan, ya, seharusnya dalam pelaksanaan UN harus benar-benar obyektif.Tanamkan pada diri siswa bahwa tidak lulus adalah kesuksesan yang tertunda, kalau sekarang tidak lulus masih ada kejar paket C dan dapat mengulang di tahun berikutnya.Bekali mereka dengan pemahaman konsep/materi pelejaran dengan optimal dan tumbuhkan sekap mental yang kuat dan sehat.Penulis mengusulkan : dalam pelaksanaan UN tahun-tahun berikutnya tiap-tiap ruang /kelas dipasang CCTV sehingga apa yang dilakukan oleh siswa dapat dipantau, atau melibatkan pihak aparat keamanan dalam pengawasan UN ( silakan sistemnya diatur).
Itulah sekelumit uneg-uneg yang ada pada penulis yang pada kesempatan ini ingin berbagi dengan pembaca.Penulis mohon maaf bila pada tulisan ini terdapat berbagai kata/kalimat yang tidak berkenan , ya, mohon dimaafkan.
Semoga tulisan ini memberikan wacana baru dalam UN-UN berikutnya.Semoga pendidikan di Indonesia akan semakin meningkat sehingga kita mampu untuk bersaing dengan Negara-negara lain.
Semoga para siswa dapat memperoleh hasil UN dengan memuaskan dan dapat melanjutkan ke Perguruan Tinggi.
Semoga kepada para pengambil kebijakan pendidikan dapat mengambil kebijakan pendidikan yang dapat menguntungkan semua pihak.
Salam bagi semua….dari penenulis….24 April 2009, pukul 16.52 waktu jawa-tengah.
Maturnuwun…………………
Sebelum UN, para siswa menjadi sasaran dari berbagai pihak, orang tua menghaarapkan anaknya lulus dengan nilai yang memuaskan, pemerintah berharap dengan UN ini dapat diukur ketercapaian pendidikan secara nasional, bagi pihak sekolah, hasil UN merupakan tolok ukur bagi prestise dan prestasi sekolah.Oleh karena berbagai alas an itulah para siswa diperlakukan sedemikian rupa sehingga akan memberikan hasil sesuai dengan berbagai tuntutan di atas.
Coba kita lihat apa yang telah dilalui siswa untuk menghadapi UN 2009.Secara umum berbagai sekolah melakukan hal sbb:
1. Pemadatan materi.
2. Penambahan jam pelajaran tatap-muka.
3. Les sore hari.
4. Latihan Ujian Nasional/try out.
5. Pembahasan soal-soal ujian nasional tahun-tahun sebelumnya dan prediksinya.
6. Ada pula yang masih melakukan les pada bimbel.
7. Dll.
Dari pemantauan kami, para siswa mengalami kejenuhan yang begitu mendalam.Kalau memang hal-hal diatas dianggap penting maka seharusnya direncanakan secara matang sejak awal. Namun kenyataannya hal-hal tersebut diatas dilakukan pada bulan-bulan terakhir mendekati UN berlangsung. Pada diri siswa akan mengalami beban fisik dan mental.Bagi institusi pendidikan seharusnya hal ini perlu untuk dikaji lebih mendalam . Jangan sampai siswa menjadi korban dari kebijaksanaan pendidikan.
Menurut penulis, seharusnya UN jangan dijadikan penentu dominan bagi kelulusan siswa.Secara umum pihak penyelenggara pendidikan akan memberikan “kemudahan dalam ujian sekolah”.Dengan demikian hampir dipastikan kalau hasil UN tidak mencapai kriterian yang telah ditentukan maka ia divonis tidak lulus. Dan ironisnya nilai UN tidak berfungsi manakala siswa melanjutkan ke perguruan tinggi.Siswa harus mengikuti tes seleksi masuk perguruan tinggi. Oleh karena itu diharapkan kepada pembuat kebijakan , kalau memang UN dianggap masih perlu maka janganlah nilai UN menjadi penentu kelulusan siswa.
Dalam pelaksanaan UN ’09, kalau semua pihak mau jujur dan obyektif, pelaksanaan UN masih banyak terjadi ketidakjujuran.Aturan dalam pengawasan memang dibuat sedemikian rupa sehingga diharapkan dalam pelaksanaan UN dapat menunjukkan tingkat pencapaian kompetensi pada siswa.Dari beberapa kasus yang dijumpai, bagi guru yang mengawasi UN sesuai dengan aturan yang berlaku ( bahasa orang =ketat ) akan menghadapi berbagai masalah. Sehingga sering terdengan ditelinga “kalau ngawasi jangan ketat…..biarkan anak-anak dapat bekerjasama”.Kalau sistemnya seperti ini kedepan kita akan meninggalkan:
1. generasi yang lemah,
2. tidak memiliki daya saing dalam era globalisasi,
3. anak dibekali dengan menghalalkan berbagai cara dalam mencapai tujuan,
4. anak tidak memiliki keyakinan yang kuat pada diri sendiri dalam pengambilan keputusan
5. dan yang paling bahaya adalah anak didik tidak memiliki motivasi/semangat /minat belajar.Meraka akan menggantungkan diri pada orang lain.
6. Dan masih banyak dampak lainnya.
Kalau memang UN mau dijadikan ukuran keberhasilan pendidikan, ya, seharusnya dalam pelaksanaan UN harus benar-benar obyektif.Tanamkan pada diri siswa bahwa tidak lulus adalah kesuksesan yang tertunda, kalau sekarang tidak lulus masih ada kejar paket C dan dapat mengulang di tahun berikutnya.Bekali mereka dengan pemahaman konsep/materi pelejaran dengan optimal dan tumbuhkan sekap mental yang kuat dan sehat.Penulis mengusulkan : dalam pelaksanaan UN tahun-tahun berikutnya tiap-tiap ruang /kelas dipasang CCTV sehingga apa yang dilakukan oleh siswa dapat dipantau, atau melibatkan pihak aparat keamanan dalam pengawasan UN ( silakan sistemnya diatur).
Itulah sekelumit uneg-uneg yang ada pada penulis yang pada kesempatan ini ingin berbagi dengan pembaca.Penulis mohon maaf bila pada tulisan ini terdapat berbagai kata/kalimat yang tidak berkenan , ya, mohon dimaafkan.
Semoga tulisan ini memberikan wacana baru dalam UN-UN berikutnya.Semoga pendidikan di Indonesia akan semakin meningkat sehingga kita mampu untuk bersaing dengan Negara-negara lain.
Semoga para siswa dapat memperoleh hasil UN dengan memuaskan dan dapat melanjutkan ke Perguruan Tinggi.
Semoga kepada para pengambil kebijakan pendidikan dapat mengambil kebijakan pendidikan yang dapat menguntungkan semua pihak.
Salam bagi semua….dari penenulis….24 April 2009, pukul 16.52 waktu jawa-tengah.
Maturnuwun…………………
Kamis, April 23, 2009
Biografi Kingsley Davis

Davis coined the terms, zero population growth and population explosion. The lifelong interest of sociologist Kingsley Davis was the comparative study of population structure and change. Davis was born in Tuxedo, Texas, August 20, 1908, and educated at the University of Texas (A.B. 1930, M.A. 1932) and Harvard University (Ph.D. 1936). He taught at Smith College, Northampton, Massachusetts (1934-1936), Clark University, Worcester (1936-1937), Penn State University, University Park (1937-1942), and Princeton University (1942-1949).
In 1945, he edited World Population in Transition, an important analytical tool, and in 1948, he published his first major work Human Society, a classic textbook that detailed his interest in the family structure. From this came an offer to teach in the Bureau of Applied Social Research, Columbia University, New York City (1949-1955). In 1955, Davis went to the University of California, Berkeley, and in 1977, he was named Distinguished Professor of Sociology, University of Southern California, Los Angeles. He died in Stanford, California, February 27, 1997.
Davis took the temperature of the American family for half a century. Overall, he held a generally gloomy view, feeling that marriage was weakened by the ease of contraception, divorce, and gender equality. "Interchangeable" marriage partners and voluntary marriage bonds caused a profound, permanent change in the marriage institution, Davis said, a change he felt was for the worse. He also saw the demise of industrial societies, which do not replace themselves in number or quality, whereas nonindustrial societies produce some 92 percent of the world's population.
Kingsley Davis gained prominence for his theories of demographic transition and zero population growth. In 1957, he predicted that the world population figure would climb to six billion by the year 2000. He was remarkably close; the target was reached in October 1999.
Sumber artikel :http://www.bookrags.com/biography/kingsley-davis-soc/
Biografi Joseph Slabey Roucek
Roucek adalah salah satu tokoh sosiologi dari Amerika Serikat yang bernama asli Joseph Slabey Roucek. Roucek lahir di Prague, Cekoslovakia pada tahun 1902 dan kemudian pindah ke Amerika Serikat pada tahun 1921 pada saat Perang Dunia I. Beliau pernah mengeyam pendidikan di Occidental, sebuah universitas di Californa dan di Historycal Society of Pennsylvania. Roucek menerima gelar sarjananya dari Universitas New York dan mengajar sosiologi di berbagai universitas Amerika, Kanada, Eropa, dan universitas lainnya
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Occidental College, kemudian Roucek mulai menjadi seorang sosiolog yang terkenal yang juga dibantu oleh Roland L. Warren, seorang pengarang dan penulis artikel yang banyak hasil karyanya, dan beliau juga pernah menjadi dosen di Universitas New York. Roucek juga seorang pendiri Delta Tau Kappa. Delta Tau Kappa adalah suatu ilmu sosial internasional masyarakat kehormatan. Beliau wafat pada tahun 1984.
Sumber artikel :http://anita09091968.wordpress.com
Roucek pernah mengungkapkan konsep pengendalian sosial yang pernah digunakan dalam sosiologi pada tahun 1894 oleh Small dan Vincent, yaitu bahwa pengendalian sosial adalah sebuah istilah berusaha untuk suatu proses baik yang terencana maupun tidak terencana, oleh individual yang diajar, dibujuk atau dipaksa untuk menyesuaikan diri terhadap pemakaian dan nilai hidup suatu kelompok yang dapat kita klasifikasikan sebagai proses sosialisasi.
Roucek menyebutkan bahwa cara-cara pemaksaan, reformitas, seperti desas-desus, mengolok-olok, mengucilkan dan menyakiti sangat banyak jumlah dan ragamnya dalam cara-cara dan teknik-teknik pengendalian sosial, seperti ideologi, bahasa, seni, rekreasi, organisasi rahasia, cara-cara tanpa kekerasan, kekerasan dan teror, pengendalian ekonomi, pererncanaan ekonomi dan sosial.
Warren pernah mengemukakan pengertian suatu komunitas yaitu penempatan populasi yang saling tergantung dalam kehidupan sehari-hari yang dapat mengadakan penyamarataan aktifitas lewat pendirian yang memberikan pelayanan yang baik dari hari ke hari yang diperlukan untuk kelancaran kegiatannya sebagai suatu kesatuan sosial dan ekonomi.
Roucek dan Warren lebih banyak menekankan sosiologi di bidang sosial yang diantaranya teorinya antara lain :
1. Lembaga sosial adalah pola aktifitas yang dibentuk untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia.
2. Status adalah seseorang dalam suatu kelompok sosial.
3. Status sosial adalah posisi seseorang dalam masyarakat.
4. Cara-cara pengendalian sosial dengan pemaksaan, reformitas, perilaku sangat banyak jumlah dan ragamnya. Maka cara-cara dan teknik pengendalian sosial yang diuraikan banyak seperti ideologi, bahasa, seni, kreasi, dan organisasi.
5. Tentang organisasi sosial dan partisipasi masyarakat.
Menurut Roucek dan Warren, sosiolog Amerika, ada tiga faktor mempengaruhi pembentukan kepribadian seorang individu, yaitu
1. Faktor biologis/fisik adalah suatu faktor yang timbul secara lahiriah di dalam diri seorang individu. Contoh, seseorang yang dilahirkan dengan cacat fisik atau penampilannya kurang ideal, pasti ia akan rendah diri, pemalu, sukar bergaul, dan sifat minder lainnya.
2. Faktor psikologi/kejiwaan adalah suatu factor yang membentuk suatu kepribadian yang ditunjang dari berbagai watak, seperti, pemarah, pemalu, agresif, dll. Contoh, temperamen pemarah jika dipaksa atau didesak untuk melakukan sasuatu yang tidak ia sukai, maka akan memuncak amarahnya.
3. Faktor sosiologi/lingkungan adalah suatu faktor yang membentuk kepribadian seorang individu sesuai dengan kenyataan yang nampak pada kehidupan kelompok atau lingkungan masyarakat sekitarnya tempat ia berpijak. Contoh, seseorang yang lahir di lingkungan yang penuh solidaritas, pasti orang tersebut akan mempunyai kepribadian solider atau sikap pengertian terhadap sesama.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Occidental College, kemudian Roucek mulai menjadi seorang sosiolog yang terkenal yang juga dibantu oleh Roland L. Warren, seorang pengarang dan penulis artikel yang banyak hasil karyanya, dan beliau juga pernah menjadi dosen di Universitas New York. Roucek juga seorang pendiri Delta Tau Kappa. Delta Tau Kappa adalah suatu ilmu sosial internasional masyarakat kehormatan. Beliau wafat pada tahun 1984.
Sumber artikel :http://anita09091968.wordpress.com
Roucek pernah mengungkapkan konsep pengendalian sosial yang pernah digunakan dalam sosiologi pada tahun 1894 oleh Small dan Vincent, yaitu bahwa pengendalian sosial adalah sebuah istilah berusaha untuk suatu proses baik yang terencana maupun tidak terencana, oleh individual yang diajar, dibujuk atau dipaksa untuk menyesuaikan diri terhadap pemakaian dan nilai hidup suatu kelompok yang dapat kita klasifikasikan sebagai proses sosialisasi.
Roucek menyebutkan bahwa cara-cara pemaksaan, reformitas, seperti desas-desus, mengolok-olok, mengucilkan dan menyakiti sangat banyak jumlah dan ragamnya dalam cara-cara dan teknik-teknik pengendalian sosial, seperti ideologi, bahasa, seni, rekreasi, organisasi rahasia, cara-cara tanpa kekerasan, kekerasan dan teror, pengendalian ekonomi, pererncanaan ekonomi dan sosial.
Warren pernah mengemukakan pengertian suatu komunitas yaitu penempatan populasi yang saling tergantung dalam kehidupan sehari-hari yang dapat mengadakan penyamarataan aktifitas lewat pendirian yang memberikan pelayanan yang baik dari hari ke hari yang diperlukan untuk kelancaran kegiatannya sebagai suatu kesatuan sosial dan ekonomi.
Roucek dan Warren lebih banyak menekankan sosiologi di bidang sosial yang diantaranya teorinya antara lain :
1. Lembaga sosial adalah pola aktifitas yang dibentuk untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia.
2. Status adalah seseorang dalam suatu kelompok sosial.
3. Status sosial adalah posisi seseorang dalam masyarakat.
4. Cara-cara pengendalian sosial dengan pemaksaan, reformitas, perilaku sangat banyak jumlah dan ragamnya. Maka cara-cara dan teknik pengendalian sosial yang diuraikan banyak seperti ideologi, bahasa, seni, kreasi, dan organisasi.
5. Tentang organisasi sosial dan partisipasi masyarakat.
Menurut Roucek dan Warren, sosiolog Amerika, ada tiga faktor mempengaruhi pembentukan kepribadian seorang individu, yaitu
1. Faktor biologis/fisik adalah suatu faktor yang timbul secara lahiriah di dalam diri seorang individu. Contoh, seseorang yang dilahirkan dengan cacat fisik atau penampilannya kurang ideal, pasti ia akan rendah diri, pemalu, sukar bergaul, dan sifat minder lainnya.
2. Faktor psikologi/kejiwaan adalah suatu factor yang membentuk suatu kepribadian yang ditunjang dari berbagai watak, seperti, pemarah, pemalu, agresif, dll. Contoh, temperamen pemarah jika dipaksa atau didesak untuk melakukan sasuatu yang tidak ia sukai, maka akan memuncak amarahnya.
3. Faktor sosiologi/lingkungan adalah suatu faktor yang membentuk kepribadian seorang individu sesuai dengan kenyataan yang nampak pada kehidupan kelompok atau lingkungan masyarakat sekitarnya tempat ia berpijak. Contoh, seseorang yang lahir di lingkungan yang penuh solidaritas, pasti orang tersebut akan mempunyai kepribadian solider atau sikap pengertian terhadap sesama.
Selasa, April 21, 2009
INFO MODUL PEMBELAJARAN
.jpg)
Gambar modul pembelajaran.
Beberapa waktu yang lalu saya menemukan sebuah Modul Pembelajaran (Pendidikan Jasamani dan olah raga ) tingkat SLTP kelas 1.b. Pada modul tersebut memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. Nama Modulnya SOLUSI
2. Penerbitnya CV. Pustaka Bengawan.
3. Alamat Penerbit : tidak dicantumkan.
4. Kota Penerbit : tidak dicantumkan.
5. Tahun Terbit : tidak dicantumkan.
6. Kode ISBN : tidak dicantumkan.
7. Tahun Pelajaran : tidak dicantumkan.
8. Terdapat suatu pertanyaan pilihan ganda pada halaman 59, pada nomor soal 6, tertulis seperti ini :
soal 6. Perubahan ukuran PENIS menjadi besar dan tegang dinamakan.........
a. ejakulasi
b. orgasme.
c. ereksi.
d. populasi.
apakah pertanyaan seperti itu sudah pantas/tepat disampaikan pada siswa SLTP kelas 7 ?
Kepada para pemerhati pendidikan dengan gambaran di atas,penulis ingin mengetahui tanggapan Anda dengan memberikan tanggapan pada kolom komentar atau ke email : burungterbang321@yahoo.com.
Penulis tidak memiliki maksud apapun.Penulis berharap modul/bahan ajar yang hendak digunakan dalam menunjang proses KBM hendaklah yang berkualitas, standar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Terima kasih atas partisipasinya.
Senin, April 20, 2009
Biografi Robert K. Merton

Encyclopedia of World Biography on Robert K. Merton
Robert K. Merton (born 1910) was a sociologist, educator, and internationally regarded academic statesman for sociology in contemporary research and social policy. He was also a leading interpreter of responsible functional analysis, of major social factors in scientific development, and of underlying and unanticipated strains in modern society. He is considered the founder of the sociology of science.
Born in Philadelphia on July 5, 1910, Robert Merton was educated at Temple University and received his doctorate from Harvard University in 1936. After being attracted to sociology by George E. Simpson, he studied with or was profoundly influenced by such thinkers as George Sarton, Pitirim Sorokin, Talcott Parsons, and L. J. Henderson. An instructorship at Harvard was followed by a professorship at Tulane University. From 1941 until his retirement in 1978 he was one of the key figures in the development of the Department of Sociology at Columbia University and in received national and international recognition for his contributions to sociological analysis.
Received Awards and Honors
As a consequence, Merton held a number of important positions, among them associate director of the Bureau of Applied Social Research at Columbia University, trustee of the Center for Advanced Study in the Behavioral Sciences at Stanford University (1952-1975), and president of the American Sociological Association (1957). He received several prestigious awards: one for distinguished scholarship in the humanities from the American Council of Learned Societies (1962); the Commonwealth Award for Distinguished Service to Sociology (1970); a MacArthur Prize Fellowship (1983); and the first Who's Who in America Achievement Award in the field of social science and social policy (1984). In 1985 Columbia University honored him with the Doctor of Letters degree.
Focused on Variety of Responses in Social Behavior
Though Merton studied a considerable range of social situations and social categories or groups, his basic and enduring contributions to sociological analysis consist of three complementary themes. First, human behavior can best be understood as embedded in social structures (groups, organizations, social classes, communities, nations) which simultaneously present opportunities and constraints to their members. Second, in varying degrees individuals confront differing clues and ambiguities in social demands, and thus humans develop mixed or ambivalent values and motives in their responses to others. Consequently, sociologists cannot focus on either formal, official patterns (rules, laws, etc.) or the special features of individuals to understand the course and variations in important social structures. Third, because of this pervasive complexity in social experience, normal or "routine" social behavior typically generates multiple consequences, some predictable and desirable, but others largely unanticipated and even contrary to the intentions of many persons. On the whole, then, Merton advocated careful and yet imaginative study of social phenomena and cautioned against superficial, "common sense" investigations and slavish dependence on any technique of probing human social participation.
More specifically, Merton combined study of actual (or historically significant) social organizations and groups with a focus on some limited but crucial and recurring problem in social structures--the so-called "middle range" problems and related explanations. One such focus was social specialization and related issues of differences in responsibilities, types and complexity of social contacts, and cultural interests. Merton distinguished "local" versus "cosmopolitan" types of leaders and showed how such differences underscored meaningful differences in influence. Similarly, Merton connected different levels of status with availability of different forms of personal influence ("reference groups") and linked the process of changing one's status--social mobility--with the selection of new reference groups ("anticipatory socialization") in the cases of soldiers, voters, and some nonconformists.
Studied Socialization Issues
Another cardinal issue was socialization, the process of acquiring and sustaining legitimate roles in given social organizations. In this respect Merton studied medical students, intellectuals, scientists, bureaucrats, and various professionals. He and his associates gave much attention to the conflict between ideal goals and personal status concerns, and even to the "normal" inconsistency between accepted norms in academic training and the realities of "on-the-job" training of scientists and professionals.
Concerned with Social Regulation and Deviation
Much of Merton's continuing sociological concern, however, centered on the twin sociological problems of social regulation and social deviation--each type of phenomenon necessarily conditioning the other. Merton inferentially demonstrated the basic fragility of such normal forms of social regulation as formal leadership, dominant cultural values, and professional standards. Furthermore, he pointed to such basic patterns as the variable consequences in behavior of imposing demanding objectives without providing suitable means; the fact that people often estimate their social opportunities and limitations not in objective terms, but in comparison with some desired level or with a self-selected "new" reference group ("relative deprivation"); and the special and virtually unshakable advantage of persons in favored social positions (the "Matthew Effect"), which dissipates attempts at equalization and implicitly undermines the legitimacy of those in positions of responsibility.
Demonstrated Intellectual Flexibility in Spoof
After the mid-1960s Merton immersed himself in the sociology of science, the study of major cultural and organizational factors in the work of scientists (principally in the physical and biological sciences). This involved careful analysis of the careers of Nobel laureates, the processes of competition among scientists, the connection between publication and scientific investigation, and the problematic nature of discovery and acceptance in the sacred realm of science. However, Merton also demonstrated his intellectual versatility in a delightful spoof of scholarship in his On the Shoulders of Giants. In retrospect, his entire intellectual career was notable for the flexibility with which he combined theoretical formulations, useful typologies and classifications, empirical investigations, and a concern for the practical implications of sociological work in modern society.
His major works include Social Theory and Social Structure (1949), and The Sociology of Science (1973). His collection of essays,On Social Structure and Science, was reprinted in 1996. In the introduction, the editor of the collection, Piotr Sztompka, wrote that Merton's work had "opened up fruitful areas of inquiry along lines that he and generations of others would pursue for decades."
Sumber artikel :http://www.bookrags.com/biography/
BIOGRAFI HERBERT SPENCER

HERBERT SPENCER
A. BIOGRAFI
Spencer lahir di Derby, Inggris, 27 April 1820. ia tak belajar seni Humaniora, tetapi di bidang teknik dan bidang utilitarian. Tahun 1837 ia mulai bekerja sebagai seorang insinyur sipil jalan kereta api, jabatan yang di pegangnya hingga tahun 1846.selama periode ini Spencer melanjutskan studi atas biaya sendiri dan mulai menerbitkan karya ilmiah dan politik.tahun 1848 spenser di tunjuk sebagai redaktur the economis dan gagasan intelektualnya mulai mantap. Tahun1850 ia menyelesaikan karya besar pertamanya, Social Statis. Selama menulis karya ini Spencer untuk pertama kalinya mengalami insomnia (tidak bisa tidur)dan dalam beberapa tahun berikutnya maslahmental dan fisiknya ini terus mengikat. Ia menderita gangguan syaraf sepanjang sisa hidupnya.
Tahun 1853 Spencer menerima harta warisan yang memungkinkan berhenti bekerja dan menjalani hidupnya sebagai seorang sarjana bebas. Ia tak pernah memperoleh gelar kesarjanaan Universitas atau memangku jabatan akademis. Karena ia mekin menutup diri, dan penyakit fisik dan mental semakin parah, produktifitasnya sebagai seorang sarjana makin menurun.akhirnya Spencer mencapai puncak kemasyuran tak hanya di inggris tetapi juga reputasi internesional. Richard Hofstadter mengatakan “selama tiga dekade sesudah perang saudara, orang tak akan mungkin aktif berkarya di bidang intelektual apapun tanpa menguasai(pemikiran)Spencer”(1959;33)salah seorang pendukungnya adlah industrialis terkenal Andrew Carnegie. Selaku pengikut, Carnegie pernah menyerati spencer menjelang akhir hanyatnya tahun 1903.
Guru yang tercinta…anda menemuiku tiap hari dalam pikiranku dan terus – menerus muncul pertanyaan “mengapa” – mengapa dia harus berbohong?mengapa dia harus pergi?....dunia tidak menyadari keistimewaan pikirannya…namun suatu hari nanti dunia akan menyadari ajarannya dan akan menghormati Spencer sebagai manusia besar (carnegie, di kutip dalaam pee, 1971;2)
Namun nasib Spencer ternyata tidak seperti itu.salah satu watak Spencer yang paling menarik yang menjadi penyebab kerusakan intelektualnya adalah keengganannya membaca buku orang lain. Dalam hal ini ia sama dengan tokoh sosioligi awal Auguste Comte yang mengalami gangguan otak. Mengenal keengganannya membaca buku orang lain, Spencer berkata: “aku telah menjadi pemikir sepanjang hidup, bukan menjadi pembaca, aku sependapat apa yang di katakan Hobbea jika membaca sebanyak yang di baca orang lain, aku akan mengetahui sedikityang mereka ketahui itu”(Wilstshire’1978;67).temannya pernah meminta pendapatnya tentang buku, dan “jawabannya adalah bila membaca buku ia melihat asumsi fundamental buku itu keliru dan karena itulah ia tak mau membaca buku”( Wilstshire’1978;67).Seorang pengarang menulis tentang “cara Spencer dalam menyerap peengetahuan melalui kekuatan kulitnya …….ia rupanya tak pernah membaca buku”( Wilstshire’1978;67).
Bila ia tak pernah membaca karya sarjana lain, lalu dari mana gagasan dan pemahaman Spencer berasal. Menurut Spencer, ide – idennya muncul tanpa sengaja dan secara intuitif dari pikirannya. Ia mengatakan bahwa gagasannya muncul “sedikit demi sedikit, secara rendah hati tanpa disengaja ataupun upaya keras”( Wilstshire’1978;66). Intuisi seperti itu di anggap Spencer jauh lebih efektif ketimbang uppaya berfikir dan belajar tekun:”pemecahan yang di capai melalui cara yang dilukiskan itu memungkinkan lebih benar ketimbang yang di capai dengan pemikiran”( Wilstshire’1978;66)
Spencer menderita karena enggan membaca secara serius karya orang lain. Sebenarnya, jika ia membaca karya orang lain, itu di lakukan hanya sekedar untuk menemukan pembenaran pendapatnya sendiri. Ia mengabaikan gagasan orang lain yang tak mengakui gagasannya. Demikianlah, Charles Darwin, pakar sezamannya. Berkata tentang Spencer “jika ia mau melatih dirinya untuk mengamati lebih banyak, dengan resiko kehilangan sebagian kekuatan berpikirnya sekalipun, tentulah ia telah menjadi seseorang yang hebat”(Wiltshire, 1978;70).pengabaiaan Spencer terhadap aturan ilmu pengetahuan menyebapkan ia membuat serentetan gagasan kasar dan pernyataan yang belum di buktikan kebenarannya mengenai evolusi kehidupan manusia. Karena itulah sosiologi abad 20 menplak gagasan Spencer dan menggantinya dengan riset ilmiah dan riset empiris yang tekun. Spencer meninggal 8 Desember 1903.
Sumber artikel : http://nataebiografiteacher.blogspot.com/
BIOGRAFI MAX WEBER

MAX WEBER
A. Biografi
Max Weber lahir di Erfurt, jerman, 21 April 1864, berasal dari keluarga kelas menengah. Perbedaan penting antara kedua orang tuanya berpengaruh besar terhadap orientasi intelektual dan perkembangan psikologi Weber.ayahnya seorang birokrat yang kedudukan politiknya relatif penting, dan menjadi bagian dari kekuasaan politik yang mapan dan sebagai akibatnya menjauhkan diri dari setia aktivitas dan idealisme yang memerlukan pengorbanan diri atau yang dapat menimbuklkan ancaman terhadap kedudukan dalam sistem. Lagipula sang ayah adalah seorang yang menyukai kesenangan duniawi dan dalam hal ini, juga dalam berbegai hal lainnya, ia bertolak belakang dengan istrinya. Ibu Max Weber adalah seorang Calvinis yang taat, wanita yang berupaya menjalani kehidupan prihatin (ascetic) tanpa kesenangan seperti yang sangat menjadi dambaan suaminya. Perhatiannya kebanyakan tertuju pada aspek kehidupan akhirat.ia terganggu aloh ketidak sempurnaan yang dianggap pertanda bahwa ia tidak di takdirkan akan mendapat keselamatan diakhirat. Perbedaan mendalam antara kedua pasangan ini menyebapkan ketegangan perkawinan mereka dan ketegangan ini berdampak bersar pada Weber.
