Sabtu, Agustus 15, 2009

Hasil Pengamatan Siswa di Buluspesantren

DI BALIK LAYAR PERTANDINGAN SEPAK BOLA MEMPERINGATI HARI KEMERDEKAAN RI di DESAKU

Seperti biasa setiap mendekati bulan agustus di Desaku mengadakan pertandingan sepak bola antar pedukuhan se desa Bocor,Buluspesantren Kabupaten Kebumen. Setelah 2 tahun belakangan ini tidak diadakan dikarenakan sering terjadi disintegrasi antar pedukuhan dengan pedukuhan lawannya setelah selesai bertanding. Namun untuk tahun ini digelar kembali pertandingan sepak bola sepedukuhan di desa Bocor tersebut.
Untuk tahun-tahun sebelumnya saya hanya perperan sebagai penonton karena dianggap belum cukup umur untuk ikut bertanding dengan lawan-lawan yang kebanyakan orang-orang tua di dalamnya. Untuk tahun ini aku terlibat di dalamnya sebagai pemain dan aku baru tahu hal-hal apa saja yang ada didalamnya. Di sinilah aku akan melakukan pengamatan social,sebenarnya bagaimana sih hal-hal di dalamnya..??Dari mulai persiapan 1-2 hari sebelum giliran bertanding sampai selesainya pertandingan.
Tahun ini pertandingan telah berlangsung sejak pertengahan bulan Juli lalu.
Pedukuhanku yaitu pedukuhan Pedati merupakan juara bertahan 2 x berturut-turut,untuk itu kami punya beban untuk mempertahankannya.
Dukuhku harus 5 kali bertanding. Pada saat akan pertandingan pertama mereka para pemain termasuk aku didalamnya berkumpul pada malam jum’at. Mulai dari sinilah aku mulai tahu kebiasaan-kebiasaan yang dari dulu dilakukan tiap tahunnya. Ternyata kita digiring menuju pemakaman yang ada di Dukuhku. Kita menuju sebuah makam yang disebut sebut sebagai makam orang tertua di Dukuhku, sebut saja sebagai “makam Mbae di Dukuh pedati”. Entah apa yang dilakukan, aku sendiri juga tidak tahu,,mungkin yasinan,,atau apa??
Tapi yang jelas selah selesai para seseorang yang di depan membakar kemenyan dan masing-masing pemain maju satu-satu menuju kemenyan yang dibakar tadi. Berdoa sebentar sambil menjulurkan kedua tangan diatas kemenyan tadi. Setelah selesai, tangan tadi diusapkan ke dua kaki dan tangan. Mungkin kepercayaan mereka itu bisa menbuat kakinya kuat. Setelah masing-masing pemain telah mendapat giliran kamipun pulang.
Malam sebelum pertandingan kamipun berkumpul lagi dan hal yang sama tadipun dilakukan kembali.
Sore sebelum bertanding kami berkumpul sekitar pukul 15.00. Sebelum berangkat kamipun digiring kembali menuju makam Mbae tadi.Banyak yang bilang untuk pamit dan minta restu pada Mbae. Suatu kepercayaan yang dijalankan sebelum tiba waktu giliran bertanding. Hal-hal yang sama juga dilakukan pada tiap-tiap pertandingan-pertandingan berikutnya.
Dan ternyata masih banyak juga hal yang baru saya ketahui setelah ikut dalam pertandingan ini. Sesaat sebelum pertandingan di tengah lapangan dimilai, ternyata banyak juga dari team dukuh lain yang menaruh kembang dan kemenyan di tiap-tiap gawang dan tiap-tiap sudut lapangan.
Saat pertandingan dimulai,ternyata di sini skill bukanlah factor pertama yang dibutuhkan, melainkan kekuatan fisik,otot dan mental yang kuat, karena pertandingan sepak bola di desa berbeda dengan pertandingan di sekolah antar teman. Tidak hanya para pemain yang bertanding yang perasaannya mulai memanas, para seporter dari kedua belah pihakpun mulai cek-cok dengan mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya tidak pantas. Di sinilah mental pemain diperlukan untuk kata-kata seporter dari team lain yang ditujukan padanya. Saya pernah mendengar sendiri dari dalam lapangan suatu perkataan yang tertuju padaku..”tugel bae kae sikil karo tangane,gempori!!!!!!”(dalam bahasa Kebumen)...ternyata memang kebanyakan pemain belakang (back) dari masing-masing dukuh di tugaskan untuk hal-hal tersebut, melumpuhkan pemain yang dinilai pandai agar bagian tubuh mereka dapat terluka dan akhirnya keluar dari pertandingan, sehingga lawan sudah tidak lagi memiliki pemain yang baik di dalam pertandingan.
Setelah selesai, pulang dan berkumpul, merekapun saling membicarakan apa yang terjadi di pertandingan tadi. Ada yang bilang dengan puasnya bahwa tadi dapat mencederai kaki si “A”, ada yang amat kesal karna dirinya sendiri yang dicederai, ada yang sebagai supporter bilang kalau ada isu-isu bahwa si “A" di incar untuk di cederai dalam pertandingan tadi, dan masih banyak lagi perbincangan-perbincangn yang menurutku sangat tidak layak dilakukan. Ironis memang,namun itulah adanya. Dengan segala cara mereka laukan untuk bisa menang. Bukan hadiah yang mereka pertahankan melainkan harga diri yang dibawa masing-masing pedukuhan.
Ternyata di tiap kekalahan bukan kalah dalam skill bermain sepak bola yang kebanyakan orang bicarakan, melainkan kebanyakn orang bilang hal itu disebabkan karena“kalah dukun”. Ya,ternyata di tiap-tiap dukuh masing-masing memiliki seseorang yang sebut saja “orang pintar”, termasuk di Dukuhku sendiri.
Mungkin bagi para orang yang belum tahu, pertandingn tersebut merupakan sebuah pertandingan yang dinilai biasa. Dan sebelum aku ikut serta sebagai pemain di Dukuhkupun aku menilai seperti itu..
Memang inilah suatu hal yang ada di baliknya, dan dilakukan tiap tahunnya untuk persiapan pertandingan sepak bola dalam memperingati hari kemerdekaan.


_TERIMA KASIH_

NAMA : NANA S
KELAS : XII IS 2
NO : 27

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar