Sabtu, Oktober 31, 2009

PROSES PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA

Oleh : Prof. Dr. Awan Mutakin, M.Pd
a. Pendahuluan
Dalam suatu proses modernisasi, suatu proses perubahan yang direncanakan, melibatkan semua kondisi atau nilai-nilai sosial dan kebudayaan secara integratif. Atas dasar ini, semua fihak, apakah tokoh ? Tokoh masyarakat, formal atau non-formal, anggota masyarakat lainnya, apakah dalam skala individual atau pun dalam skala kelompok, seyogianya memahami dan menyadari, bahwa, manakala salah satu aspek atau unsur sosial atau kebudayaan mengalami perubahan, maka unsur-unsur lainnya mesti menghadapi dan mengharmonisikan kondisinya dengan unsur-unsur lain yang telah berubah terlebih dulu.

Oleh karena itu mesti memahami dan menyadari bahwa sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan ada yang berkualifikasi norma (norm) dan nilai (value). Di mana norma skala keberlakuannya tergantung pada aspek waktu, ruang (tempat, dan kelompok sosial yang bersangkutan; sedangkan nilai (value) skala keberlakuannya lebih universal. Dalam tatanan masyarakat yang maju atau modern, maka nilai-nilai sosial dan kultural yang bersifat universal mendominasi dan mengisi semua mosaik kehidupan masyarakat yang bersangkutan.

b. Orientasi Perubahan
Yang dimaksudkan orientasi atau arah perubahan di sini meliputi beberapa orientasi, antara lain (1) perubahan dengan orientasi pada upaya meninggalkan faktor-faktor atau unsur-unsur kehidupan sosial yang mesti ditinggalkan atau diubah, (2) perubahan dengan orientasi pada suatu bentuk atau unsur yang memang bentuk atau unsur baru, (3) suatu perubahan yang berorientasi pada bentuk, unsur, atau nilai yang telah eksis atau ada pada masa lampau. Tidaklah jarang suatu masyarakat atau bangsa yang selain berupaya mengadakan proses modernisasi pada berbagai bidang kehidupan, apakah aspek ekonomis, birokrasi, pertahanan keamanan, dan bidang iptek; namun demikian, tidaklah luput perhatian masyarakat atau bangsa yang bersangkutan untuk berupaya menyelusuri, mengeksplorasi, dan menggali serta menemukan unsur-unsur atau nilai-nilai kepribadian atau jatidiri sebagai bangsa yang bermartabat.
Tidaklah jarang, bahwa tokoh-tokoh dan ungkapan-ungkapan yang bernuansa seni sastra pada masa lampau, baik suatu fenomena yang bernuansa imajinasi, yang ditampilkan oleh berbagai bentuk ceritera rakyat atau folklore. Semuanya lazim menyadarkan atau menampilkan nilai-nilai keteladanan, baik dalam aspek gagasan, aspek pengorganisasian dan kegiatan sosial, maupun dalam aspek-aspek kebendaan. Aspek-aspek ini senantiasa dimuati oleh nilai-nilai kearifan dan kebijakan yang memberikan acuan bagaimana orang mesti berfikir, berasa, berkarsa dan berkarya dalam upaya bertanggung jawab pada dirinya, pada sesamanya, dan pada lingkungannya, serta pada Sang Khalik Yang Maha Murbeng Alam ini. Nilai-nilai seperti inilah yang menjadi nuansa-nuansa dalam membagun kepribadian atau jatidiri sebagian besar masyarakat atau suatu kelompok bangsa dimanapun mereka berada.

Dalam memantapkan orientasi suatu proses perubahan, ada beberapa faktor yang memberikan kekuatan pada gerak perubahan tersebut, yang antara lain adalah sebagai berikut, (1) suatu sikap, baik skala individu maupun skala kelompok, yang mampu menghargai karya pihak lain, tanpa dilihat dari skala besar atau kecilnya produktivitas kerja itu sendiri, (2) adanya kemampuan untuk mentolerir adanya sejumlah penyimpangan dari bentuk-bentuk atau unsur-unsur rutinitas, sebab pada hakekatnya salah satu pendorong perubahan adanya individu-individu yang menyimpang dari hal-hal yang rutin. Memang salah satu ciri yang hakiki dari makhluk yang disebut manusia itu adalah sebagai makhluk yang disebut homo deviant, makhluk yang suka menyimpang dari unsur-unsur rutinitas, (3) mengokohkan suatu kebiasaan atau sikap mental yang mampu memberikan penghargaan (reward) kepada pihak lain (individual, kelompok) yang berprestasi dalam berinovasi, baik dalam bidang sosial, ekonomi, dan iptek, (4) adanya atau tersedianya fasilitas dan pelayanan pendidikan dan pelatihan yang memiliki spesifikasi dan kualifikasi progresif, demokratis, dan terbuka bagi semua fihak yang membutuhkannya.

Precedent dari suatu proses perubahan sosial tidak mesti diorientasikan pada isu kemajuan atau progress semata, sebab tidaklah mustahil bahwa proses perubahan sosial itu justru mengarah ke isu kemunduran atau kearah suatu regress, atau mungkin mengarah pada suatu degradasi pada sejumlah aspek atau nilai kehidupan dalam masyarakat yang bersangkutan. Suatu proses regresi atau kemunduran dan degradasi (luntur atau berkurangnya suatu derajat atau kualifikasi bentuk-bentuk atau niali-nilai dalam masyarakat), tidak hanya suatu arah atau orientasi perubahan secara linier, tetapi tidak jarang terjadi karena justru sebagai dampak sampingan dari keberhasilan suatu proses perubahan. Sebagai contoh perubahan aspek iptek, dari iptek yang bersahaja ke iptek yang modern (maju), mungkin menimbulkan kegoncangan-kegoncangan pada unsur-unsur atau nilai-nilai yang tengah berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan, yang sering disebut sebagai culture-shock atau kejutan-kejutan budaya yang terjadi pada tatanan kehidupan suatu masyarakat yang tengah menghadapi berbagai perubahan.