Karena tak mungkin menyamakan diri terhadap pembawaan orang tunanya yang bertolak belakang itu. Weber kecil lalu berhadapan dengan suatu pilihan jelas (Mariane Weber,1975;62) mula- mula ia memilih orientasi hidup ayahnya, tetapi kemudian tertarik makin mendekati orientasi hidup ibunya. Apapun pilihan, ketegangan yang dihasilkan kebutuhan memilih antara pola yang berlawanan ini berpengaruh negatif terhadap kejiwaan Weber. Ketika berumur 18 tahun Weber minggat dari runah, belajar di Universitas Heildelberg,Weber telah menunjukkan kematangan intelektual, tetapi ketika masuk Universitas ia masih tergolong terbelakang dan pemelu dalam bergaul. Sifat ini cepat berubah ketika ia condong pada gaya hidup ayahnya dan bergabung dengan kelompok mahasiswa saingan kelompok mahasiswa ayaahnya dulu.secara sosial ia mulai berkembang, sebagai karena terbiasa minum bir dengan teman – temannya. Lagipula ia dengan bangga memamerkan parutan akibat perkelahiaan yang menjadi cap kelompok persaudaraan mahasiswa seperti itu,dalam hal ini Weber tak hanya menunjukkan jati dirinya sama dengan pandangan ayahnya tetai juga pada waktu itu memilih karir bidang hukum seperti ayahnya.
Setelah kuliah tiga semester weber meninggalkan Heildelberg untuk dinas militer dan tahun 1884 ia kembali ke berlin, kerumah orangtuanya, dan belajar di Universitas Berlin. Ia tetap disana hampir 8 tahun untuk menyelesaikan studi hingga mendapat gelar Ph,d,menjadi pengacara dan mulai mengejar di Universitas Berlin, dalamproses itu minat belajarnya bergeser ekonomi, sejarah, dan sosiologi yang menjadi sasaran perhatiaanya selama sisia hidupnya. Selama 8 tahun di Berlin, kehidupannya masih tergantung pada ayahnya, suatu keadaan yang segera tak disukainya. Pada waktu bersamaan ia beralih lebih mendekat nilai – nilai ibunya dan anti pati terhadap ayahnya meningkat (asceptic) dan memusatkan perhatian sepenuhnya untuk studi. Misalnya, selama satu semester sebagai mahasiswa, kebiasaan kerjanya di lukiskan sebagai berikut,”dia terus mempraktikkan disiplin kerja yang kaku, mengatur kehidupannya berdasakkan pembagiaan jam – jam kegiatan ruti sehari – hari kepada bagian – bagian secara tepat untuk berbagai hal. Berhemat menurut caranya, makan malam sendiri di kamarnya dengan 1 pot dagung sapi dan 4 buah telur goreng”(Mitzman, 1969/1971;48;mariane, Weber,1975;105 ), jadi, dengan mengikuti ibunya, weber mengalami hidup prihatin, raajin, bersemangat kerja tinggi – dalam istilsh dalam istilah modern disebut workaholic(gila kerja). Semangat kerja tinggi ini mengantarkan Weber menjadi Profesor ekonomi di universitas Heildelberg pada 1896. pada 1897, ketika karir akademis Weber berkembang, ayahnya meninggal setelah terjadi pertengkarang sengit antar mereka. Tak lama kemudian Weber menunjukkan gejala yang berpuncak pada gangguan saraf. Sering tidak bisa tidur atau bekerja, enam atau tujuh btahun berikutnya di lalaui dalam keadaan mendekati kehancuran total. Setelah masa kosong yang lama, sebagai kekuatan yang mulai pulih di tahun1904, ketika ia memberikan kuliah pertamanya (di Amerika) yang kemudian berlangsung selama 6,5 tahun, Weber mulai mampu aktif kembali dalam kehidupan akadenis. Tahun 1904 dan 1905 ia menerbitkan salah satu terbaiknya, the protestat Ethic and The Spirit of Capitalsm. Dalam karya ini weber banyak menghabiskan waktu untuk belajar agama meski secara pribadi ia tak religius.
Meski terus di anggap maslah oleh psikologis, setelah 1904 Weber mampu memproduksi beberapa karya yang sangat penting, ia menerbitkan hasil studi tentang agama dunia dalam perspekti sejarah dunia (misalnya, cina india dan agama yahudi kuno). Menjelang kematiannya (14 juni 1920)ia menulis karya yang sangat penting, economy and Society. Meski buku ini di terbitkan, dan telah di terjemahkan dalam beberapa bahasa, namun buku ini belum selesai. Selain menulis berjilid – jilid buku dalam periode ini, Weber pun melakukan kegiatan lain, ia membantu mendirikan German Sociological Sosiety di tahun 1910. rumahnya di jadikan pusat pertemuan pakar berbagai cabang ilmu termasuk sosiologi seperti George Simmel, Robert Michelis, dan saudara kandungnya, Alfred, mauopun filsuf dan kritikus sastra Georg Lukacs (Scaff, 1989;186-222).Weber pu aktif dalam aktifitas politik dan menulis tentang masalah politik di masa itu. Ada ketegangan dalam kehidupan Weber dan, yang lebih penting, dalam karyanya, dalam pemikiran birokratis seperti yang tercermin oleh ayahnya dan rasa keagamaan ibunya. Ketegangan yang tak terselesaikan ini meresapi karya Weber mauun kehidupan pribadinya.
Sumber artikel :http://nataebiografiteacher.blogspot.com/
INFO SALURAN TV ONLINE
Bagi Anda yang mencari saluran TV online silakan coba situs ini :
1.http://www.indoweb.tv/
2.http://televisindo2.blogspot.com
Selamat menikmati.
1.http://www.indoweb.tv/
2.http://televisindo2.blogspot.com
Selamat menikmati.
Minggu, April 19, 2009
BIOGRAFI PITIRIM A SOROKIN

Pitirim Alexandrovich Sorokin
(Russian: Питирим Александрович Сорокин) (January 21, 1889 – February 11, 1968) was a Russian-American sociologist. Academic and political activist in Russia, he immigrated from Russia to the United States in 1923. He founded the Department of Sociology at Harvard University. Like C. W. Mills, he was a vocal opponent of Talcott Parsons' theories. He is best known for his contributions to the social cycle theory.
•
Biography
Supporting himself as artisan and clerk, he was able to study at the University of St. Petersburg and to teach sociology. Sorokin was imprisoned three times by the czarist regime of Russian Empire; during the Russian Revolution he was a member of Alexander Kerensky's Russian Provisional Government. After the October Revolution he engaged in anti-Communist activities, for which he was condemned to death by the victorious Communist government; the sentence was commuted to exile. He emigrated in 1923 to the United States and was naturalized in 1930. Sorokin was professor of sociology at the University of Minnesota (1924–30) and at Harvard University (1930–55), where he founded the Department of Sociology
Works
His writings cover the breadth of sociology; his controversial theories of social process and of the historical typology of cultures are expounded in Social and Cultural Dynamics (4 vol., 1937–41; rev. and abridged ed. 1957) and many other works. He was also interested in social stratification, the history of sociological theory, and altruistic behavior.
Sorokin is author of books such as The crisis of our age and Power and morality, but his magnum opus is Social and Cultural Dynamics (1937-1941). His unorthodox theories contributed to the social cycle theory and inspired (or alienated) many sociologists.
In his Social and Cultural Dynamics he classified societies according to their 'cultural mentality', which can be ideational (reality is spiritual), sensate (reality is material), or idealistic (a synthesis of the two). He suggested that major civilizations evolve through these three in turn: ideational, idealistic, sensate. Each of these phases of cultural development not only seeks to describe the nature of reality, but also stipulates the nature of human needs and goals to be satisfied, the extent to which they should be satisfied, and the methods of satisfaction. Sorokin has interpreted the contemporary Western civilisation as a sensate civilisation dedicated to technological progress and prophesied its fall into decadence and the emergence of a new ideational or idealistic era.
Sorokin's papers are currently held by the University of Saskatchewan in Saskatoon, Canada where they are available for researchers and the public.
Artikel ini diambil dari Wikipedia.
BIOGRAFI AUGUSTE COMTE

Auguste Comte
Riwayat Hidup
Auguste Comte dilahirkan di Montpellier, Prancis tahun 1798, keluarganya beragama khatolik dan berdarah bangsawan. Dia mendapatkan pendidikan di Ecole Polytechnique di Prancis, namun tidak sempat menyelesaikan sekolahnya karena banyak ketidakpuasan didalam dirinya, dan sekaligus ia adalah mahasiswa yang keras kepala dan suka memberontak.
Comte akhirnya memulia karir profesinalnya dengan memberi les privat bidang matematika. Namun selain matematika ia juga tertarik memperhatikan masalah-masalah yang berkaitan dengan masyarakat terutama minat ini tumbuh dengan suburnya setelah ia berteman dengan Saint Simon yang mempekerjakan Comte sebagai sekretarisnya.
Kehidupan ekonominya pas-pasan, hampir dapat dipastikan hidupa dalam kemiskinan karena ia tidak pernah dibayar sebagaimana mestinya dalam memberikan les privat, dimana pada waktu itu biaya pendidikan di Prancis sangat mahal.
Pada tahun 1842 ia menyelesaikan karya besarnya yang berjudul Course of Positive Philosophy dalam 6 jilid, dan juga karya besar yang cukup terkenal adalah System of Positive Politics yang merupakan persembahan Comte bagi pujaan hatinya Clothilde de Vaux, yang begitu banyak mempengaruhi pemikiran Comte di karya besar keduanya itu. Dan dari karyanya yang satu ini ia mengusulkan adanya agama humanitas, yang sangat menekankan pentingnya sisi kemanusiaan dalam mencapai suatu masyarakat positifis.
Comte hidup pada masa akhir revolusi Prancis termasuk didalamnya serangkaian pergolakan yang tersu berkesinambungan sehingga Comte sangat menekankan arti pentingnya Keteraturan Sosial.
Pada tahun 1857 ia mengakhiri hidupnya dalam kesengsaraan dan kemiskinan namun demikian namanya tetap kita kenang hingga sekarang karena kegemilangan pikiran serta gagasannya.
Konteks Sosial dan Lingkungan Intelektual
Untuk memahami pemikiran Auguste Comte, kita harus mengkaitkan dia dengan faktor lingkungan kebudayaan dan lingkungan intelektual Perancis. Comte hidup pada masa revolusi Perancis yang telah menimbulkan perubahan yang sangat besar pada semua aspek kehidupan masyarakat Perancis. Revolusi ini telah melahirkan dua sikap yang saling berlawanan yaitu sikap optimis akan masa depan yang lebih baik dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan sebaliknya sikap konservatif atau skeptis terhadap perubahan yang menimbulkan anarki dan sikap individualis.
Lingkungan intelektual Perancis diwarnai oleh dua kelompok intelektual yaitu para peminat filsafat sejarah yang memberi bentuk pada gagasan tentang kemajuan dan para penulis yang lebih berminat kepada masalah-masalah penataan masyarakat. Para peminat filsafat sejarah menaruh perhatian besar pada pertanyaan-pertanyaan mengenai apakah sejarah memiliki tujuan, apakah dalam proses historis diungkapkan suatu rencana yang dapat diketahui berkat wahyu atau akal pikiran manusia, apakah sejarah memiliki makna atau hanyalah merupakan serangkaian kejadian yang kebetulan. Beberapa tokoh dapat disebut dari Fontenelle, Abbe de St Pierre, Bossuet, Voltaire, Turgot, dan Condorcet. Para peminat masalah-masalah penataan masyarakat menaruh perhatian pada masalah integrasi dan ketidaksamaan. Tokoh-tokohnya antara lain Montesquieu, Rousseau, De Bonald.
Dua tokoh filusuf sejarah yang mempengaruhi Comte adalah turgot dan Condorcet. Turgot merumuskan dua hukum yang berkaitan dengan kemajuan. Yang pertama berisi dalil bahwa setiap langkah berarti percepatan. Yang kedua adalah hukum tiga tahap perkembangan intelektual, pertama, orang pertama menemukan sebab-sebab adanya gejala-gejala dijelaskan dalam kegiatan mahluk-mahluk rohaniah, kedua, gejala-gejala dijelaskan dengan bantuan abstraksi dan pada tahap ketiga orang menggunakan matematika dan eksperimen. Menurut Condorcet, Studi sejarah mempunyai dua tujua, pertama, adanya keyakinan bahwa sejarah dapat diramalkan asal saja hukum-hukumnya dapat diketahui (yang diperlukan adalah Newton-nya Sejarah). Tujuan kedau adalah untuk menggantikan harapan masa depan yang ditentukan oleh wahyu dengan harapan masa depan yang bersifat sekuler. Menurut Condorcet ada tiga tahap perkembangan manusia yaitu membongkar perbedaan antar negara, perkembangan persamaan negara, dan ketiga kemajuan manusia sesungguhnya. Dan Condorcet juga mengemukakan bahwa belajar sejarah itu dapat melalui, pengalaman masa lalu, pengamatan pada kemajuan ilmu-ilmu pengetahuan peradaban manusia, da menganalisa kemajuan pemahaman manusia terhadap alamnya.
Dan penulis yang meminati masalah penataan masyarakat, Comte dipengaruhi oleh de Bonald, dimana ia mempunyai pandangan skeptis dalam memandang dampak yang ditimbulkan revolusi Perancis. Baginya revolusi nii hanya menghasilkan keadaan masyarakat yang anarkis dan individualis. De Bonald memakai pendekatan organis dalam melihat kesatuan masyarakat yang dipimpin oleh sekelompok orang yang diterangi semangat Gereja. Individu harus tunduk pada masyarakat.
Comte dan Positivisme
Comte adalah tokoh aliran positivisme yang paling terkenal. Kamu positivis percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dimana metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukum sosial kemasyarakatan. Aliran ini tentunya mendapat pengaruh dari kaum empiris dan mereka sangat optimis dengan kemajuan dari revolusi Perancis.
Pendiri filsafat positivis yang sesungguhnya adalah Henry de Saint Simon yang menjadi guru sekaligus teman diskusi Comte. Menurut Simon untuk memahami sejarah orang harus mencari hubungan sebab akibat, hukum-hukum yang menguasai proses perubahan. Mengikuti pandangan 3 tahap dari Turgot, Simon juga merumuskan 3 tahap perkembangan masyarakat yaitu tahap Teologis, (periode feodalisme), tahap metafisis (periode absolutisme dan tahap positif yang mendasari masyarakat industri.