c. Modernisasi Sebagai Kasus Perubahan Sosial dan Kebudayaan
Modernisasi, menunjukkan suatu proses dari serangkaian upaya untuk menuju atau menciptakan nilai-nilai (fisik, material dan sosial) yang bersifat atau berkualifikasi universal, rasional, dan fungsional. Lazimnya suka dipertentangkan dengan nilai-nilai tradisi. Modernisasi berasal dari kata modern (maju), modernity (modernitas), yang diartikan sebagai nilai-nilai yang keberlakuan dalam aspek ruang, waktu, dan kelompok sosialnya lebih luas atau universal, itulah spesifikasi nilai atau values. Sedangkan yang lazim dipertentangkan dengan konsep modern adalah tradisi, yang berarti barang sesuatu yang diperoleh seseorang atau kelompok melalui proses pewarisan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Umumnya tradisi meliputi sejumlah norma (norms) yang keberlakuannya tergantung pada (depend on) ruang (tempat), waktu, dan kelompok (masyarakat) tertentu. Artinya keberlakuannya terbatas, tidak bersifat universal seperti yang berlaku bagi nilai-nilai atau values. Sebagai contoh atau kasus, seyogianya manusia mengenakkan pakaian, ini merupakan atau termasuk kualifikasi nilai (value). Semua fihak cenderung mengakui dan menganut nilai atau value ini. Namun, pakaian model apa yang harus dikenakan itu? Perkara model pakaian yang disukai, yang disenangi, yang biasa dikenakan, itulah yang menjadi urusan norma-norma yang dari tempat ke tempat, dari waktu ke waktu, dan dari kelompok ke kelompok akan lebih cenderung beraneka ragam.
Spesifikasi norma-norma dan tradisi bila dilihat atas dasar proses modernisasi adalah sebagai berikut, (1) ada norma-norma yang bersumber dari tradisi itu, boleh dikatakan sebagai penghambat kemajuan atau proses modernisasi, (2) ada pula sejumlah norma atau tradisi yang memiliki potensi untuk dikembangkan, disempurnakan, dilakukan pencerahan, atau dimodifikasi sehingga kondusif dalam menghadapi proses modernisasi, (3) ada pula yang betul-betul memiliki konsistensi dan relevansi dengan nilai-nilai baru. Dalam kaitannya dengan modernisasi masyarakat dengan nilai-nilai tradisi ini, maka ditampilkan spesifikasi atau kualifikasi masyarakat modern, yaitu bahwa masyarakat atau orang yang tergolong modern (maju) adalah mereka yang terbebas dari kepercayaan terhadap tahyul. Konsep modernisasi digunakan untuk menamakan serangkaian perubahan yang terjadi pada seluruh aspek kehidupan masyarakat tradisional sebagai suatu upaya mewujudkan masyarakat yang bersangkutan menjadi suatu masyarakat industrial. Modernisasi menunjukkan suatu perkembangan dari struktur sistem sosial, suatu bentuk perubahan yang berkelanjutan pada aspek-aspek kehidupan ekonomi, politik, pendidikan, tradisi dan kepercayaan dari suatu masyarakat, atau satuan sosial tertentu.
Modernisasi suatu kelompok satuan sosial atau masyarakat, menampilkan suatu pengertian yang berkenaan dengan bentuk upaya untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang sadar dan kondusif terhadap tuntutan dari tatanan kehidupan yang semakin meng-global pada saat kini dan mendatang. Diharapkan dari proses menduniakan seseorang atau masyarakat yang bersangkutan, manakala dihadapkan pada arus globalisasi tatanan kehidupan manusia, suatu masyarakat tertentu (misalnya masyarakat Indonesia) tidaklah sekedar memperlihatkan suatu fenomena kebengongan semata, tetapi diharapkan mampu merespons, melibatkan diri dan memanfaatkannya secara signifikan bagi eksistensi bagi dirinya, sesamanya, dan lingkungan sekitarnya. Adapun spesifikasi sikap mental seseorang atau kelompok yang kondusif untuk mengadopsi dan mengadaptasi proses modernisasi adalah, (1) nilai budaya atau sikap mental yang senantiasa berorientasi ke masa depan dan dengan cermat mencoba merencanakan masa depannya, (2) nilai budaya atau sikap mental yang senantiasa berhasrat mengeksplorasi dan mengeksploitasi potensi-potensi sumber daya alam, dan terbuka bagi pengembangan inovasi bidang iptek. Dalam hal ini, memang iptek bisa dibeli, dipinjam dan diambil alih dari iptek produk asing, namun dalam penerapannya memerlukan proses adaptasi yang sering lebih rumit daripada mengembangkan iptek baru, (3) nilai budaya atau sikap mental yang siap menilai tinggi suatu prestasi dan tidak menilai tinggi status sosial, karena status ini seringkali dijadikan suatu predikat yang bernuansa gengsi pribadi yang sifat normatif, sedangkan penilai obyektif hanya bisa didasarkan pada konsep seperti apa yang dikemukakan oleh D.C. Mc Clelland (Koentjaraningrat, 1985), yaitu achievement-oriented, (4) nilai budaya atau sikap mental yang bersedia menilai tinggi usaha fihak lain yang mampu meraih prestasi atas kerja kerasnya sendiri.
Tanpa harus suatu masyarakat berubah seperti orang Barat, dan tanpa harus bergaya hidup seperti orang Barat, namun unsur-unsur iptek Barat tidak ada salahnya untuk ditiru, diambil alih, diadopsi, diadaptasi, dipinjam, bahkan dibeli. Manakala persyaratan ini telah dipenuhi dan keempat nilai budaya atau sikap mental yang telah ditampilkan telah dimiliki oleh suatu masyarakat tersebut. Khusus untuk masyarakat di Indonesia, sejarah masa lampau mengajarkan bahwa sistem ekonomi, politik, dan kebudayaan dari kerajaan-kerajaan besar di Asia seperti India dan Cina, yang diadopsi dan diadaptasi oleh kerajaan-kerajaan di Nusantara ini, seperti Sriwijaya dan Majapahit, namun fakta sejarah tidak membuktikan bahwa orang-orang Sriwijaya dan Majapahit, dalam pengadopsian dan pengadaptasian nilai-nilai kebudayaan tadi sekaligus menjadi orang India atau Cina.
Proses modernisasi sampai saat ini masih tampak dimonopoli oleh masyarakat perkotaan (urban community), terutama di kota-kota Negara Sedang Berkembang, seperti halnya di Indonesia. Kota-kota di negara-negara sedang berkembang menjadi pusat-pusat modernisasi yang diaktualisasikan oleh berbagai bentuk kegiatan pembangunan, baik aspek fisik-material, sosio-kultural, maupun aspek mental-spiritual. Kecenderungan-kecenderungan seperti ini, menjadikan daerah perkotaan sebagai daerah yang banyak menjanjikan kehidupan yang lebih baik bagi penduduk pedesaan, terutama bagi generasi mudanya. Obsesi semacam ini menjadi pendorong kuat bagi penduduk pedesaan untuk beramai-ramai membanjiri dan memadati setiap sudut daerah perkotaan, dalam suatu proses sosial yang disebut urbanisasi. Fenomena demografis seperti ini, selanjutnya menjadi salah satu sumber permasalahan bagi kebijakan-kebijakan dalam upaya penataan ruang dan kehidupan masyarakat perkotaan. Sampai dengan saat sekarang ini masalah perkotaan ini masih menunjukkan gelagat yang semakin ruwet dan kompleks.
Sumber: http://mgmpips.wordpress.com/2007/03/05/proses-perubahan-sosial-budaya/

Sabtu, Oktober 24, 2009

NILAI UTS SOSIOLOGI KELAS XI IS , SEM .1 Th 2009-2010



Tetaplah terus belajar hingga tercapai cita-citamu..Amin

DAFTAR NILAI UTS SEM.1 TH.2009-2010, MAPEL SOSIOLOGI KELAS XII IS



Selamat bagi kalian yang telah mencapai nilai batas tuntas dan
bagi yang belum tuntas masih ada waktu untuk belajar .
Semoga di ujian nasional 2010 kalian lebih siap.
Salam sejahtera bagi kalian semua.
Mohon maaf atas segala kesalahan yang pernah saya lakukan.

Sabtu, Oktober 10, 2009

Masalah Pokok Nilai dalam Masyarakat ( Sitorus, 2000 : 30 )

Menurut Kluckhon , semua nilai dalam setiap kebudayaan pada dasarnya memiliki 5 masalah pokok, yaitu :
1. Nilai mengenai hakikat hidup manusia.
2. Nilai mengenai hakikat karya manusia.
3. Nilai mengenai hakikat kedudukan manusia dalam ruang dan waktu.
4. Nilai mengenai hakikat hubungan manusia dengan alam.
5. Nilai mengenai hakikat manusia dengan sesamanya.

CIRI-CIRI NILAI ( Sarilan.M Ali, 2007 : 15 )

1. Terbntuk melalui proses belajar dan melalui interaksi social antarindividu maupun antar kelompok masyarakat.
2. Memiliki pengaruh yang berbeda-beda terhadap setiap individu karena pernbedaan antara kebudayaan yang satu dengan yang lain.
3. Terseleksi dari berbagai aspek kehidupan.
4. Dapat mempengaruhi pembentukan kepribadian seseorang dan dapat disosilaisasikan melalui komunikasi dan pergaulan di masyarakat.

Kamis, Oktober 08, 2009

Peran di Masyarakat

Peran yang melekat pada diri seseorang, harus dibedakan dengan posisi dalam pergaulan di masyarakat.Posisi merupakan unsur statis yang menunjukkan tempat individu dalam organisasi di masyarakat. Sedangkan peran lebih menunukkan pada fungsi, artinya seseorang yang menduduki posisi tertentu dalam msyarakat dan menjalankan peran yang melekat pada posisi tersebut.Suatu peran yang dimiliki oleh individu mencakup 3 hal, yaitu :
1. peran meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi seseorang di masyarakat.
2. peran merupakan suatu konsep ikhwal apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat.
3. peran merupakan perilaku individu yang penting bagi struktur sosial di masyarakat.
sumber J.Dwi Narwoko,2007.