Comte menuangkan gagasan positivisnya dalam bukunya the Course of Positivie Philosoph, yang merupakan sebuah ensiklopedi mengenai evolusi filosofis dari semua ilmu dan merupakan suatu pernyataan yang sistematis yang semuanya itu tewujud dalam tahap akhir perkembangan. Perkembangan ini diletakkan dalam hubungan statika dan dinamika, dimana statika yang dimaksud adalah kaitan organis antara gejala-gejala ( diinspirasi dari de Bonald), sedangkan dinamika adalah urutan gejala-gejala (diinspirasi dari filsafat sehjarah Condorcet).
Bagi Comte untuk menciptakan masyarakat yang adil, diperlukan metode positif yang kepastiannya tidak dapat digugat. Metode positif ini mempunyai 4 ciri, yaitu :
1. Metode ini diarahkan pada fakta-fakta
2. Metode ini diarahkan pada perbaikan terus meneurs dari syarat-syarat hidup
3. Metode ini berusaha ke arah kepastian
4. Metode ini berusaha ke arah kecermatan.
Metode positif juga mempunyai sarana-sarana bantu yaitu pengamatan, perbandingan, eksperimen dan metode historis. Tiga yang pertama itu biasa dilakukan dalam ilmu-ilmu alam, tetapi metode historis khusus berlaku bagi masyarakat yaitu untuk mengungkapkan hukum-hukum yang menguasai perkambangan gagasan-gagasan.
Hukum Tiga Tahap Auguste Comte
Comte termasuk pemikir yang digolongkan dalam Positivisme yang memegang teguh bahwa strategi pembaharuan termasuk dalam masyarakat itu dipercaya dapat dilakukan berdasarkan hukum alam. Masyarakat positivus percaya bahwa hukum-hukum alam yang mengendalikan manusia dan gejala sosial da[at digunakan sebagai dasar untuk mengadakan pembaharuan-pembaharuan sosial dan politik untuk menyelaraskan institusi-institusi masyarakat dengan hukum-hukum itu.
Comte juga melihat bahwa masyarakat sebagai suatu keseluruhan organisk yang kenyataannya lebih dari sekedar jumlah bagian-bagian yang saling tergantung. Dan untuk mengerti kenyataan ini harus dilakukan suatu metode penelitian empiris, yang dapat meyakinkan kita bahwa masyarakat merupakan suatu bagian dari alam seperti halnya gejala fisik.
Untuk itu Comte mengajukan 3 metode penelitian empiris yang biasa juga digunakan oleh bidang-bidang fisika dan biologi, yaitu pengamatan, dimana dalam metode ini [eneliti mengadakan suatu pengamatan fakta dan mencatatnya dan tentunya tidak semua fakta dicatat, hanya yang dianggap penting saja. Metode kedua yaitu Eksperimen, metode ini bisa dilakukans ecara terlibat atau pun tidak dan metode ini memang sulit untuk dilakukan. Metode ketiga yaitu Perbandingan, tentunya metode ini memperbandingkan satu keadaan dengan keadaan yang lainnya.
Dengan menggunakan metode-metode diatas Comte berusaha merumuskan perkembangan masyarakat yang bersifat evolusioner menjadi 3 kelompok yaitu, pertama, Tahap Teologis, merupakan periode paling lama dalam sejarah manusia, dan dalam periode ini dibagi lagi ke dalam 3 subperiode, yaitu Fetisisme, yaitu bentuk pikiran yang dominan dalam masyarakat primitif, meliputi kepercayaan bahwa semua benda memiliki kelengkapan kekuatan hidupnya sendiri. Politheisme, muncul adanya anggapan bahwa ada kekuatan-kekuatan yang mengatur kehidupannya atau gejala alam. Monotheisme, yaitu kepercayaan dewa mulai digantikan dengan yang tunggal, dan puncaknya ditunjukkan adanya Khatolisisme.
Kedua, Tahap Metafisik merupakan tahap transisi antara tahap teologis ke tahap positif. Tahap ini ditandai oleh satu kepercayaan akan hukum-hukum alam yang asasi yang dapat ditemukan dalam akal budi. Ketiga, Tahap Positif ditandai oleh kepercayaan akan data empiris sebagai sumber pengetahuan terakhir, tetapi sekali lagi pengetahuan itu sifatnya sementara dan tidak mutlak, disini menunjukkan bahwa semangat positivisme yang selalu terbuka secara terus menerus terhadap data baru yang terus mengalami pembaharuan dan menunjukkan dinamika yang tinggi. Analisa rasional mengenai data empiris akhirnya akan memungkinkan manusia untuk memperoleh hukum-hukum yang bersifat uniformitas.
Comte mengatakan bahwa disetiap tahapan tentunya akan selalu terjadi suatu konsensus yang mengarah pada keteraturan sosial, dimana dalam konsensus itu terjadi suatu kesepakatan pandangan dan kepercayaan bersama, dengan kata lain sutau masyarakat dikatakan telah melampaui suatu tahap perkembangan diatas apabila seluruh anggotanya telah melakukan hal yang sama sesuai dengan kesepakatan yang ada, ada suatu kekuatan yang dominan yang menguasai masyarakat yang mengarahkan masyarakat untuk melakukan konsensus demi tercapainya suatu keteraturan sosial.
Pada tahap teologis, keluarga merupakan satuan sosial yang dominan, dalam tahap metafisik kekuatan negara-bangsa (yang memunculkan rasa nasionalisme/ kebangsaan) menjadi suatu organisasi yang dominan. Dalam tahap positif muncul keteraturan sosial ditandai dengan munculnya masyarakat industri dimana yang dipentingkan disini adalah sisi kemanusiaan. (Pada kesempatan lain Comte mengusulkan adanya Agama Humanitas untuk menjamin terwujudnya suatu keteraturan sosial dalam masyarakat positif ini).
Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sifat dasar dari suatu organisasi sosial suatu masyarakat sangat tergantung pada pola-pola berfikir yang dominan serta gaya intelektual masyarakat itu. Dalam perspektif Comte, struktur sosial sangat mencerminkan epistemologi yang dominan, dan Comte percaya bahwa begitu intelektual dan pengetahuan kita tumbuh maka masyarakat secara otomatis akan ikut bertumbuh pula.
Perkembangan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan dan perkembangan yang lainnya selalu mengikuti hukum alam yang empiris sifatnya dan Comte merumuskan ke dalam 3 tahapan yaitu tahap Teologis, Metafisik dan Positif. Dimana dalam tahap teologis dimana pengetahuan absolut mengandaikan bahwa semua gejala dihasilkan dari tindakan langsung dari hal-hal supranatural. Tahap metafisik mulai ada perubahan bukan kekuatan suoranatural yang menentukan tetapi kekuatan abstrak, hal yang nyata melekat pada semua benda. Dan fase positif, sudah meninggalkan apa-apa yang dipikirkan dalam dua tahap sebelumnya dan lebih memusatkan perhatiannya pada hukum-hukum alam.
Jika ditilik dari penjelasan diatas maka bentuk dari perkembnagan sejarah Auguste Comte sulit untuk dipastikan apak mengikuti alur linier atau mengikuti alur spiral tetapi yang jelas Comte tidak terlalu murni menggunakan kedau alur tersebut, yang pasti ia mengarah pada progresifitas dimana masyarakat positif merupakan cita-cita akhirnya yang sebelum nya harus melalui 2 tahapan dibawahnya, yaitu tahap Teologis dan Metafisik
Artikel ini diambil dari : http://staff.blog.ui.edu/
INFO PREDIKSI SOAL UN 2009
Bagi Anda yang mencari prediksi soal-soal UN Baik tingkat SMA , SMP, maupun SD ( DILENGKAPI DENGAN KUNCI JAWABAN )
silakan berkunjung ke situs : http://soal-unas.blogspot.com/
Selamat mencoba semoga berhasil.salam dari eka
silakan berkunjung ke situs : http://soal-unas.blogspot.com/
Selamat mencoba semoga berhasil.salam dari eka
INFO MATEMATIKA
Bagi Kalian yang mencari pembahasan soal-soal MATEMATIKA
dapat berkunjung ke situs : http://mtkasma.blogspot.com/
selamat mencoba semoga berhasil.
dapat berkunjung ke situs : http://mtkasma.blogspot.com/
selamat mencoba semoga berhasil.
Jumat, April 17, 2009
David Émile Durkheim

David Émile Durkheim (15 April 1858 - 15 November 1917) dikenal sebagai salah satu pencetus sosiologi modern. Ia mendirikan fakultas sosiologi pertama di sebuah universitas Eropa pada 1895, dan menerbitkan salah satu jurnal pertama yang diabdikan kepada ilmu sosial, L'Année Sociologique pada 1896.
Biografi
Durkheim dilahirkan di Épinal, Prancis, yang terletak di Lorraine. Ia berasal dari keluarga Yahudi Prancis yang saleh - ayah dan kakeknya adalah Rabi. Hidup Durkheim sendiri sama sekali sekular. Malah kebanyakan dari karyanya dimaksudkan untuk membuktikan bahwa fenomena keagamaan berasal dari faktor-faktor sosial dan bukan ilahi. Namun demikian, latar belakang Yahudinya membentuk sosiologinya - banyak mahasiswa dan rekan kerjanya adalah sesama Yahudi, dan seringkali masih berhubungan darah dengannya.
Durkheim adalah mahasiswa yang cepat matang. Ia masuk ke École Normale Supérieure pada 1879. Angkatannya adalah salah satu yang paling cemerlang pada abad ke-19 dan banyak teman sekelasnya, seperti Jean Jaurès dan Henri Bergson kemudian menjadi tokoh besar dalam kehidupan intelektual Prancis. Di ENS Durkheim belajar di bawah Fustel de Coulanges, seorang pakar ilmu klasik, yang berpandangan ilmiah sosial. Pada saat yang sama, ia membaca karya-karya Auguste Comte dan Herbert Spencer. Jadi, Durkheim tertarik dengan pendekatan ilmiah terhadap masyarakat sejak awal kariernya. Ini adalah konflik pertama dari banyak konflik lainnya dengan sistem akademik Prancis, yang tidak mempunyai kurikulum ilmu sosial pada saat itu. Durkheim merasa ilmu-ilmu kemanusiaan tidak menarik. Ia lulus dengan peringkat kedua terakhir dalam angkatannya ketika ia menempuh ujian agrégation – syarat untuk posisi mengajar dalam pengajaran umum – dalam ilmu filsafat pada 1882.
Minat Durkheim dalam fenomena sosial juga didorong oleh politik. Kekalahan Prancis dalam Perang Prancis-Prusia telah memberikan pukulan terhadap pemerintahan republikan yang sekular. Banyak orang menganggap pendekatan Katolik, dan sangat nasionalistik sebagai jalan satu-satunya untuk menghidupkan kembali kekuasaan Prancis yang memudar di daratan Eropa. Durkheim, seorang Yahudi dan sosialis, berada dalam posisi minoritas secara politik, suatu situasi yang membakarnya secara politik. Peristiwa Dreyfus pada 1894 hanya memperkuat sikapnya sebagai seorang aktivis.
Seseorang yang berpandangan seperti Durkheim tidak mungkin memperoleh pengangkatan akademik yang penting di Paris, dan karena itu setelah belajar sosiologi selama setahun di Jerman, ia pergi ke Bordeaux pada 1887, yang saat itu baru saja membuka pusat pendidikan guru yang pertama di Prancis. Di sana ia mengajar pedagogi dan ilmu-ilmu sosial (suatu posisi baru di Prancis). Dari posisi ini Durkheim memperbarui sistem sekolah Prancis dan memperkenalkan studi ilmu-ilmu sosial dalam kurikulumnya. Kembali, kecenderungannya untuk mereduksi moralitas dan agama ke dalam fakta sosial semata-mata membuat ia banyak dikritik.
Tahun 1890-an adalah masa kreatif Durkheim. Pada 1893 ia menerbitkan “Pembagian Kerja dalam Masyarakat”, pernyataan dasariahnya tentang hakikat masyarakat manusia dan perkembangannya. Pada 1895 ia menerbitkan “Aturan-aturan Metode Sosiologis”, sebuah manifesto yang menyatakan apakah sosiologi itu dan bagaimana ia harus dilakukan. Ia pun mendirikan Jurusan Sosiologi pertama di Eropa di Universitas Bourdeaux. Pada 1896 ia menerbitkan jurnal L'Année Sociologique untuk menerbitkan dan mempublikasikan tulisan-tulisan dari kelompok yang kian bertambah dari mahasiswa dan rekan (ini adalah sebutan yang digunakan untuk kelompok mahasiswa yang mengembangkan program sosiologinya). Dan akhirnya, pada 1897, ia menerbitkan “Bunuh Diri”, sebuah studi kasus yang memberikan contoh tentang bagaimana bentuk sebuah monograf sosiologi.
Pada 1902 Durkheim akhirnya mencapai tujuannya untuk memperoleh kedudukan terhormat di Paris ketika ia menjadi profesor di Sorbonne. Karena universitas-universitas Prancis secara teknis adalah lembaga-lembaga untuk mendidik guru-guru untuk sekolah menengah, posisi ini memberikan Durkheim pengaruh yang cukup besar – kuliah-kuliahnya wajib diambil oleh seluruh mahasiswa. Apapun pendapat orang, pada masa setelah Peristiwa Dreyfus, untuk mendapatkan pengangkatan politik, Durkheim memperkuat kekuasaan kelembagaannya pada 1912 ketika ia secara permanen diberikan kursi dan mengubah namanya menjadi kursi pendidikan dan sosiologi. Pada tahun itu pula ia menerbitkan karya besarnya yang terakhir “Bentuk-bentuk Elementer dari Kehidupan Keagamaan”.
Perang Dunia I mengakibatkan pengaruh yang tragis terhadap hidup Durkheim. Pandangan kiri Durkheim selalu patriotik dan bukan internasionalis – ia mengusahakan bentuk kehidupan Prancis yang sekular, rasional. Tetapi datangnya perang dan propaganda nasionalis yang tidak terhindari yang muncul sesudah itu membuatnya sulit untuk mempertahankan posisinya. Sementara Durkheim giat mendukung negarainya dalam perang, rasa enggannya untuk tunduk kepada semangat nasionalis yang sederhana (ditambah dengan latar belakang Yahudinya) membuat ia sasaran yang wajar dari golongan kanan Prancis yang kini berkembang. Yang lebih parah lagi, generasi mahasiswa yang telah dididik Durkheim kini dikenai wajib militer, dan banyak dari mereka yang tewas ketika Prancis bertahan mati-matian. Akhirnya, René, anak laki-laki Durkheim sendiri tewas dalam perang – sebuah pukulan mental yang tidak pernah teratasi oleh Durkheim. Selain sangat terpukul emosinya, Durkheim juga terlalu lelah bekerja, sehingga akhirnya ia terkena serangan lumpuh dan meninggal pada 1917.