Rabu, September 30, 2009

Perbedaan Stratifikasi sosial dan diferensiasi sosial.

Secara simpel perbedaan stratifikasi sosial dengan diferensiasi sosial adalah :

stratifikasi sosial adalah pembedaan warga masyarakat ke dalam kelas-kelas sosial secara bertingkat ( bawah, tengah, atas ).
maksudnya : diwarga masyarakat terdapat perbedaan kepemilikan ukuran pelapisan sosial.Warga masyarakat yang kaya maka ditempatkan di stata paling atas. dan sebaliknya.

diferensiasi sosial : pembedaan/pengelompokan warga masyarakat ke dalam kelompok-kelompok sosial secara sejajar/horizontal.
maksudnya : di masyarakat terdapat warga, bila dikelompokkan sesuai dengan identitas kelompoknya akan terlihat adanya perbedaan ciri kelompoknya, Antarkelompok satu dengan yang lain tidak ada perbedaan tinggi rendahnya stratanya.
misal: kelompok yang didasarkan agama , ada kelompok agama Islam, Nasrani , Hindu dll.

Rabu, September 16, 2009

Bagian Proposal


Berikut contoh bagian proposal

Senin, September 07, 2009

Penggolongn Perilaku Menyimpang

1. Tindakan nonconform, yaitu tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai atau norma-norma yang berlaku.Contohnya menegenakan sandal butut ke kampus, meninggalkan jam-jam kuliah, merokok do area larangan merokok, membuang sampah bukan pada tempatnya dsb.
2. Tindakan antisocial, tindakan yang melawan kebiasaan masyarakat atan kepentingan umum. Bentuk tindakan itu antara lain: menarik diri dari pergaulan, tidak mau berteman, keinginan untuk bunuh diri, minum-minumman keras, menggunakan narkotika, homoseksual dll.
3. Tindakan kriminanl, yaitu tindakan yang nyata-nyata telah melanggar hokum tertulis dan mengancam jiwa atu keselamatan orang lain.Misalnya : pencurian, perampokan, perkosaan pembunuhan, korupsi dll.

Sumber bacaan: J.D Narwoko, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, 2007

Minggu, September 06, 2009

Self Motivated Learning (Belajar Mandiri )

Keberhasilan belajar dan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh banyak factor, mulai dari minat belajar siswa, cara penyampaian materi , bahan ajar dan masih banyak factor yang lain.

Pendekatan pembelajaran juga merupakan suatu factor yang ikut mempengaruhi keberhasilan suatu proses belajar / pembelajaran. Selama ini masih banyak kegiatan pembelajaran yang berpusat pada guru. Guru menjadi pusat perhatian dalam setiap kegiatan pembelajaran. Suatu pendekaran pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subyek pembelajaran kurang tersentuh. Seorang guru belum menyentuh lebih dalam kepada peserta didiknya. Peserta didik hanya sebatas dijadikan obyek pembelajaran. Guru hanya sebatas menyampaikan materi pelejaran kepada siswa, dengan tidak memperhatikan bahwa pada diri siswa berminat , tertarik dan termotivasi terhadap materi pelajaran yang disampaikan oleh guru tersebut. Dengan jkondisi pembelajaran tersebut maka hasil dari proses pembelajaran kurang maksimal. Sudah saatnya perlu untuk dicoba suatu pendekatan pembelajaran yang sdikenal dengan istilah “ Self Motivated Learning”

Belajar mandiri adalah kegiatan belajar aktif, yang didorong oleh niat dan motif untuk menguasai suatu kompetensi guna mengatasi suatu masalah, dan dibangun dengan bekal pengetahuan dan kompetensi yang dimiliki. Penetapan kompetensi sebagai tujuan belajar, cara pencapaiannya, waktu belajar, tempat belajar, sumber belajar maupun evaluasi belajar ditentukan oleh pembelajar sendiri ( Haris Mudjiman, 2008 )

Keberhasilan belajar mandiri dipengaruhi oleh a.l . kekuatan motivasi belajar, kemampuan belajar dan ketersediaan sumber belajar.( Haris M, 2008 ). Pada kenyataannya ke tiga hal tersebut menjadi kendala diberbagai lembaga pendidikan. Misalnya , rendanya motivasi anak untuk belajar/ membaca / mengikuti kegiatan pembelajaran. Ditambah lagi kurangnya sumber bahan belajar yang memadahi.

Kamis, Agustus 20, 2009

Karnaval di Kebumen, Rabu 19 Agustus 2009

Karnaval merupakan suatu kegiatan yang rutin dilakukan oleh beberapa masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat Kebumen. Berbagai hasil pembangunan di sajikan dalam acara karnaval tahun ini. Kedepan kegiatan karnaval ini perlu ditata sedemikian rupa sehingga pelaksanaan karnaval ini dapat berjalan dengan baik.u yang terbuang.Jarak antara peserta satu dengan yang lain cukup jauh sehingga banyak wakt Hingga pukul 17.30 kegiatan ini belum selesai sehingga banyak pononton telah meninggalkan tempat. Lebih baik dilaksanakan pagi hari sehingga waktu lebih longgar sehingga semua peserta karnaval dapat menunaikan kegiatan karnaval hingga tuntas, atau diatur sedemikian rupa sehingga karnaval dapat berjalan dengan baik.Berikut ini adalah beberapa gambar kegiatan karnaval di Kebumen











Sabtu, Agustus 15, 2009

Assalammualaikum
Bagi anda yang ingin menjelajahi peta di dunia , lengkap dengan informasi didalamnya, dapat anda kunjungi situs ini...http://www.panoramio.com/map/#lt=-7.648812&ln=109.679089&z=2&k=2&a=1&tab=1....
semoga informasi ini bermanfaat....wasaalam