[sunting] Teori dan gagasan
Perhatian Durkheim yang utama adalah bagaimana masyarakat dapat mempertahankan integritas dan koherensinya di masa modern, ketika hal-hal seperti latar belakang keagamaan dan etnik bersama tidak ada lagi. Untuk mempelajari kehidupan sosial di kalangan masyarakat modern, Durkheim berusaha menciptakan salah satu pendekatan ilmiah pertama terhadap fenomena sosial. Bersama Herbert Spencer Durkheim adalah salah satu orang pertama yang menjelaskan keberadaan dan sifat berbagai bagian dari masyarakat dengan mengacu kepada fungsi yang mereka lakukan dalam mempertahankan kesehatan dan keseimbangan masyarakat – suatu posisi yang kelak dikenal sebagai fungsionalisme.
Durkheim juga menekankan bahwa masyarakat lebih daripada sekadar jumlah dari seluruh bagiannya. Jadi berbeda dengan rekan sezamannya, Max Weber, ia memusatkan perhatian bukan kepada apa yang memotivasi tindakan-tindakan dari setiap pribadi (individualisme metodologis), melainkan lebih kepada penelitian terhadap "fakta-fakta sosial", istilah yang diciptakannya untuk menggambarkan fenomena yang ada dengan sendirinya dan yang tidak terikat kepada tindakan individu. Ia berpendapat bahwa fakta sosial mempunyai keberadaan yang independen yang lebih besar dan lebih objektif daripada tindakan-tindakan individu yang membentuk masyarakat dan hanya dapat dijelaskan melalui fakta-fakta sosial lainnya daripada, misalnya, melalui adaptasi masyarakat terhadap iklim atau situasi ekologis tertentu.
Dalam bukunya “Pembagian Kerja dalam Masyarakat” (1893), Durkheim meneliti bagaimana tatanan sosial dipertahankan dalam berbagai bentuk masyarakat. Ia memusatkan perhatian pada pembagian kerja, dan meneliti bagaimana hal itu berbeda dalam masyarakat tradisional dan masyarakat modern[1]. Para penulis sebelum dia seperti Herbert Spencer dan Ferdinand Toennies berpendapat bahwa masyarakat berevolusi mirip dengan organisme hidup, bergerak dari sebuah keadaan yang sederhana kepada yang lebih kompleks yang mirip dengan cara kerja mesin-mesin yang rumit. Durkheim membalikkan rumusan ini, sambil menambahkan teorinya kepada kumpulan teori yang terus berkembang mengenai kemajuan sosial, evolusionisme sosial, dan darwinisme sosial. Ia berpendapat bahwa masyarakat-masyarakat tradisional bersifat ‘mekanis’ dan dipersatukan oleh kenyataan bahwa setiap orang lebih kurang sama, dan karenanya mempunyai banyak kesamaan di antara sesamanya. Dalam masyarakat tradisional, kata Durkheim, kesadaran kolektif sepenuhnya mencakup kesadaran individual – norma-norma sosial kuat dan perilaku sosial diatur dengan rapi.
Dalam masyarakat modern, demikian pendapatnya, pembagian kerja yang sangat kompleks menghasilkan solidaritas 'organik'. Spesialisasi yang berbeda-beda dalam bidang pekerjaan dan peranan sosial menciptakan ketergantungan yang mengikat orang kepada sesamanya, karena mereka tidak lagi dapat memenuhi seluruh kebutuhan mereka sendiri. Dalam masyarakat yang ‘mekanis’, misalnya, para petani gurem hidup dalam masyarakat yang swa-sembada dan terjalin bersama oleh warisan bersama dan pekerjaan yang sama. Dalam masyarakat modern yang 'organik', para pekerja memperoleh gaji dan harus mengandalkan orang lain yang mengkhususkan diri dalam produk-produk tertentu (bahan makanan, pakaian, dll) untuk memenuhi kebutuhan mereka. Akibat dari pembagian kerja yang semakin rumit ini, demikian Durkheim, ialah bahwa kesadaran individual berkembang dalam cara yang berbeda dari kesadaran kolektif – seringkali malah berbenturan dengan kesadaran kolektif.
Durkheim menghubungkan jenis solidaritas pada suatu masyarakat tertentu dengan dominasi dari suatu sistem hukum. Ia menemukan bahwa masyarakat yang memiliki solidaritas mekanis hokum seringkali bersifat represif: pelaku suatu kejahatan atau perilaku menyimpang akan terkena hukuman, dan hal itu akan membalas kesadaran kolektif yang dilanggar oleh kejahatan itu; hukuman itu bertindak lebih untuk mempertahankan keutuhan kesadaran. Sebaliknya, dalam masyarakat yang memiliki solidaritas organic, hukum bersifat restitutif: ia bertujuan bukan untuk menghukum melainkan untuk memulihkan aktivitas normal dari suatu masyarakat yang kompleks.
Jadi, perubahan masyarakat yang cepat karena semakin meningkatnya pembagian kerja menghasilkan suatu kebingungan tentang norma dan semakin meningkatnya sifat yang tidak pribadi dalam kehidupan sosial, yang akhirnya mengakibatkan runtuhnya norma-norma sosial yang mengatur perilaku. Durkheim menamai keadaan ini anomie. Dari keadaan anomie muncullah segala bentuk perilaku menyimpang, dan yang paling menonjol adalah bunuh diri.
Durkheim belakangan mengembangkan konsep tentang anomie dalam "Bunuh Diri", yang diterbitkannya pada 1897. Dalam bukunya ini, ia meneliti berbagai tingkat bunuh diri di antara orang-orang Protestan dan Katolik, dan menjelaskan bahwa kontrol sosial yang lebih tinggi di antara orang Katolik menghasilkan tingkat bunuh diri yang lebih rendah. Menurut Durkheim, orang mempunyai suatu tingkat keterikatan tertentu terhadap kelompok-kelompok mereka, yang disebutnya integrasi sosial. Tingkat integrasi sosial yang secara abnormal tinggi atau rendah dapat menghasilkan bertambahnya tingkat bunuh diri: tingkat yang rendah menghasilkan hal ini karena rendahnya integrasi sosial menghasilkan masyarakat yang tidak terorganisasi, menyebabkan orang melakukan bunuh diri sebagai upaya terakhir, sementara tingkat yang tinggi menyebabkan orang bunuh diri agar mereka tidak menjadi beban bagi masyarakat. Menurut Durkheim, masyarakat Katolik mempunyai tingkat integrasi yang normal, sementara masyarakat Protestan mempunyai tingat yang rendah. Karya ini telah mempengaruhi para penganjur teori kontrol, dan seringkali disebut sebagai studi sosiologis yang klasik.
Akhirnya, Durkheim diingat orang karena karyanya tentang masyarakat 'primitif' (artinya, non Barat) dalam buku-bukunya seperti "Bentuk-bentuk Elementer dari Kehidupan Agama" (1912) dan esainya "Klasifikasi Primitif" yang ditulisnya bersama Marcel Mauss. Kedua karya ini meneliti peranan yang dimainkan oleh agama dan mitologi dalam membentuk pandangan dunia dan kepribadian manusia dalam masyarakat-masyarakat yang sangat 'mekanis' (meminjam ungkapan Durkheim)
Tentang pendidikan
Durkheim juga sangat tertarik akan pendidikan. Hal ini sebagian karena ia secara profesional dipekerjakan untuk melatih guru, dan ia menggunakan kemampuannya untuk menciptakan kurikulum untuk mengembangkan tujuan-tujuannya untuk membuat sosiologi diajarkan seluas mungkin. Lebih luas lagi, Durkheim juga tertarik pada bagaimana pendidikan dapat digunakan untuk memberikan kepada warga Prancis semacam latar belakang sekular bersama yang dibutuhkan untuk mencegah anomi (keadaan tanpa hukum) dalam masyarakat modern. Dengan tujuan inilah ia mengusulkan pembentukan kelompok-kelompok profesional yang berfungsi sebagai sumber solidaritas bagi orang-orang dewasa.
Durkheim berpendapat bahwa pendidikan mempunyai banyak fungsi:
1) Memperkuat solidaritas sosial
• Sejarah: belajar tentang orang-orang yang melakukan hal-hal yang baik bagi banyak orang membuat seorang individu merasa tidak berarti.
• Menyatakan kesetiaan: membuat individu merasa bagian dari kelompok dan dengan demikian akan mengurangi kecenderungan untuk melanggar peraturan.
2) Mempertahankan peranan sosial
• Sekolah adalah masyarakat dalam bentuk miniatur. Sekolah mempunyai hierarkhi, aturan, tuntutan yang sama dengan "dunia luar". Sekolah mendidik orang muda untuk memenuhi berbagai peranan.
3) Mempertahankan pembagian kerja.
• Membagi-bagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecakapan. Mengajar siswa untuk mencari pekerjaan sesuai dengan kecakapan mereka.
Naskah ini diambila dari WIKIPEDIA INDONESIA
Kamis, April 16, 2009
DEFINISI/PENGANTAR SOSIOLOGI
Sosiologi adalah pengetahuan atau ilmu tentang sifat masyarakat, perilaku masyarakat, dan perkembangan masyarakat. Sosiologi merupakan cabang Ilmu Sosial yang mempelajari masyarakat dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Sebagai cabang Ilmu, Sosiologi dicetuskan pertama kali oleh ilmuwan Perancis, August Comte. Comte kemudian dikenal sebagai Bapak Sosiologi. Namun demikian, sejarah mencatat bahwa Émile Durkheim — ilmuwan sosial Perancis — yang kemudian berhasil melembagakan Sosiologi sebagai disiplin akademis. Sebagai sebuah ilmu, sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum.
Sosiologi merupakan sebuah istilah yang berasal dari kata latin socius yang artinya teman, dan logos dari kata Yunani yang berarti cerita, diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul “Cours De Philosophie Positive” karangan August Comte (1798-1857). Sosiologi muncul sejak ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu. Namun sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari masyarakat baru lahir kemudian di Eropa.
Sejak awal masehi hingga abad 19, Eropa dapat dikatakan menjadi pusat tumbuhnya peradaban dunia, para ilmuwan ketika itu mulai menyadari perlunya secara khusus mempelajari kondisi dan perubahan sosial. Para ilmuwan itu kemudian berupaya membangun suatu teori sosial berdasarkan ciri-ciri hakiki masyarakat pada tiap tahap peradaban manusia.
Dalam buku itu, Comte menyebutkan ada tiga tahap perkembangan intelektual, yang masing-masing merupakan perkembangan dari tahap sebelumya.
Tiga tahapan itu adalah :
1. Tahap teologis; adalah tingkat pemikiran manusia bahwa semua benda di dunia mempunyai jiwa dan itu disebabkan oleh suatu kekuatan yang berada di atas manusia.
2. Tahap metafisis; pada tahap ini manusia menganggap bahwa didalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan. Oleh karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita-cita terkait pada suatu realitas tertentu dan tidak ada usaha untuk menemukan hukum-hukum alam yang seragam.
3. Tahap positif; adalah tahap dimana manusia mulai berpikir secara ilmiah.
Comte kemudian membedakan antara sosiologi statis dan sosiologi dinamis. Sosiologi statis memusatkan perhatian pada hukum-hukum statis yang menjadi dasar adanya masyarakat. Sosiologi dinamis memusatkan perhatian tentang perkembangan masyarakat dalam arti pembangunan.oe
Rintisan Comte tersebut disambut hangat oleh masyarakat luas, tampak dari tampilnya sejumlah ilmuwan besar di bidang sosiologi. Mereka antara lain Herbert Spencer, Karl Marx, Emile Durkheim, Ferdinand Tönnies, Georg Simmel, Max Weber, dan Pitirim Sorokin(semuanya berasal dari Eropa). Masing-masing berjasa besar menyumbangkan beragam pendekatan mempelajari masyarakat yang amat berguna untuk perkembangan Sosiologi.
* Herbert Spencer memperkenalkan pendekatan analogi organik, yang memahami masyarakat seperti tubuh manusia, sebagai suatu organisasi yang terdiri atas bagian-bagian yang tergantung satu sama lain.
* Karl Marx memperkenalkan pendekatan materialisme dialektis, yang menganggap konflik antar-kelas sosial menjadi intisari perubahan dan perkembangan masyarakat.
* Emile Durkheim memperkenalkan pendekatan fungsionalisme yang berupaya menelusuri fungsi berbagai elemen sosial sebagai pengikat sekaligus pemelihara keteraturan sosial.
* Max Weber memperkenalkan pendekatan verstehen (pemahaman), yang berupaya menelusuri nilai, kepercayaan, tujuan, dan sikap yang menjadi penuntun perilaku manusia.
Definisi Sosiologi
Berikut ini definisi-definisi sosiologi yang dikemukakan beberapa ahli.
* Pitirim Sorokin
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain.
* Roucek dan Warren
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok.
* William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkopf
Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.
* J.A.A Von Dorn dan C.J. Lammers
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.
* Max Weber
Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial.
* Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi
Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.
* Paul B. Horton
Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan penelaahan pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut.
* Soejono Sukamto
Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.
* William Kornblum
Sosiologi adalah suatu upaya ilmiah untuk mempelajari masyarakat dan perilaku sosial anggotanya dan menjadikan masyarakat yang bersangkutan dalam berbagai kelompok dan kondisi.
* Allan Jhonson
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya dengan suatu sistem sosial dan bagaimana sistem tersebut mempengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat didalamnya mempengaruhi sistem tersebut.
Dari berbagai definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa :
“ Sosiologi adalah ilmu yang membicarakan apa yang sedang terjadi saat ini, khususnya pola-pola hubungan dalam masyarakat serta berusaha mencari pengertian-pengertian umum, rasional, empiris serta bersifat umum ”
Pokok bahasan sosiologi
* Fakta sosial
Fakta sosial adalah cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar individu dan mempunya kekuatan memaksa dan mengendalikan individu tersebut. Contoh, di sekolah seorang murid diwajidkan untuk datang tepat waktu, menggunakan seragam, dan bersikap hormat kepada guru. Kewajiban-kewajiban tersebut dituangkan ke dalam sebuah aturan dan memiliki sanksi tertentu jika dilanggar. Dari contoh tersebut bisa dilihat adanya cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang ada di luar individu (sekolah), yang bersifat memaksa dan mengendalikan individu (murid).
* Tindakan sosial
Tindakan sosial adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain. Contoh, menanam bunga untuk kesenangan pribadi bukan merupakan tindakan sosial, tetapi menanam bunga untuk diikutsertakan dalam sebuah lomba sehingga mendapat perhatian orang lain, merupakan tindakan sosial.
* Khayalan sosiologis
Khayalan sosiologis diperlukan untuk dapat memahami apa yang terjadi di masyarakat maupun yang ada dalam diri manusia. Menurut Wright Mills, dengan khayalan sosiologi, kita mampu memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya.