Hasil Pengamatan Siswa di Buluspesantren

DI BALIK LAYAR PERTANDINGAN SEPAK BOLA MEMPERINGATI HARI KEMERDEKAAN RI di DESAKU

Seperti biasa setiap mendekati bulan agustus di Desaku mengadakan pertandingan sepak bola antar pedukuhan se desa Bocor,Buluspesantren Kabupaten Kebumen. Setelah 2 tahun belakangan ini tidak diadakan dikarenakan sering terjadi disintegrasi antar pedukuhan dengan pedukuhan lawannya setelah selesai bertanding. Namun untuk tahun ini digelar kembali pertandingan sepak bola sepedukuhan di desa Bocor tersebut.
Untuk tahun-tahun sebelumnya saya hanya perperan sebagai penonton karena dianggap belum cukup umur untuk ikut bertanding dengan lawan-lawan yang kebanyakan orang-orang tua di dalamnya. Untuk tahun ini aku terlibat di dalamnya sebagai pemain dan aku baru tahu hal-hal apa saja yang ada didalamnya. Di sinilah aku akan melakukan pengamatan social,sebenarnya bagaimana sih hal-hal di dalamnya..??Dari mulai persiapan 1-2 hari sebelum giliran bertanding sampai selesainya pertandingan.
Tahun ini pertandingan telah berlangsung sejak pertengahan bulan Juli lalu.
Pedukuhanku yaitu pedukuhan Pedati merupakan juara bertahan 2 x berturut-turut,untuk itu kami punya beban untuk mempertahankannya.
Dukuhku harus 5 kali bertanding. Pada saat akan pertandingan pertama mereka para pemain termasuk aku didalamnya berkumpul pada malam jum’at. Mulai dari sinilah aku mulai tahu kebiasaan-kebiasaan yang dari dulu dilakukan tiap tahunnya. Ternyata kita digiring menuju pemakaman yang ada di Dukuhku. Kita menuju sebuah makam yang disebut sebut sebagai makam orang tertua di Dukuhku, sebut saja sebagai “makam Mbae di Dukuh pedati”. Entah apa yang dilakukan, aku sendiri juga tidak tahu,,mungkin yasinan,,atau apa??
Tapi yang jelas selah selesai para seseorang yang di depan membakar kemenyan dan masing-masing pemain maju satu-satu menuju kemenyan yang dibakar tadi. Berdoa sebentar sambil menjulurkan kedua tangan diatas kemenyan tadi. Setelah selesai, tangan tadi diusapkan ke dua kaki dan tangan. Mungkin kepercayaan mereka itu bisa menbuat kakinya kuat. Setelah masing-masing pemain telah mendapat giliran kamipun pulang.
Malam sebelum pertandingan kamipun berkumpul lagi dan hal yang sama tadipun dilakukan kembali.
Sore sebelum bertanding kami berkumpul sekitar pukul 15.00. Sebelum berangkat kamipun digiring kembali menuju makam Mbae tadi.Banyak yang bilang untuk pamit dan minta restu pada Mbae. Suatu kepercayaan yang dijalankan sebelum tiba waktu giliran bertanding. Hal-hal yang sama juga dilakukan pada tiap-tiap pertandingan-pertandingan berikutnya.
Dan ternyata masih banyak juga hal yang baru saya ketahui setelah ikut dalam pertandingan ini. Sesaat sebelum pertandingan di tengah lapangan dimilai, ternyata banyak juga dari team dukuh lain yang menaruh kembang dan kemenyan di tiap-tiap gawang dan tiap-tiap sudut lapangan.
Saat pertandingan dimulai,ternyata di sini skill bukanlah factor pertama yang dibutuhkan, melainkan kekuatan fisik,otot dan mental yang kuat, karena pertandingan sepak bola di desa berbeda dengan pertandingan di sekolah antar teman. Tidak hanya para pemain yang bertanding yang perasaannya mulai memanas, para seporter dari kedua belah pihakpun mulai cek-cok dengan mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya tidak pantas. Di sinilah mental pemain diperlukan untuk kata-kata seporter dari team lain yang ditujukan padanya. Saya pernah mendengar sendiri dari dalam lapangan suatu perkataan yang tertuju padaku..”tugel bae kae sikil karo tangane,gempori!!!!!!”(dalam bahasa Kebumen)...ternyata memang kebanyakan pemain belakang (back) dari masing-masing dukuh di tugaskan untuk hal-hal tersebut, melumpuhkan pemain yang dinilai pandai agar bagian tubuh mereka dapat terluka dan akhirnya keluar dari pertandingan, sehingga lawan sudah tidak lagi memiliki pemain yang baik di dalam pertandingan.
Setelah selesai, pulang dan berkumpul, merekapun saling membicarakan apa yang terjadi di pertandingan tadi. Ada yang bilang dengan puasnya bahwa tadi dapat mencederai kaki si “A”, ada yang amat kesal karna dirinya sendiri yang dicederai, ada yang sebagai supporter bilang kalau ada isu-isu bahwa si “A" di incar untuk di cederai dalam pertandingan tadi, dan masih banyak lagi perbincangan-perbincangn yang menurutku sangat tidak layak dilakukan. Ironis memang,namun itulah adanya. Dengan segala cara mereka laukan untuk bisa menang. Bukan hadiah yang mereka pertahankan melainkan harga diri yang dibawa masing-masing pedukuhan.
Ternyata di tiap kekalahan bukan kalah dalam skill bermain sepak bola yang kebanyakan orang bicarakan, melainkan kebanyakn orang bilang hal itu disebabkan karena“kalah dukun”. Ya,ternyata di tiap-tiap dukuh masing-masing memiliki seseorang yang sebut saja “orang pintar”, termasuk di Dukuhku sendiri.
Mungkin bagi para orang yang belum tahu, pertandingn tersebut merupakan sebuah pertandingan yang dinilai biasa. Dan sebelum aku ikut serta sebagai pemain di Dukuhkupun aku menilai seperti itu..
Memang inilah suatu hal yang ada di baliknya, dan dilakukan tiap tahunnya untuk persiapan pertandingan sepak bola dalam memperingati hari kemerdekaan.


_TERIMA KASIH_

NAMA : NANA S
KELAS : XII IS 2
NO : 27

Selasa, Agustus 11, 2009

Tugas Siswa tentang Pengamatan Gejala Sosial

PENGAMATAN SOSIAL

Pengamatan social yang saya ambil yaitu tentang pembangunan mushola yang terjadi di masyarakat tempat saya tinggal. Di setiap desa mesti mempunyai mushola yang digunakan untuk beribadah masyarakat secara bersama-sama. Berdasarkan pengamatan,sebelum pembangunan dilaksakan masyarakat mengadakan musyawarah bersama. Karena mushola tersebut akan digunakn bersama-sama. Tiap minggunya warga mengadakan kumpulan RT untuk saling memusyawarahkan tentang bagaimana cara mengembangkan lingkungan sekitarnya seperti pembangunan mushola, perbaikan jalan / jembatan dan kegiatan-kegiatan lainnya. Ternyata untuk membangun mushola tersebut telah jauh-jauh hari dipikirkan dan masyarakat telah mempersiapkan dana untuk pembangunan dari kas RT yang tiap minggunya mereka kumpulkan. Pembangunan mushola membutuhkan cukup banyak uang. Selain dari kas RT mereka mendapatkan tambahan uang dari para donatur,yang kebanyakan dari masyarakat itu sendiri.

Untuk memperlancar pembangunan masyarakat juga telah membentuk suatu panitia, agar pembangunan itu dapat dilaksanakan dengan baik. Tiap masyarakat ayng ditunjuk akan menjalankan tugasnya masing-masing. Dalam pembangunan itu masyarakat tidak menggunakan tenaga bantuan tetapi masyarakat itu sendiri yang mengerjakan pembangunan secara gotong royong. Warga masyarakat mengerjakan pembangunanya secara bergatian sesuai jadwal yang telah dibentuk berdasarkan kelompok. Mereka yang bekerja tidak ingin mendapatkan imbalan, karena hasil pembangunannya akan dirasakan oleh masyarakat itu sendiri. Tiap harinya juga masyarakat diminta bantuannya untuk memberikan makanan seikhlasnya secara bergantian sesuai jadwal masing-masing. Masyarakat tidak merasa keberatan dengan hal tersebut sebab rasa solidaritas antar warga masih sangat erat.

Pembangunan yang dikerjakan secara bergotong royong ini lebih cepat terselesaikan dan tidak memakan waktu yang panjang sehingga dapat digunakan segera. Dengan biaya yang seadanya masyarakat akan memperoleh hasil yang sangat luar biasa, sebab mereka melakukanya semua semata-mata juga untuk beribadah. Dalam pembangunan ini tidak hanya pihak tua yang mengerjakannya tapi para pemuda juga ikut gotongroyong membantu yang lain. Dalam hal ini yang harus dibutuhkan adalah rasa persatuan dan kesatuan yang tinggi untuk bersama, tidak saling egois. Sedikit demi sedikit pembangunan terselesaikan berkat gotongroyong masyarakat itu sendiri. Dalam pembangunan ini tidak ada masyarakat yang dibeda bedakan, entah itu dari orang kaya ataupun miskin,itu semua untuk kepentingan bersama. Masyarakat tersebut tidak ingin yang mewah, tetapi mereka lebih mengutamakan kegunaan/ manfaat dari mushola itu. Selain untuk beribadah, mushola tersebut digunakan untuk masyarakat saling berinteraksi, saling mengenal satu sama lain, saling silahturahmi ketika mereka sedang beribadah bersama. Karena sekarang banyak orang yang sibuk dengan pekerjaannya sehingga orang tersebut tidak sempat bertemu dengan warga lainnya.



ADESTYA DINI SUMANTRI
XII.IS.1/3

Jumat, Agustus 07, 2009

Innalilahi wainnailaihi raji'un

Jumat, Agustus 07, 2009
Innalilahi wainnailaihi raji'un
Data WS Rendra
(1935 M - 2009 M)
Sumber : http://mualaf.com/kisah-a-pengalaman/muallaf-rohaniawan/217

Nama : WILLIBRORDUS SURENDRA BROTO RENDRA
Lahir : Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935
Meninggal : Jakarta, 7 Agustus 2009
Agama : Islam
Pendidikan :
-SMA St. Josef, Solo
-Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada
-American Academy of Dramatic Arts, New York, AS (1967)

Karir :
-Pendiri/Pemimpin dan sekaligus sebagai sutradara, penulis skenario dan pemain Bengkel Teater, Yogya (1967 -- sekarang) Sebagai penulis puisi dan drama, ia menghasilkan antara lain: -Sekda
-Perjuangan Suku Naga (drama)
-Ballada orang-orang tercinta (1957)
-Blues untuk Bonnie (1970)
-Potret Pembangunan dalam Puisi (1980) (kumpulan puisi)
-Pamphleten van een Dichter, Holland, 1979
-State of Emergency, Australia (1980) Naskah-naskah pentasnya: Bip-bop
-Oedipus Rex
-Khasidah Barzanji
-Perang Troya tidak akan Meletus

Kegiatan Lain :
-Pemain Film. Memperoleh Hadiah Puisi dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (1957)
-Anugerah Seni dari Departemen P dan K (1969)
-Hadiah Seni dari Akademi Jakarta (1975)

Alamat Rumah :
Jalan Mangga, Perumnas Depok I, Bogor

Intinya, dengan mengambil tema tertentu, tubuh bergerak karena dorongan jiwa. Gerak bisa distimulasi oleh suara musik atau bisa juga oleh suara jiwa kita sendiri. Sama sekali tak ada pola gerak. Seluruh gerak terjadi secara spontan. Tapi konsentrasi harus penuh dan hati jujur. Itulah metode latihan tubuh dan jiwa yang ternyata sangat efektif bagi aktor.

Saya memang telah memilih jalan hidup saya sebagai seniman. Sejak muda, saya telah malang-melintang di dunia teater. Bahkan, kemudian saya dikenal-sebagai "dedengkot" Bengkel Teater sewaktu masih tinggal di Yogyakarta. Melalui Bengkel Teater inilah saya telah mendapatkan segalanya: popularitas, istri, dan juga materi. Bahkan tidak tanggung-tanggung, dalam kemiskinan sebagai seniman pada waktu itu, saya dapat memboyong seorang putri Keraton Prabuningratan, BRA Sitoresmi Prabuningrat, yang kemudian menjadi istri saya yang kedua.

Tetapi justru, melalui perkawinan dengan putri keraton inilah, akhirnya saya menyatakan diri sebagai seorang muslim. Sebelumnya saya beragama Katolik. Meskipun dalam rentang waktu yang cukup panjang-setelah memperoleh 4 orang anak--perkawinan saya kandas. Tetapi, keyakinan saya sebagai seorang muslim tetap terjaga.

Bahkan, setelah perkawinan dengan istri yang ketiga, Ken Zuraida, saya semakin rajin beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan bukan suatu kebetulan, jika saya kemudian bergabung bersama Setiawan Djodi dan Iwan Falls dalam grup Swami dan Kantata Takwa.

Bagi saya, puisi bukan hanya sekadar ungkapan perasaan seorang seniman. Tetapi lebih dari itu, puisi merupakan sikap perlawanan saya kepada setiap bentuk kezaliman dan ketidakadilan. Dan, itulah manifestasi dari amar ma'ruf nahi munkar seperti yang selalu diperintahkan Allah di dalam Al-Qur'an.

"Mengingat kematian adalah bagian dari Iman".

Terima Kasih buat Mas Dodi di Bantul

Rabu, Juli 29, 2009

Kegiatan Diskusi dan Presentasi Kelas IS









Kegiatan pembelajaran yang bervariasi akan memberikan suasana kelas yang kondusif dalam penyampaian materi. Siswa tidak merasa jemu, statis, dan bosan dengan metode pembelajaran yang monoton. Sebagai seorang guru, idealnya mampu membawakan dan mengatur metode pembelajarannya , sehingga kegiatan pembelajaran akan menarik. Hal tersebut perlu untuk dilakukan agar siswa tetap konsentrasi ke pelajaran.Oelh karena itu seorang guru dituntuk untuk terus mengembangkan kemampuannya dalam penyampaian materi. Untuk penguasaan materi tidak perlu diragukan lagi karena guru sekarang sudah berstandar pendidikan S 1. Namun untuk penguasaan metode pembelajaran yang variatif , perlu untuk terus berusaha untuk menguasainya. Dengan demikian suasana KBM akan terus hidup, siswa tidak bosan dan yang penting adalah materi dapat dikuasi siswa dengan suasana yang menyenangkan.

sumber: penataran guru pemandu LPMP Jateng Januari 2009

Selasa, Juli 28, 2009

Moving Class

Hari Selasa, 28 Juli 2009 mulai melaksanakan kegiatan pembelajaran Moving Class. Kegiatan pembelajaran ini merupakan sesuatu yang sangat baru bagi institusi SMA 2 Kebumen, tentunya banyak sekali persiapan-persiapan untuk mengantisipasi segala sesuatunya yang berkaitan dengan moving class. Yang sangat mendesak adalah ketersediaan ruangan kelas yang berfungsi sebagai ruang mapel.
Pada kegiatan pembelajaran moving kelas ini bagi siswa tentunya perlu penyesuaian karena harus sering-sering berpindah ruang pembelajaran dan tentunya berpindahnya dari suatu ruang pembelajaran ke ruang pembelajaran yang lain akan memakan waktu minimal..10 menit. Hal tersebut disebabkan karena antar ruang pembelajaran berjarak cukup jauh. Apalagi bila anak tidak dengan segera untuk melakukan perpindahan ruang pembelajaran.
Dengan sering berpindah ke ruang lain dapat menyebabkan siswa cepat lelah. Bila hal ini tidak diantisipasi dapat menyebabkan kurang konsentrasinya siswa dalam belajar.
Semua hal diatas memang memerlukan penyesuaian dan kelengkapan fasilitas untuk mendukung kegiatan moving class.
Semoga semua komponen sekolah dapat bekerja dengan baik sehingga kegiatan pembelajaran moving class dapat berjalan dengan baik..salam untuk semua

Senin, Juni 22, 2009

Kepribadian

PENGERTIAN KEPRIBADIAN MENURUT BEBERAPA AHLI SOSIOLOGI

a) Menurut Horton (1982)
Kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi dan temparmen seseorang. Sikap perasaan ekspresi dan tempramen itu akan terwujud dalam tindakan seseorang jika di hadapan pada situasi tertentu. Setiap orang mempunyai kecenderungan prilaku yang baku, atau pola dan konsisten, sehingga menjadi ciri khas pribadinya.

b) Menurut Schever Dan Lamm (1998)
mendevinisikan kepribadian sebagai keseluruhan pola sikap, kebutuhan, ciri-ciri kas dan prilaku seseorang. Pola berarti sesuatu yang sudah menjadi standar atu baku, sehingga kalau di katakan pola sikap, maka sikap itu sudah baku berlaku terus menerus secara konsisten dalam menghadapai situasi yang di hadapi.

2. Karakter menurut Sigmund Freud adalah
Character is a striving system which underly behaviour,
kurang lebih artinya :sebagai kumpulan tata nilai yang mewujud dalam suatu sistem daya dorong (daya juang) yang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku, yang akan ditampilkan secara mantap.

Oleh Soemarno Soedarsono
------------------------------------
Penampilan seseorang secara utuh dapat digambarkan dengan suatu simbol yang berisi tiga lapis.
1. Lapisan yang paling luar menunjukkan kepribadian yang ditampilkan keseharian (yang juga berisi identitas dan temperamen),
2. lapisan kedua adalah karakter dan
3. lapisan paling dalam adalah jati diri.

Kepribadian yang kita tampilkan keseharian sering belum menampilkan karakter kita yang sesungguhnya. Mengenal karakter seseorang diperlukan waktu yang cukup lama untuk dapat mengetahuinya. ( Pelita. 22 Juni 2009 )

Jumat, Juni 19, 2009

Perlukah Ada Peraturan Khusus tentang dunia maya / Facebook atau Blog?