Alat untuk melakukan khayalan sosiologis adalah troubles dan issues. Troubles adalah permasalahan pribadi individu dan merupakan ancaman terhadap nilai-nilai pribadi. Issues merupakan hal yang ada di luar jangkauan kehidupan pribadi individu. Contoh, jika suatu daerah hanya memiliki satu orang yang menganggur, maka pengangguran itu adalah trouble. Masalah individual ini pemecahannya bisa lewat peningkatan keterampilan pribadi. Sementara jika di kota tersebut ada 12 juta penduduk yang menganggur dari 18 juta jiwa yang ada, maka pengangguran tersebut merupakan issue, yang pemecahannya menuntut kajian lebih luas lagi.
* Realitas sosial
Seorang sosiolog harus bisa menyingkap berbagai tabir dan mengungkap tiap helai tabir menjadi suatu realitas yang tidak terduga. Syaratnya, sosiolog tersebut harus mengikuti aturan-aturan ilmiah dan melakukan pembuktian secara ilmiah dan objektif dengan pengendalian prasangka pribadi, dan pengamatan tabir secara jeli serta menghindari penilaian normatif.
Perkembangan sosiologi dari abad ke abad
Perkembangan pada abad pencerahan
Banyak ilmuwan-ilmuwan besar pada zaman dahulu, seperti Sokrates, Plato dan Aristoteles beranggapan bahwa manusia terbentuk begitu saja. Tanpa ada yang bisa mencegah, masyarakat mengalami perkembangan dan kemunduran.
Pendapat itu kemudian ditegaskan lagi oleh para pemikir di abad pertengahan, seperti Agustinus, Ibnu Sina, dan Thomas Aquinas. Mereka berpendapat bahwa sebagai makhluk hidup yang fana, manusia tidak bisa mengetahui, apalagi menentukan apa yang akan terjadi dengan masyarakatnya. Pertanyaan dan pertanggungjawaban ilmiah tentang perubahan masyarakat belum terpikirkan pada masa ini.
Berkembangnya ilmu pengetahuan di abad pencerahan (sekitar abad ke-17 M), turut berpengaruh terhadap pandangan mengenai perubahan masyarakat, ciri-ciri ilmiah mulai tampak di abad ini. Para ahli di zaman itu berpendapat bahwa pandangan mengenai perubahan masyarakat harus berpedoman pada akal budi manusia.
Pengaruh perubahan yang terjadi di abad pencerahan
Perubahan-perubahan besar di abad pencerahan, terus berkembang secara revolusioner sapanjang abad ke-18 M. Dengan cepat struktur masyarakat lama berganti dengan struktur yang lebih baru. Hal ini terlihat dengan jelas terutama dalam revolusi Amerika, revolusi industri, dan revolusi Perancis. Gejolak-gejolak yang diakibatkan oleh ketiga revolusi ini terasa pengaruhnya di seluruh dunia. Para ilmuwan tergugah, mereka mulai menyadari pentingnya menganalisis perubahan dalam masyarakat.
Gejolak abad revolusi
Perubahan yang terjadi akibat revolusi benar-benar mencengangkan. Struktur masyarakat yang sudah berlaku ratusan tahun rusak. Bangasawan dan kaum Rohaniawan yang semula bergemilang harta dan kekuasaan, disetarakan haknya dengan rakyat jelata. Raja yang semula berkuasa penuh, kini harus memimpin berdasarkan undang-undang yang di tetapkan. Banyak kerajaan-kerajaan besar di Eropa yang jatuh dan terpecah.
Revolusi Perancis berhasil mengubah struktur masyarakat feodal ke masyarakat yang bebas
Gejolak abad revolusi itu mulai menggugah para ilmuwan pada pemikiran bahwa perubahan masyarakat harus dapat dianalisis. Mereka telah menyakikan betapa perubahan masyarakat yang besar telah membawa banyak korban berupa perang, kemiskinan, pemberontakan dan kerusuhan. Bencana itu dapat dicegah sekiranya perubahan masyarakat sudah diantisipasi secara dini.
Perubahan drastis yang terjadi semasa abad revolusi menguatkan pandangan betapa perlunya penjelasan rasional terhadap perubahan besar dalam masyarakat. Artinya :
* Perubahan masyarakat bukan merupakan nasib yang harus diterima begitu saja, melainkan dapat diketahui penyebab dan akibatnya.
* Harus dicari metode ilmiah yang jelas agar dapat menjadi alat bantu untuk menjelaskan perubahan dalam masyarakat dengan bukti-bukti yang kuat serta masuk akal.
* Dengan metode ilmiah yang tepat (penelitian berulang kali, penjelasan yang teliti, dan perumusan teori berdasarkan pembuktian), perubahan masyarakat sudah dapat diantisipasi sebelumnya sehingga krisis sosial yang parah dapat dicegah.
Kelahiran sosiologi modern
Sosiologi modern tumbuh pesat di benua Amerika, tepatnya di Amerika Serikat dan Kanada. Mengapa bukan di Eropa? (yang notabene merupakan tempat dimana sosiologi muncul pertama kalinya).
Pada permulaan abad ke-20, gelombang besar imigran berdatangan ke Amerika Utara. Gejala itu berakibat pesatnya pertumbuhan penduduk, munculnya kota-kota industri baru, bertambahnya kriminalitas dan lain lain. Konsekuensi gejolak sosial itu, perubahan besar masyarakat pun tak terelakkan.
Perubahan masyarakat itu menggugah para ilmuwan sosial untuk berpikir keras, untuk sampai pada kesadaran bahwa pendekatan sosiologi lama ala Eropa tidak relevan lagi. Mereka berupaya menemukan pendekatan baru yang sesuai dengan kondisi masyarakat pada saat itu. Maka lahirlah sosiologi modern.
Berkebalikan dengan pendapat sebelumnya, pendekatan sosiologi modern cenderung mikro (lebih sering disebut pendekatan empiris). Artinya, perubahan masyarakat dapat dipelajari mulai dari fakta sosial demi fakta sosial yang muncul. Berdasarkan fakta sosial itu dapat ditarik kesimpulan perubahan masyarakat secara menyeluruh. Sejak saat itulah disadari betapa pentingnya penelitian (research) dalam sosiologi.
Sosiologi merupakan sebuah istilah yang berasal dari kata latin socius yang artinya teman, dan logos dari kata Yunani yang berarti cerita, diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul “Cours De Philosophie Positive” karangan August Comte (1798-1857). Sosiologi muncul sejak ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu. Namun sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari masyarakat baru lahir kemudian di Eropa.
Sejak awal masehi hingga abad 19, Eropa dapat dikatakan menjadi pusat tumbuhnya peradaban dunia, para ilmuwan ketika itu mulai menyadari perlunya secara khusus mempelajari kondisi dan perubahan sosial. Para ilmuwan itu kemudian berupaya membangun suatu teori sosial berdasarkan ciri-ciri hakiki masyarakat pada tiap tahap peradaban manusia.
Dalam buku itu, Comte menyebutkan ada tiga tahap perkembangan intelektual, yang masing-masing merupakan perkembangan dari tahap sebelumya.
Tiga tahapan itu adalah :
1. Tahap teologis; adalah tingkat pemikiran manusia bahwa semua benda di dunia mempunyai jiwa dan itu disebabkan oleh suatu kekuatan yang berada di atas manusia.
2. Tahap metafisis; pada tahap ini manusia menganggap bahwa didalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan. Oleh karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita-cita terkait pada suatu realitas tertentu dan tidak ada usaha untuk menemukan hukum-hukum alam yang seragam.
3. Tahap positif; adalah tahap dimana manusia mulai berpikir secara ilmiah.
Comte kemudian membedakan antara sosiologi statis dan sosiologi dinamis. Sosiologi statis memusatkan perhatian pada hukum-hukum statis yang menjadi dasar adanya masyarakat. Sosiologi dinamis memusatkan perhatian tentang perkembangan masyarakat dalam arti pembangunan.oe
Rintisan Comte tersebut disambut hangat oleh masyarakat luas, tampak dari tampilnya sejumlah ilmuwan besar di bidang sosiologi. Mereka antara lain Herbert Spencer, Karl Marx, Emile Durkheim, Ferdinand Tönnies, Georg Simmel, Max Weber, dan Pitirim Sorokin(semuanya berasal dari Eropa). Masing-masing berjasa besar menyumbangkan beragam pendekatan mempelajari masyarakat yang amat berguna untuk perkembangan Sosiologi.
* Herbert Spencer memperkenalkan pendekatan analogi organik, yang memahami masyarakat seperti tubuh manusia, sebagai suatu organisasi yang terdiri atas bagian-bagian yang tergantung satu sama lain.
* Karl Marx memperkenalkan pendekatan materialisme dialektis, yang menganggap konflik antar-kelas sosial menjadi intisari perubahan dan perkembangan masyarakat.
* Emile Durkheim memperkenalkan pendekatan fungsionalisme yang berupaya menelusuri fungsi berbagai elemen sosial sebagai pengikat sekaligus pemelihara keteraturan sosial.
* Max Weber memperkenalkan pendekatan verstehen (pemahaman), yang berupaya menelusuri nilai, kepercayaan, tujuan, dan sikap yang menjadi penuntun perilaku manusia.
Definisi Sosiologi
Berikut ini definisi-definisi sosiologi yang dikemukakan beberapa ahli.
* Pitirim Sorokin
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain.
* Roucek dan Warren
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok.
* William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkopf
Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.
* J.A.A Von Dorn dan C.J. Lammers
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.
* Max Weber
Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial.
* Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi
Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.
* Paul B. Horton
Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan penelaahan pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut.
* Soejono Sukamto
Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.
* William Kornblum
Sosiologi adalah suatu upaya ilmiah untuk mempelajari masyarakat dan perilaku sosial anggotanya dan menjadikan masyarakat yang bersangkutan dalam berbagai kelompok dan kondisi.
* Allan Jhonson
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya dengan suatu sistem sosial dan bagaimana sistem tersebut mempengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat didalamnya mempengaruhi sistem tersebut.
Dari berbagai definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa :
“ Sosiologi adalah ilmu yang membicarakan apa yang sedang terjadi saat ini, khususnya pola-pola hubungan dalam masyarakat serta berusaha mencari pengertian-pengertian umum, rasional, empiris serta bersifat umum ”
Pokok bahasan sosiologi
* Fakta sosial
Fakta sosial adalah cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar individu dan mempunya kekuatan memaksa dan mengendalikan individu tersebut. Contoh, di sekolah seorang murid diwajidkan untuk datang tepat waktu, menggunakan seragam, dan bersikap hormat kepada guru. Kewajiban-kewajiban tersebut dituangkan ke dalam sebuah aturan dan memiliki sanksi tertentu jika dilanggar. Dari contoh tersebut bisa dilihat adanya cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang ada di luar individu (sekolah), yang bersifat memaksa dan mengendalikan individu (murid).
* Tindakan sosial
Tindakan sosial adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain. Contoh, menanam bunga untuk kesenangan pribadi bukan merupakan tindakan sosial, tetapi menanam bunga untuk diikutsertakan dalam sebuah lomba sehingga mendapat perhatian orang lain, merupakan tindakan sosial.
* Khayalan sosiologis
Khayalan sosiologis diperlukan untuk dapat memahami apa yang terjadi di masyarakat maupun yang ada dalam diri manusia. Menurut Wright Mills, dengan khayalan sosiologi, kita mampu memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya.
Alat untuk melakukan khayalan sosiologis adalah troubles dan issues. Troubles adalah permasalahan pribadi individu dan merupakan ancaman terhadap nilai-nilai pribadi. Issues merupakan hal yang ada di luar jangkauan kehidupan pribadi individu. Contoh, jika suatu daerah hanya memiliki satu orang yang menganggur, maka pengangguran itu adalah trouble. Masalah individual ini pemecahannya bisa lewat peningkatan keterampilan pribadi. Sementara jika di kota tersebut ada 12 juta penduduk yang menganggur dari 18 juta jiwa yang ada, maka pengangguran tersebut merupakan issue, yang pemecahannya menuntut kajian lebih luas lagi.
* Realitas sosial
Seorang sosiolog harus bisa menyingkap berbagai tabir dan mengungkap tiap helai tabir menjadi suatu realitas yang tidak terduga. Syaratnya, sosiolog tersebut harus mengikuti aturan-aturan ilmiah dan melakukan pembuktian secara ilmiah dan objektif dengan pengendalian prasangka pribadi, dan pengamatan tabir secara jeli serta menghindari penilaian normatif.
Perkembangan sosiologi dari abad ke abad
Perkembangan pada abad pencerahan
Banyak ilmuwan-ilmuwan besar pada zaman dahulu, seperti Sokrates, Plato dan Aristoteles beranggapan bahwa manusia terbentuk begitu saja. Tanpa ada yang bisa mencegah, masyarakat mengalami perkembangan dan kemunduran.
Pendapat itu kemudian ditegaskan lagi oleh para pemikir di abad pertengahan, seperti Agustinus, Ibnu Sina, dan Thomas Aquinas. Mereka berpendapat bahwa sebagai makhluk hidup yang fana, manusia tidak bisa mengetahui, apalagi menentukan apa yang akan terjadi dengan masyarakatnya. Pertanyaan dan pertanggungjawaban ilmiah tentang perubahan masyarakat belum terpikirkan pada masa ini.
Berkembangnya ilmu pengetahuan di abad pencerahan (sekitar abad ke-17 M), turut berpengaruh terhadap pandangan mengenai perubahan masyarakat, ciri-ciri ilmiah mulai tampak di abad ini. Para ahli di zaman itu berpendapat bahwa pandangan mengenai perubahan masyarakat harus berpedoman pada akal budi manusia.
Pengaruh perubahan yang terjadi di abad pencerahan
Perubahan-perubahan besar di abad pencerahan, terus berkembang secara revolusioner sapanjang abad ke-18 M. Dengan cepat struktur masyarakat lama berganti dengan struktur yang lebih baru. Hal ini terlihat dengan jelas terutama dalam revolusi Amerika, revolusi industri, dan revolusi Perancis. Gejolak-gejolak yang diakibatkan oleh ketiga revolusi ini terasa pengaruhnya di seluruh dunia. Para ilmuwan tergugah, mereka mulai menyadari pentingnya menganalisis perubahan dalam masyarakat.
Gejolak abad revolusi
Perubahan yang terjadi akibat revolusi benar-benar mencengangkan. Struktur masyarakat yang sudah berlaku ratusan tahun rusak. Bangasawan dan kaum Rohaniawan yang semula bergemilang harta dan kekuasaan, disetarakan haknya dengan rakyat jelata. Raja yang semula berkuasa penuh, kini harus memimpin berdasarkan undang-undang yang di tetapkan. Banyak kerajaan-kerajaan besar di Eropa yang jatuh dan terpecah.