Dunia maya memang menjanjikan kebebasan yang tidak terbatas. Dunia maya menjadi suatu media baru untuk menyebarkan informasi yang efektif, baik informasi yang baik maupun informasi yang tidak baik. Facebook sebagai suatu media yang berkaitan dengan dunia maya menjadi salah satu media paforit untuk menulis. Pemilik facebook dan beserta teman-temannya yang telah menjadi komunitasnya akan dengan mudah menuangkan gagasan, ide dan pesan-pesan yang saling diberikan kepada temannya.
Facebook atau blog memang terlahir dari dunia Barat yang tentunya budaya barat yang mendominasi ke dua hal tersebut, dengan cirri khasnya kebebasan yang “sebebas-bebasnya”.Nah ketika di era globalisasi ini maka mau tidak mau kita juga akan merasakan pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di dunia maya. Kita akan terbawa /terseret budaya barat yang mengedepankan kebebasan tersebut. Sehingga seolah-olah kita bebas “tanpa batas “ dalam menuangkan pikiran di dunia maya. Tentunya kita juga harus memperhatikan jati diri kita sebagai Negara Timur yang tentunya memiliki budaya tersendiri. Okelah kita memanfaatkan blog, facebook dan sejenisnya dalam memenuhi kebutuhan hidup ( dunia maya ) namun hendaklah kita tidak meninggalkan budaya kita sendiri.
Sebagai Negara Timur tentunya memiliki etika dalam melaksanakan interaksi sosialnya. Artinya kebebasa melalui dunia maya dilakukan dengan penuh tanggung jawab dengan berdasarkan kaidah yang berlaku di dunia Timur. Bila kita tidak memiliki kode etik/ peraturan/ aturan main di dunia maya ( diantaranya face book ) maka dikhawatirkan efek negatif dari “pengguna facebook/ blog” akan semakin merajalela. Dengan demikian bila kita sudah memiliki kode etik/ peraturan dunia maya maka apabila seseorang yang menulis/ mempublikasikan tulisannya harus memperhatikan kaidah yang berlaku. Pada pasal 27 ayat 3, disana memang telah disinggung tentang penghinaan atau pencemaran nama baik melalui internet. Namun pada UU ITE tersebut ternyata belum secara spesifik mengatur tentang facebook atau blog atau yang sejenisnya.
Misalnya :
ada seorang yang menghina orang lain dengan kata-kata yang tidak pantas bagi dunia Timur.
Bila ada kasus seperti ini bagaimana cara penyelesainnya ? Bagaimana tindak lanjutnya ? sementara pada pasal 27 UU ITE tersebut didak secara rinci mengupas tentang hal tersebut. Pada UU ITE lebih menitikberatkan pada perdagangan elektronik.
Kesimpulannya ..Perlukah kita memiliki peraturan yang mengatur tentang dunia maya/blog/facebook ?
Cuplikan pasal 27, ayat 3 dan 4 UU ITE :



Bila ingin mengetahui UU ITE lihat situs ini :
http://www.scribd.com/doc/2362550/UU-ITE?autodown=pdf

Rabu, Juni 17, 2009

Belajar Meningkatkan Kepekaan Social

Kita perlu belajar meningkatkan kepekaan social. Dengan kepekaan social yang tinggi kita akan dapat menjalankan seluruh aktivitas dan tindakan social dilingkungan kita berada dengan nyaman. Namun bila kepekaan social kita rendah maka berbagai masalah akan kita jumpai.
Misalnya, ketika kita berada dilingkungan pedesaan maka kita harus mau memahami, mempelajari segala sesuatu yang berlaku di daerah tersebut. Misalnya di suatu desa akan merasa tidak nyaman bila terdapat suatu aktivitas dari anggotanya yang bertentangan dengan kaidah yang berlaku di daerah tersebut. Bila pada hari-hari biasa di daerah itu terasa nyaman, tenang dan hening. Namun bila tiba-tiba terdapat suatu kegiatan “ band music “ dengan sound system yang begitu keras maka akan mengganggu ketenangan dan kenyamanan di daerah itu. Dan ditambah lagi aktivitas “ band itu “ berlangsung hingga larut malam ( melebihi jam 22.00 ) tentunya akan semakin mengurangi kenyamanan untuk beristirahat di malam hari. Kegiatan yang dipandang dan dirasakan oleh masyarakat setempat mengganggu system sosialnya maka dapat menimbulkan rasa tidak senang. Rasa tidak senang yang bertumpuk-tumpuk akan memupuk kebencian. Apabila kebencian sudah memuncak maka akan menimbulkan tindakan “ konflik”. Oleh karena itu perlunya kita untuk memiliki kepekaaan social yang tinggi.
Kita dapat mengatur kegiatan, misalnya kita batasi sampai dengan pukul 21.00. Atau kita dapat menggunakan sound system dengan suara yang diperkecil sehingga suara yang dihasilkan oleh sound system itu tidak mengganggu lingkungan sekitar .Atau kita menyewa sebuah gedung pertunjukan yang jauh dari lingkungan masyarakat setempat. Atau di musyawarahkan antara warga masyarakat dengan suatu institusi yang menjalankan aktivitas tersebut.
Perlu kita sadari bahwa di masyarakat semua unsure itu saling terkait sehingga akan membentuk suatu system. Misalnya suatu lembaga pendidikan akan berhasil dalam melaksanakan tugas pendidikannya manakala dapat berinteraksi dengan baik terhadap lingkungan masyarakat dimana lembaga pendidikan itu berada. Bila lembaga pendidikan itu bersikap cuek, tidak mau memahami karakter/ kaidah masyarakat setempat maka akan berakibat tujuan pendidikan yang akan mengalami kendala. Selama ini “sepertinya”kurang terjalin suatu interaksi yang harmonis antara pihak lembaga pendidikan dengan lingkungan masyarakat. Seolah-olah pihak lembaga pendidikan tidak memperhatikan keberadaan dan pengaruh yang akan ditimbulkan bila keharmonisan dengan lingkungan sekitar tidak dijaga.
Idealnya ketika akan melakukan suatu aktivitas yang sekiranya akan memiliki imbas terhadap lingkungan hendaknya dipersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Segala sesuatunya harus melalui kajian social yang mendalam. Bila perlu dibuat suatu forumkerjasama antara pihak lembaga pendidikan dengan masyarakat setempat. Dengan cara demikian maka gesekan-gesekan dapat dihindari.
Semoga tulisan ini ada manfaatnya.


eka. 17 Jui 2009

Selasa, Juni 16, 2009

Teori Sosiologi

Dalam sosiologi terdapat tiga macam paradigma yaitu paradima fakta sosial, paradigma definisi sosial dan paradigma perilaku sosial.
Paradigma adalah pandangan yang mendasar dari ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan semestinya dipelajari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan. Paradigma membantu merumuskan tentang apa yang harus dipelajari, persoalan-persoalan apa yang mesti dijawab, bagaimana seharusnya menjawab serta aturan-aturan apa saja yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang dikumpulkan dalam rangka menjawab persoalan-persoalan tersebut.

1.Struktural fungsional merupakan pendekatan pada teori sosiologis yang mempelajari masyarakat sebagai unit-unit sosial yang relatif stabil dan terpola serta penyesuaian bagian-bagian tersebut ke dalam sistem keseluruhan, melihat masyarakat terdiri dari bagian-bagian yang saling bergantung dan berhubungan dengan norma-norma yang mengarahkan peranan-peranan status, berbagai status itu saling berhubungan sehingga membentuk lembaga-lembaga dalam masyarakat, lembaga-lembaga itu juga saling tergantung.

Van den Berghe telah merangkum 7 ciri-ciri umum teori struktural fungsional yakni
a.Masyarakat harus dianalisis selaku keseluruhan, selaku "sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan".
b.Hubungan sebab dan akibatnya bersifat "jamak dan timbal balik".
c.Sistem sosial senantiasa berada dalam keadaan "keseimbangan dinamis", penyesuaian terhadap kekuatan yang menimpa sistem menimbulkan perubahan minimal di dalam sistem itu.
d.Integrasi sempurna tak pernah terwujud, setiap sistem mengalami ketegangan dan penyimpangan namun cenderung dinetralisir melalui institusionalisasi.
e.Perubahan pada dasarnya berlangsung secara lambat lebih merupakan proses penyesuaian ketimbang perubahan revolusioner.
f.Perubahan adalah hasil penyesuaian atas perubahan yang terjadi di luar sistem, pertumbuhan melalui diferensiasi dan melalui penemuan-penemuan internal.
g.Masyarakat terintegrasi melalui nilai-nilai bersama.