Revolusi Perancis berhasil mengubah struktur masyarakat feodal ke masyarakat yang bebas
Gejolak abad revolusi itu mulai menggugah para ilmuwan pada pemikiran bahwa perubahan masyarakat harus dapat dianalisis. Mereka telah menyakikan betapa perubahan masyarakat yang besar telah membawa banyak korban berupa perang, kemiskinan, pemberontakan dan kerusuhan. Bencana itu dapat dicegah sekiranya perubahan masyarakat sudah diantisipasi secara dini.
Perubahan drastis yang terjadi semasa abad revolusi menguatkan pandangan betapa perlunya penjelasan rasional terhadap perubahan besar dalam masyarakat. Artinya :
* Perubahan masyarakat bukan merupakan nasib yang harus diterima begitu saja, melainkan dapat diketahui penyebab dan akibatnya.
* Harus dicari metode ilmiah yang jelas agar dapat menjadi alat bantu untuk menjelaskan perubahan dalam masyarakat dengan bukti-bukti yang kuat serta masuk akal.
* Dengan metode ilmiah yang tepat (penelitian berulang kali, penjelasan yang teliti, dan perumusan teori berdasarkan pembuktian), perubahan masyarakat sudah dapat diantisipasi sebelumnya sehingga krisis sosial yang parah dapat dicegah.
Kelahiran sosiologi modern
Sosiologi modern tumbuh pesat di benua Amerika, tepatnya di Amerika Serikat dan Kanada. Mengapa bukan di Eropa? (yang notabene merupakan tempat dimana sosiologi muncul pertama kalinya).
Pada permulaan abad ke-20, gelombang besar imigran berdatangan ke Amerika Utara. Gejala itu berakibat pesatnya pertumbuhan penduduk, munculnya kota-kota industri baru, bertambahnya kriminalitas dan lain lain. Konsekuensi gejolak sosial itu, perubahan besar masyarakat pun tak terelakkan.
Perubahan masyarakat itu menggugah para ilmuwan sosial untuk berpikir keras, untuk sampai pada kesadaran bahwa pendekatan sosiologi lama ala Eropa tidak relevan lagi. Mereka berupaya menemukan pendekatan baru yang sesuai dengan kondisi masyarakat pada saat itu. Maka lahirlah sosiologi modern.
Berkebalikan dengan pendapat sebelumnya, pendekatan sosiologi modern cenderung mikro (lebih sering disebut pendekatan empiris). Artinya, perubahan masyarakat dapat dipelajari mulai dari fakta sosial demi fakta sosial yang muncul. Berdasarkan fakta sosial itu dapat ditarik kesimpulan perubahan masyarakat secara menyeluruh. Sejak saat itulah disadari betapa pentingnya penelitian (research) dalam sosiologi.
Label:
MATERI PELAJARAN SOSIOLOGI
Rabu, April 15, 2009
Selasa, April 14, 2009
PENGANTAR SOSIOLOGI
Pengantar Sosiologi
Oleh : Mumtazi, S.Sos
Ref. (Prof.DR.SOEJONO SOEKANTO,SH.,M.A)
Teori Sosiologi tentang pribadi dalam masyarakat
Pengantar Sosiologi
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kehidupan manusia sebagai makhluk sosial yang saling mempengaruhi, mengalami proses timbal balik sehingga tercipta suatu sistem sosial tertentu.
Teori Sosiologis (4)
Sosiologi bertitik tolak pada pola-pola intraksi sosial, hal ini sepertinya menjadi tanpa batas, karena menyangkut seluruh kehidupan sosial manusia.
(H.J. Turner 1974:2)
1. Mengklasifikasikan dan mengorganisasikan gejala-gejala sedemikian rupa, sehingga dapat ditempatkan pada suatu prespektif tertentu.
2. Menjelaskan sebab-sebab terjadinya gejala-gejala tertentu pada masa lampau, untuk memprediksi dan mempersiapkan untuk masa yang akan datang.
3. Memahami mengapa dan bagaimana seharusnya gejala-gejala tertentu terjadi atau berlangsung.
Banyaknya prespektif yang berkembang diharapkan mampu untuk menjelaskan definisi yang tepat untuk sosiologi atau dapat menjadi pilihan suatu definisi yang lebih mudah dapat dipahami.
Teori Struktural Fungsional (6)
Lembaga-lembaga sosial dalam masyarakat dianggap sama dengan organ-organ tubuh, seperti lembaga sosial dapat menjadi unsur yang memenuhi kebutuhan dan kelangsungan hidup serta pemeliharaan masyarakat.
Lembaga ekonomi berfungsi mengadakan produksi dan distribusi barang dan jasa.
Lembaga sosial kekeluargaan berfungsi menjadi sistem reproduksi, pemelihara kesehatan masyarakat, anak-anak dst.
Teori Konflik (7)
Karl Marx dan Friedrich Engels yaitu ”Communist Manifesto” (1848) yang menganggap teori terpenting dalam masyarakat adalah terjadinya pertentangan Kelas(Class Stragle). Maka suatu golongan yang memerintah mempunyai kedudukan tersebut.
Psikolog kontemporer lebih berpendapat bahwa titik berat konflik adalah seperti perbedaan ras, agama, produsen dan konsumen dst. Kehidupan manusia dan kelangsungannya berkisar pada masalah : ”Whose will shall prevail, Thine or mine”.
Tokoh-tokoh tersebut antara lain : C.Wriht Mills, Tom B. Bottomore, Rendall Collins dll.
Teori Interaksi Simbolis (8)
George Herbert Mead. Menyatakan bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk berinteraksi dengan pihak-pihak lain, dengan perantara lambang-lambang tertentu yang dipunyai bersama. Kemudian manusia memberikan arti pada kegiatan-kegiatannya kemudian membentuk prespektif-prespektif tertentu, dengan rumusan, dan berprilaku menurut hal-hal yang diartikan secara sosial.
Teori Social-Exchange (9)
Seseorang melakukan hubungan dengan orang lain oleh karena hal itu dapat mendatangkan keuntungan atau suatu imbalan. Jika seseorang menghendak keuntungan dari suatu hubungan maka dia harus bersedia untuk berkorban (Peter Blau 1967, James W. Vander Zaden 1979:17)
Etno-Metodologi (10)
Yang menjadi pusat perhatian Etnometodologi adalah bagaimana suatu prilaku yang merupakan kebiasaan terjadi atau berlangsung.
(D. H. Ziemmerman & D.L Wieder 1970:290)
1. Bagaimanakah warga masyarakat menelaah prilaku sehari-hari sehingga terlihat suatau pola struktur tertentu.
2. Bagaimana suatu masalah dianalisa sehingga tampak adanya hubungan antar unsur tertentu.
3. Bagaimana mendiskripsikan suatu peristiwa sehingga terlihat sistematis.
4. Bagaimana menentukan suatu ciri faktual
5. Bagaimana terjadi gejala-gejala universal
Oleh : Mumtazi, S.Sos
Ref. (Prof.DR.SOEJONO SOEKANTO,SH.,M.A)
Teori Sosiologi tentang pribadi dalam masyarakat
Pengantar Sosiologi
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kehidupan manusia sebagai makhluk sosial yang saling mempengaruhi, mengalami proses timbal balik sehingga tercipta suatu sistem sosial tertentu.
Teori Sosiologis (4)
Sosiologi bertitik tolak pada pola-pola intraksi sosial, hal ini sepertinya menjadi tanpa batas, karena menyangkut seluruh kehidupan sosial manusia.
(H.J. Turner 1974:2)
1. Mengklasifikasikan dan mengorganisasikan gejala-gejala sedemikian rupa, sehingga dapat ditempatkan pada suatu prespektif tertentu.
2. Menjelaskan sebab-sebab terjadinya gejala-gejala tertentu pada masa lampau, untuk memprediksi dan mempersiapkan untuk masa yang akan datang.
3. Memahami mengapa dan bagaimana seharusnya gejala-gejala tertentu terjadi atau berlangsung.
Banyaknya prespektif yang berkembang diharapkan mampu untuk menjelaskan definisi yang tepat untuk sosiologi atau dapat menjadi pilihan suatu definisi yang lebih mudah dapat dipahami.
Teori Struktural Fungsional (6)
Lembaga-lembaga sosial dalam masyarakat dianggap sama dengan organ-organ tubuh, seperti lembaga sosial dapat menjadi unsur yang memenuhi kebutuhan dan kelangsungan hidup serta pemeliharaan masyarakat.
Lembaga ekonomi berfungsi mengadakan produksi dan distribusi barang dan jasa.
Lembaga sosial kekeluargaan berfungsi menjadi sistem reproduksi, pemelihara kesehatan masyarakat, anak-anak dst.
Teori Konflik (7)
Karl Marx dan Friedrich Engels yaitu ”Communist Manifesto” (1848) yang menganggap teori terpenting dalam masyarakat adalah terjadinya pertentangan Kelas(Class Stragle). Maka suatu golongan yang memerintah mempunyai kedudukan tersebut.
Psikolog kontemporer lebih berpendapat bahwa titik berat konflik adalah seperti perbedaan ras, agama, produsen dan konsumen dst. Kehidupan manusia dan kelangsungannya berkisar pada masalah : ”Whose will shall prevail, Thine or mine”.
Tokoh-tokoh tersebut antara lain : C.Wriht Mills, Tom B. Bottomore, Rendall Collins dll.
Teori Interaksi Simbolis (8)
George Herbert Mead. Menyatakan bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk berinteraksi dengan pihak-pihak lain, dengan perantara lambang-lambang tertentu yang dipunyai bersama. Kemudian manusia memberikan arti pada kegiatan-kegiatannya kemudian membentuk prespektif-prespektif tertentu, dengan rumusan, dan berprilaku menurut hal-hal yang diartikan secara sosial.
Teori Social-Exchange (9)
Seseorang melakukan hubungan dengan orang lain oleh karena hal itu dapat mendatangkan keuntungan atau suatu imbalan. Jika seseorang menghendak keuntungan dari suatu hubungan maka dia harus bersedia untuk berkorban (Peter Blau 1967, James W. Vander Zaden 1979:17)
Etno-Metodologi (10)
Yang menjadi pusat perhatian Etnometodologi adalah bagaimana suatu prilaku yang merupakan kebiasaan terjadi atau berlangsung.
(D. H. Ziemmerman & D.L Wieder 1970:290)
1. Bagaimanakah warga masyarakat menelaah prilaku sehari-hari sehingga terlihat suatau pola struktur tertentu.
2. Bagaimana suatu masalah dianalisa sehingga tampak adanya hubungan antar unsur tertentu.
3. Bagaimana mendiskripsikan suatu peristiwa sehingga terlihat sistematis.
4. Bagaimana menentukan suatu ciri faktual
5. Bagaimana terjadi gejala-gejala universal
Label:
MATERI PELAJARAN SOSIOLOGI
Minggu, April 12, 2009
Sabtu, April 11, 2009
LATIHAN ONLINE UAN SOSIOLOGI
Kerjakanlah soal online SOSIOLOGI berikut ini dengan mengikuti setiap langkah yang ada dengan baik dan benar.
Tuliskan Nama anda dengan lengkap beserta kelas ( missal : Abednego kelas XII IS 1 ).Selanjutnya klik pada Start ( mulai mengerjakan soal ).agi Anda siswa kelas XI IS dan X dipersilakan mencoba mengerjakan latian ini Bila mengalami masalah TEKNIS dapat mengirim e-mail ke burungterbang321@yahoo.com. Trima Kasih atas perhatiannya .Selamat mencoba Semoga Berhasil dan lulus UAN 2009.
Tuliskan Nama anda dengan lengkap beserta kelas ( missal : Abednego kelas XII IS 1 ).Selanjutnya klik pada Start ( mulai mengerjakan soal ).agi Anda siswa kelas XI IS dan X dipersilakan mencoba mengerjakan latian ini Bila mengalami masalah TEKNIS dapat mengirim e-mail ke burungterbang321@yahoo.com. Trima Kasih atas perhatiannya .Selamat mencoba Semoga Berhasil dan lulus UAN 2009.
Jumat, April 10, 2009
BUAT SOAL ONLINE
Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk membuat tes online. Salah satunya memanfaatkan layanan yang diberikan secara gratis oleh situs-situs pembuat tes. Pada tutorialnya ini kita akan memanfaatkan layanan dari http://www.proprofs.com/.
ProProfs.com adalah situs pengetahuan yang menyediakan sumber daya dan alat-alat online untuk pertukaran pengetahuan secara gratis. Didirikan dengan gagasan bahwa pengetahuan harus bebas tersedia untuk semua orang. ProProfs.com menyediakan perangkat lunak pembuat tes di Web (Blog) secara gratis. Dengan fitur seperti statistik, analisis hasil, identifikasi pengguna secara geografis, hasil yang fleksibel, pengaturan tampilan, dan kemudahan dalam penempatan di Web (Blog). ProProfs.com mendukung pembuatan beberapa bentuk tes yang biasanya di adakan di sekolah-sekolah.
Untuk dapat menggunakan layanan yang ada di ProProfs.com, terlebih dahulu kita harus membuat account di ProProfs.com. Langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Aktifkan salah satu browser misalnya Mozilla Firefox atau Internet Explorer.
2. Ketikkan http://www.proprofs.com/ di address bar, lalu tekan tombol Go atau Enter, sehingga muncul tampilan sebagai berikut:
3. Klik "Quiz School" seperti yang tampak pada gambar di atas.
4. Lalu pilih dan klik "Register" pada tampilan laman berikutnya.
5. Lengkapi daftar isian berikut:
username: Isikan dengan nama pengguna yang diinginkan.
email: Isikan dengan alamat e-mail yang masih dapat digunakan untuk berbagai keperluan nantinya.
password: Isikan dengan password untuk masuk ke account (minimal 5 karakter).
verify password: Isikan lagi password diatas sekali lagi.
5. Setelah semua data diisi dengan benar, langkah berikutnya adalah memberi tanda centang pada kotak pilihan I have read, understood and agree to the terms and conditions dan menekan tombol Create my account.
Jika sudah muncul pesan sebagai berikut:
"Congratulations on creating your ProProfs account. Welcome!"
ProProfs.com adalah situs pengetahuan yang menyediakan sumber daya dan alat-alat online untuk pertukaran pengetahuan secara gratis. Didirikan dengan gagasan bahwa pengetahuan harus bebas tersedia untuk semua orang. ProProfs.com menyediakan perangkat lunak pembuat tes di Web (Blog) secara gratis. Dengan fitur seperti statistik, analisis hasil, identifikasi pengguna secara geografis, hasil yang fleksibel, pengaturan tampilan, dan kemudahan dalam penempatan di Web (Blog). ProProfs.com mendukung pembuatan beberapa bentuk tes yang biasanya di adakan di sekolah-sekolah.