Teori menurut Talcott Parsons
Setiap sistem mempunyai empat fungsi memaksa:
a.Adaptasi artinya setiap sistem harus menghadapi dan harus berhasil menyelesaikan masalah-masalah,
b.Pencapaian tujuan, tujuan adalah fungsi kepribadian
c.Integrasi, integrasi adalah fungsi sistem sosial dan
d.Pemeliharaan pola yang tersembunyi, pemeliharaan pola adalah fungsi kultur. Pada tingkat sistem sosial, fungsi-fungsi ini secara berurutan berhubungan dengan ekonomi, pemerintahan, hukum dan keluarga.

Sumber : penatara GR Pemandu LPMP SMG

Sabtu, Juni 13, 2009

Pesta "Kemerdekaan"

Gambar-gambar berikut ini memperlihatkan bagaimana siswa SMA dalam meluapkan kegembiraannya yang telah dinyatakan lulus Ujian Nasional. Bagaimana komentar Anda ?




Jumat, Juni 12, 2009

PENDAFTARAN DAN PENERIMAAN MAHASISWA BARU DI LIPIA TAHUN AKADEMIK 1430-1431 H/2009-2010 M.

__________________
A.Syarat PEndaftaran
1.CAlon Mahasiswa sudah tamat aliyah atau yang sederajat, utk bagian
-i'dad lughawi : nilai rata2 7 dan ijasah belum lewat 3 tahun
-i'dad takmili : nilai rata2 8 dan ijasah belum lewat 4 tahun
-i'dad syari'ah : nilai rata2 8 dan ijasah belum lewat 5 tahun
2.sehat jasmani dan rohani
3. berkelakuan baik
4. mampu berbahasa arab dengan baik (baca,tulis,dan bicara)
5. hafal al qur'an (minimal 2 juz utk takmili dan 3 juz utk syari'ah)
6. tercatat sebagai guru/dosen di sekolah/perguruan tinggi (utk diploma)
7. mengkhususkan diri sepenuhnya utk belajar di LIPIA
8. belum pernah diberhentikan dari LIPIA
9. LUlus tes tulis dan tes lisan

___________
B.BErkas yg diperlukan
1. fotokopi ijasah yg sudah dilegalisir
2. transkrip nilai dan raport terakhir
3.surat keterangan berkelakuakn baik dari kepolisian yg masih berlaku(asli)
4.surat keterangan sehat dari dokter yg masih berlaku(asli)
5.fotokopi KTP yg masih berlaku
6.pasfoto terbaru : 4x6=2 lbr,3x4=2lbr,2x3=2lbr
7.rekomendasi dari sekolah atau tokoh masyarakat
______________
C.Masa Belajar
- i'dad lughawi(persiapan bahasa):2 tahun
- takmili (pra universitas):1 tahun
- syari'ah (universitas):4 tahun
- diploma (program guru bhs arab):1 tahun (2 semester)
* tahun pelajaran baru(2009-2010) akan dimulai : Kamis 1 Oktober 2009 M
__________________
tanggal ujian masuk utk tahun ajaran 2009 ini:
I'dad Lughawi dan Takmili :
- 22 s.d 26 juni 2009M
- 29 juni 2009M
- 1 Juli 2009M

Syari'ah :
- 22 s.d 26 JUni 2009M
- 29 JUni 2009 M
________________

_________________
Keterangan lebih lanjut :
alamat:jl.buncit raya no.5A Ragunan Jaksel PO.BOX 3345 JAkarta 10002 - Cable : MAHADIA JAKARTA Telp : 7814485-7814486 Fax.7826002.

Detik-Detik Pengumuman Hasil UN SMA 2009

Assalaamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh
Ujian Nasinal tingkat SMA telah berlalu, kini tiba saatnya untuk diumumkan. Berharap dengan disertai dengan kecemasan yang mendalam.Dalam hati siswa tentunya berharap bahwa pengumuman UN yang rencana akan diumumkan esok, hari sabtu, 13 Juni 2009 adalah saat-saat yang menyenangkan, dengan hasil LULUS. Namun demikian kecemasan juga melanda mereka.Jangan,jangan surat keterangan kelulusan tertulis dengan jelas..TIDAK LULUS.
Dari tahun ketahun UN selalu mengundang dilematis. Salah satunya UN dijadikan alat untuk mengukur tingkat keberhasilan pendidikan di suatu daerah maupun secara nasional. Namun disisi lain UN juga menjadi tolok ukur kelulusan bagi siswa. Bila nilai UN yang diperoleh siswa tidak sesuai dengan batas kelulusan maka ia harus menelan pil pahit. Bagaimana tidak masa pendidikan yang selama 3 tahun harus gagal hanya hitungan hari saja.
Memang bila kita tidak menggunakan UN, tampaknya sulit untuk mengukur keberhasilan pendidikan. Namun kalau UN dijadikan penentu dominan bagi kelulusan siswa, ini saya tidak setuju. Pendidikan seharusnya dipandang sebagai suatu proses. Proses pendidikan diawali dari semester 1 hingga 6. Dalam pendidikan juga terdapat proses pembelajaran dari sem 1-sem 6. Seharusnya penilaian yang dilakukan harus mencakup selama proses pembelajaran itu berlangsung. Begitu pula penilaian untuk menentukan kelulusan siswa harus mengacu kesana, yaitu melakukan penilaian selama proses pembelajaran berlangsung. Sehingga hasil dari penilaian akhir itu benar-benar menggambarkan kemampuan siswa dalam menguasai Standar Kompetensi dan kompetensi standar serta KKM yang telah ditentukan oleh pihak sekolah ketika menyusun kurikulumnya. Lebih ideal lagi bahwa yang melakukan penilaian baik awal maupun penilaian kelulusan adalah guru yang mengajar secara langsung. Karena guru yang mengajar tersebut yang paling mengetahui tingkat kemampuan dan tingkat penguasaan siswa terhadap SK dan KD yang telah ditentukan.
Dengan mengacu alur berfikir diatas maka penulis mengusulkan kepada pembuat kebijakan bahwa :
1. Ujian Nasional jangan dijadikan ukuran dominan bagi penentuan kelulusan siswa.
2. Pihak sekolah/ guru diberikan kewenangan untuk melakukan penilaian kelulusan peserta didik.
3. Dasar penilai kelulusan hendaknya memperhatikan penguasaan SK dan KD peserta didik sejak semester 1 hingga 6.Artinya nilai rapor sem 1 hingga 6 juga dijadikan variable dalam penentuan kelulusan siswa.
4. Penentuan kelulusan siswa tidak hanya dipandang dari segi kognitif saja namun juga memperhatikan segi afektif atau sikap.

Saya berpesan kepada seluruh peserta didik ( tingkat SLTA ) agar dapat bersikap secara arif dan bijaksana dalam menanti hasil ujian nasional, yang rencananya akan diumumkan hari sabtu 13 Juni 2009.
1. Bagi kalian yang dinyatakan lulus, jangan melakukan bukti syukur secara berlebihan atau melanggar norma masyarakat.
2. Bagi kalian yang dinyatakan tidak lulus UN maka bersabarlah, karena dibalik suatu peristiwa pastilah ada hikmahnya. Masih ada hari esok untuk memperbaiki diri.