Untuk dapat menggunakan layanan yang ada di ProProfs.com, terlebih dahulu kita harus membuat account di ProProfs.com. Langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Aktifkan salah satu browser misalnya Mozilla Firefox atau Internet Explorer.
2. Ketikkan http://www.proprofs.com/ di address bar, lalu tekan tombol Go atau Enter, sehingga muncul tampilan sebagai berikut:
3. Klik "Quiz School" seperti yang tampak pada gambar di atas.
4. Lalu pilih dan klik "Register" pada tampilan laman berikutnya.
5. Lengkapi daftar isian berikut:
username: Isikan dengan nama pengguna yang diinginkan.
email: Isikan dengan alamat e-mail yang masih dapat digunakan untuk berbagai keperluan nantinya.
password: Isikan dengan password untuk masuk ke account (minimal 5 karakter).
verify password: Isikan lagi password diatas sekali lagi.
5. Setelah semua data diisi dengan benar, langkah berikutnya adalah memberi tanda centang pada kotak pilihan I have read, understood and agree to the terms and conditions dan menekan tombol Create my account.
Jika sudah muncul pesan sebagai berikut:
"Congratulations on creating your ProProfs account. Welcome!"
TRY OUT SOSIOLOGI 103
Try out sosiologi kode 103, kode 1968.
1. masuk www.ulangan.com
2. regristrasi siswa
3. pilih try out sosiologi kode 103/kode 1968.
4. kerjakan
5. nilai dikirim ke burungterbang321@yahoo.com, dengan mencantumkan kode soal.
trim
1. masuk www.ulangan.com
2. regristrasi siswa
3. pilih try out sosiologi kode 103/kode 1968.
4. kerjakan
5. nilai dikirim ke burungterbang321@yahoo.com, dengan mencantumkan kode soal.
trim
Minggu, April 05, 2009
TRY OUT ONLINE SOSIOLOGI 97
LANGKAH :
1. BUKA : WWW.ULANGAN.COM
2. REGRISTRASI SISWA.
3. LOGIN
4. IKUTI TES
5. PILIH .......try out 97 ( password 1968 )
6. kerjakan soal
7. nilai dikirim ke email pak eka , agar bisa dipantau perkembangan kemampuan akademik.
8. semoga kailian lulus dengan nilai yg memuaskan.
1. BUKA : WWW.ULANGAN.COM
2. REGRISTRASI SISWA.
3. LOGIN
4. IKUTI TES
5. PILIH .......try out 97 ( password 1968 )
6. kerjakan soal
7. nilai dikirim ke email pak eka , agar bisa dipantau perkembangan kemampuan akademik.
8. semoga kailian lulus dengan nilai yg memuaskan.
Sabtu, April 04, 2009
CIRI-CIRI MASYARAKAT MODERN
Kata Modern berasal dari bahasa latin “ Modo” = cara dan “ Ernus” = masa kini
Menurut Talcott Parson :
1. Netralitas efektif yaitu bersikap netral, bahkan dapat menuju sikap tidak memperhatikan ol/ling.
2. Orientasi diri yaitu lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri.
3. Universalisme yaitu menerima segala sesuatu dengan obyektif.
4. Prestasi yaitu masyarakatnya suka mengejar prestasi.
5. Spesifitas yaitu berterus terang dalam mengungkapkan segala sesuatu.
Menurut Alex Inkeles manusia modern memiliki cirri-ciri sebagai berikut:
1. Menerima hal-hal baru.
2. Menyatakan pendapat baik tentang lingkungannya sendiri maupun luar.
3. Menghargai waktu.
4. Memiliki perencanaan dan pengorganisasian.
5. Percaya diri
6. Perhitungan
7. Menghargai harkat hidup orang lain
8. Lebih percaya pada ilmu pengetahuan dan teknologi.
9. Menjunjung tinggi suatu sikap dimana imbalan sesuai dengan prestasi yang diberikan.
Tambahan :
1. Masyarakatnya heterogen.
2. System pelapisan sosialnya terbuka
3. Mobilitas sosialnya tinggi
4. Melakukan tindakan secara rasional.
5. Tidak terikat pada tradisi/adat.
Syarat-syarat modernisasi:
1. Berfikir ilmiah ( scientific thinking )
2. System administrasi Negara yang baik.
3. System pengumpulan data yang baik.
4. Penciptaan iklim yang menyenangkan ( favourable )
5. Tingkat organisasi yang tinggi.
6. Social planning yang baik
Eka, 5 April 2009
Menurut Talcott Parson :
1. Netralitas efektif yaitu bersikap netral, bahkan dapat menuju sikap tidak memperhatikan ol/ling.
2. Orientasi diri yaitu lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri.
3. Universalisme yaitu menerima segala sesuatu dengan obyektif.
4. Prestasi yaitu masyarakatnya suka mengejar prestasi.
5. Spesifitas yaitu berterus terang dalam mengungkapkan segala sesuatu.
Menurut Alex Inkeles manusia modern memiliki cirri-ciri sebagai berikut:
1. Menerima hal-hal baru.
2. Menyatakan pendapat baik tentang lingkungannya sendiri maupun luar.
3. Menghargai waktu.
4. Memiliki perencanaan dan pengorganisasian.
5. Percaya diri
6. Perhitungan
7. Menghargai harkat hidup orang lain
8. Lebih percaya pada ilmu pengetahuan dan teknologi.
9. Menjunjung tinggi suatu sikap dimana imbalan sesuai dengan prestasi yang diberikan.
Tambahan :
1. Masyarakatnya heterogen.
2. System pelapisan sosialnya terbuka
3. Mobilitas sosialnya tinggi
4. Melakukan tindakan secara rasional.
5. Tidak terikat pada tradisi/adat.
Syarat-syarat modernisasi:
1. Berfikir ilmiah ( scientific thinking )
2. System administrasi Negara yang baik.
3. System pengumpulan data yang baik.
4. Penciptaan iklim yang menyenangkan ( favourable )
5. Tingkat organisasi yang tinggi.
6. Social planning yang baik
Eka, 5 April 2009
Label:
MATERI PELAJARAN SOSIOLOGI
CIRI-CIRI MASYARAKAT TRADISIONAL
Tradisonal berasal dari bahasa latin yaitu “Traditum” yang memiliki makna Transmitted yaitu pewarisan sesuatu dari sutu generasi ke generasi berikutnya.
Ciri-ciri masyarakat tradisional menurut Talcott Parson :
1. Afektifitas : yaitu hubungan antar anggota masyarakat didasarkan pada kasih saying.
2. Orientasi kolektif yaitu lebih mengutamakan kepentingan kelompok/kebersamaan.
3. Partikularisme yaitu segala sesuatu yang ada hubungannya dengan apa yang khusus berlaku untuk suatu daerah tertentu saja, ada hubungannya dengan perasaan subyektif dan rasa kebersamaan.
4. Askripsi yaitu segala sesuatu yang dimiliki diperoleh dari pewarisan generasi sebelumnya.
5. Diffuseness ( kekaburan ) yaitu dalam mengungkapkan sesuatu dengan tidak berterus-terang.
Tambahan:
1. Masyarakat yang terikat kuat dengan tradisi.
2. Masyarakatnya homogen ( hampir dalam segala aspek).
3. Sifat pelapisan sosialnya “tertutup “
4. Mobilitas sulit terjadi.
5. Perubuhan terjadi secara lambat.
6. Masyarakatnya cenderung tertutup terhadap perubahan.
Eka, 5 April 2009
Ciri-ciri masyarakat tradisional menurut Talcott Parson :
1. Afektifitas : yaitu hubungan antar anggota masyarakat didasarkan pada kasih saying.
2. Orientasi kolektif yaitu lebih mengutamakan kepentingan kelompok/kebersamaan.
3. Partikularisme yaitu segala sesuatu yang ada hubungannya dengan apa yang khusus berlaku untuk suatu daerah tertentu saja, ada hubungannya dengan perasaan subyektif dan rasa kebersamaan.
4. Askripsi yaitu segala sesuatu yang dimiliki diperoleh dari pewarisan generasi sebelumnya.
5. Diffuseness ( kekaburan ) yaitu dalam mengungkapkan sesuatu dengan tidak berterus-terang.
Tambahan:
1. Masyarakat yang terikat kuat dengan tradisi.
2. Masyarakatnya homogen ( hampir dalam segala aspek).
3. Sifat pelapisan sosialnya “tertutup “
4. Mobilitas sulit terjadi.
5. Perubuhan terjadi secara lambat.
6. Masyarakatnya cenderung tertutup terhadap perubahan.
Eka, 5 April 2009
Label:
MATERI PELAJARAN SOSIOLOGI
CIRI-CIRI MASYARAKAT FEODAL
Feodalisme berasal dari bahasa latin “feodum “ yang artinya “tanah”
1.Ditandai dengan adalnya lapisan atas Lord ( tuan tanah ) dan vassal ( buruh )
2.Penguasaan ( segala aspek ) lapisan atas terhap lapisan atas.
3.Adanya kepatuhan ( absolud ) lapisan bawan terhadap lapisan atas.
4.Nasib lapisan bawah sangat ditentukan oleh lapisan atas.
5.Kekuasaan dan kewenangan hanya dimiliki oleh lapisan atas.
6.Lapisan bawah tidak memiliki hak untuk berpendapat( tidak ada demokratisasi )
7.Merupakan peralihan dari budak ke buruh.
8.Lapisan atas memberikan perlindungan fisik dan nonfisik terhadap lapisan bawah sebai konsekuensi timbale balik lapisan bawah telah mengabdi kepada lapisan atas.
9.Sifat pelapisan sosialnya tertutup.
10.”Sulit sekali” terjadi mobilitas dari lapis bawah ke atas.
Eka,5 april ‘09
1.Ditandai dengan adalnya lapisan atas Lord ( tuan tanah ) dan vassal ( buruh )
2.Penguasaan ( segala aspek ) lapisan atas terhap lapisan atas.
3.Adanya kepatuhan ( absolud ) lapisan bawan terhadap lapisan atas.
4.Nasib lapisan bawah sangat ditentukan oleh lapisan atas.
5.Kekuasaan dan kewenangan hanya dimiliki oleh lapisan atas.
6.Lapisan bawah tidak memiliki hak untuk berpendapat( tidak ada demokratisasi )
7.Merupakan peralihan dari budak ke buruh.
8.Lapisan atas memberikan perlindungan fisik dan nonfisik terhadap lapisan bawah sebai konsekuensi timbale balik lapisan bawah telah mengabdi kepada lapisan atas.
9.Sifat pelapisan sosialnya tertutup.
10.”Sulit sekali” terjadi mobilitas dari lapis bawah ke atas.
Eka,5 april ‘09
Label:
MATERI PELAJARAN SOSIOLOGI
Jumat, April 03, 2009
TUGAS KELAS XI IS 1 DAN 2 , SABTU 4 APRIL 2009
TUGAS INDIVIDU.
DIKUMPULKAN.HARI INI.
KERJAKAN PADA KERTAS FOLIO BERGARIS
BUATLAH SOAL PILIHAN GANDA SEJUMLAH 20, BESERTA KUNCI JAWABANNYA.BABNYA ADALAH MOBILITAS, DIFERENSIASI SOSIAL, KONFLIK, KELOMPOK SOSIAL MAUPUN MASYARAKAT MULTIKULTUR.
EKA , 4 APRIL 2009
DIKUMPULKAN.HARI INI.
KERJAKAN PADA KERTAS FOLIO BERGARIS
BUATLAH SOAL PILIHAN GANDA SEJUMLAH 20, BESERTA KUNCI JAWABANNYA.BABNYA ADALAH MOBILITAS, DIFERENSIASI SOSIAL, KONFLIK, KELOMPOK SOSIAL MAUPUN MASYARAKAT MULTIKULTUR.
EKA , 4 APRIL 2009
TUGAS KELAS XII IS 2 , SABTU 4 APRIL 2009
TUGAS INDIVIDU.
DIKUMPULKAN.
PAKAI KERTAS FOLIO,HVS ATAU KERTAS DARI BUKU CATATAN
BUATLAH 20 SOAL OBYEKTIF BESERTA KUNCI JAWAB.BABNYA ADALAH PENELITIAN SOSIAL.
EKA, 4 APRIL 2009
DIKUMPULKAN.
PAKAI KERTAS FOLIO,HVS ATAU KERTAS DARI BUKU CATATAN
BUATLAH 20 SOAL OBYEKTIF BESERTA KUNCI JAWAB.BABNYA ADALAH PENELITIAN SOSIAL.
EKA, 4 APRIL 2009
Kamis, April 02, 2009
SOAL TRY OUT SOSIOLOGI XII IS
Latihan soal online ini boleh dikerjakan baik siswa kelas XI IS maupun XII IS.
Langkah kerja :
1. Buka : http://www.ulangan.com/
2. Regristasi siswa ( bagi yg blm py user ID/ atau user ID errrrrorrrr.
3. login
4. ikuti tes
5. pilih " try out " soal nomor 92 ( kode soal : 1968 )
6. kerjakan
7. nilai dapat di PrtSc
8. nilai dikirimkan ke email : burungterbang321@yahoo.com
9. selamat mencoba semoga Anda berhasil........
Langkah kerja :
1. Buka : http://www.ulangan.com/
2. Regristasi siswa ( bagi yg blm py user ID/ atau user ID errrrrorrrr.
3. login
4. ikuti tes
5. pilih " try out " soal nomor 92 ( kode soal : 1968 )
6. kerjakan
7. nilai dapat di PrtSc
8. nilai dikirimkan ke email : burungterbang321@yahoo.com
9. selamat mencoba semoga Anda berhasil........
SOAL ONLINE KELAS XI IS / XII IS
Latihan soal online ini dapat dikerjakan baik siswa kelas XI IS maupun XII IS.
Langkah kerja :
1. Buka : http://www.ulangan.com/
2. Regristasi siswa ( bagi yg blm py user ID/ atau user ID errrrrorrrr.
3. login
4. ikuti tes
5. pilih latihan soal nomor 91 ( kode soal : 1968 )
6. kerjakan
7. nilai dapat di PrtSc
8. nilai dikirimkan ke email : burungterbang321@yahoo.com
9. selamat mencoba semoga Anda berhasil........
Langkah kerja :
1. Buka : http://www.ulangan.com/
2. Regristasi siswa ( bagi yg blm py user ID/ atau user ID errrrrorrrr.
3. login
4. ikuti tes
5. pilih latihan soal nomor 91 ( kode soal : 1968 )
6. kerjakan
7. nilai dapat di PrtSc
8. nilai dikirimkan ke email : burungterbang321@yahoo.com
9. selamat mencoba semoga Anda berhasil........
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)