Akhirnya selamat mensyukuri atas karunia ALLOH yang telah diberikan kepada kalian semua.
Saya turut berdo’a semoga kalian diberikan nikmat berupa LULUS UJIAN NASIONAL.
wassalaamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh.
eka, jumat, 12 juni 2009, jam.17.24

Kamis, Juni 11, 2009

Pandangan Sosiologi Terhadap Fecebook

Facebook situs web jejaring sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004 dan didirikan oleh Mark Zuckerberg, seorang lulusan Harvard dan mantan murid Ardsley High School. Keanggotaannya pada awalnya dibatasi untuk siswa dari Harvard College. Setelah itu keanggotaannya ditambah ke universitas-universitas lain di Amerika, hingga akhirnya facebook merupakan situs jejaringan yang sangat fenomenal ini, merupakan situs jejaring sosial yang paling sukses di dunia, melapaui Friendster yang merupakan situs serupa. Maka tak heran jika situs ini menjadi favorit sebagai media pertemanan atau silahturahmi tanpa batas ruang dan waktu.
Sosiologi adalah ilmu yang mengkaji berbagai hubungan social yang terjadi di masyarakat.Penemuan unsure budaya baru ini , juga dapat menjadi kajian sosiologi. Dengan kajian sosiologi yang obyektif maka diharapkan kehadiran facebook ini dapat meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Perlu kajian data empiris tentang facebook ini , apakah memberikan pengaruh positif ataukan pengaruh negatif yang lebih dominan di masyarakat.
Setiap anggota masyarakat akan sangat tergantung sekali dengan individu lainnya. Karena pada dasarnya manusia memiliki kelemahan / kekurangan dalam memenuhi kebutuhannya. Dalam proses hubungan tadi dapat diakukan baik secara langsung maupun tidak secara langsung. Bila secara langsung maka anggota masyarakat yang berinteraksi tersebut dapat bertatap muka secara langsung maupun menggunakan suatu media. Dengan adanya facebook ini anggota masyarakat dapat menjalin interaksi lebih luas, lebih mendalam dan tidak hanya terbatas pada lingkungan fisik semata.
Ikatan-ikatan emosional disuatu tempat akan semakin menipis dan mungkin dapat pudar dan berganti dengan ikatan emosional lebih luas bahkan dengan facebook ini batas Negara, batas wilayah tidak lagi menjadi penghambat dalam proses interaksi tersebut. Masyarakat akan terbawa dalam suatu budaya global, tidak lagi berada dalam budaya local. Oleh karena itu untuk mengantisipasi pengaruh negative dari facbook ini perlu adanya kajian yang lebih mendalam. Karena sulit sekali rasanya di era kebebasan ini akses internet dikebiri lagi. Yang terpenting kita siapkan mentalitas bangsa yang kokoh sehingga dampak begatif dari facebook tidak masuk dalam kehidupan bangsa Indonesia.
Perlu diakui bahwa kelahiran facebook ini merupakan suatu hal yang luar biasa. Banyak sekali manfaat yang bias diperoleh. Kita dapat bertukarpikiran dengan warga Negara lain.Kita dapat menjalin tali silaturahmi antar bangsa, kita dapat dengan cepat memperoleh informasi yang sedang terjadi di belahan bumi yang lain.
Dalam teori perubahan social bahwa ada suatu factor yang dapat menghambat perubahan yaitu adanya kecurigaan terhadap masuknya pengaruh/budaya baru yang dapat mengancam stabilitas masyarakat. Adanya ketertutupan warga masyarakat terhadap hal-hal baru akan mengahambat proses perubahan yang sedang brlangsung. Suatu dampak adanya masuknya pengaruh dari luar memang memiliki dua aspek baik secara positif maupun negative. Perkembangan IT dengan Facebook ini merupakan gejala menyatukan semua unsure budaya setempat menjadi budaya global. Pada masyarakat kita perlu untuk diajarkan bagaimana mensikapi terhadap masuknya pengaruh yang datag dari luar. Perlu untuk keterlibatan dari semua pihak untuk memahamkan secara arif dan bijaksana setiap unsure perubahan yang sedang berlangsung. Sangat tidak bijaksana tiba-tiba ( dengan tidak melalui pengkajian yang mendalam ) kita memvonis bahwa facebook adalah haram. Kita harus mampu memilah-milah unsure budaya yang sedang berjalan tersebut, diantaranya facebook. Yang menjadi problem terbesar adalah ketidaksiapkan “mental” masyarakat dalam memanfaatkan facebook tersebut sebagai suatu media atau sarana dalam memudahkan/memenuhi kebutuhan hidupnya. Sikap mental yang sehat perlu ditumbuhkan. Pikiran waspada memang perlu untuk mengantisipasi pengaruh negative yang muncul. Tetapi jangan membabibuta, dengan mengatakan facebook itu haram. Negara lain akan semakin maju dalam perkembangan IT , sementara Negara kita akan semakin tertinggal. Dalam era gobalisasi ini Negara yang mengauasai IT maka ialah yang akan menguasai dunia. Contoh kongkrit “ sudahkah bangsa Indonesia memiliki merk Handphon dengan hak paten nama Indonesa? Kita hanya akan menjadi Negara konsumen produk dari kemajuan IT yang dimiliki oleh Negara lain. Suatu saat nanti facebook dapat berkembang lagi kearah yang lebih dahsyat lagi. Kita di era tahun 1980 tidak mengira bahwa masyarakat akan seperti saat ini , tanpa batas Negara, tanpa batas wilayah, tanpa batas bahasa dan tanpa batas yang lain. Sesuatu yang terjadi di Negara lain dapat dengan sekejap kita ketahui.
Simak proses social ini…penemuan baru>>>>>masuk ke Negara lain>>>>>perubahan social >>>>perubahan positif/dikehendaki atau perubahan negative atau tidak dikendaki. Masuknya pengaruh dari luar ( IT atau facebook) bias saja menyebabkan disintegrasi social. Misalnya : nilai kebebasan sebebas-bebasnya yang dimiliki duania barat masuk ke Negara kita. kita Kemuadian mempengaruhi masyarakat kita sehingga berperilaku sebebas-bebasnya ( misalnya :free sex ).dengan maraknya pergaulan bebas maka system norma menjadi tidak berfungsi dengan optimal. Kemudian masyarakat akan memiliki sikap, pandangan, konsep bahwa hidup ini adalah bebas sebebasnya tanpa aturan lagi. Namun Negara kita kan memiliki kepribadian lain bahwa prinsip kebebasan yang bertanggungjawab yang didasarkan pada Dasar Negara. Asumsi ini memang belum melalui pengkajian secara mendalam. Namun secara logika hal tersebut mungkin sekali dapat terjadi. Sekarang kita tinggal membekali, mempersiapkan warga masyarakat sebagai pengguna kemajuan teknologi/ melalui face book ini agar dapat secara arif dan bijaksana dalam memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Selasa, Juni 09, 2009

Nilai Ulangan Akhir Semester 2 Mapel Sosiologi Kl. XI IS Th.2008-2009

Siswa yang memperoleh nilai UAS Sem 2 kurang dari 6,6 maka harus mengerjakan soal dibawah ini dengan mengikuti petunjuk mengerjakan.
Petunjuk Mengerjakan :
1. Isi dengan identitas lengkap : nama, kelas, no absen.
2. Kerjakan pada kertas HVS.
3. Ditulis tangan.
4. Dikumpulkan paling lambat hari rabu, 10 Juni 2009, pukul 10.00.
Pertanyaan :
Jelaskan peran dan fungsi dari berbagai elemen yang membentuk kesatuan dalam suatu masyarakat multicultural ? dan berikan contoh kongkrit dalam kehidupan sehari-hari ?



Catatan :
1. Kesempatan untuk remidi sangat-sangat terbatas.Pada hari Kamis nilai rapor harus sudah jadi.Pada hari Jumat akan dirapatkan. Jadi hanya ada di hari Rabu untuk melakukan remidi.Setelah nilai remidi masuk, kemudian diolah dengan komponen nilai lainnya untuk membuat nilai akhir ( nilai rapor ). Jadi kalian harus memahami
kesibukan guru dalam mengolah nilai.
2. Bagi kalian yang merasa keberatan dengan remidi ini maka TIDAK PERLU UNTUK MENGUMPULKAN TUGAS.Saya akan mengolah nilai apa adanya.

Kebumen, 9 Juni 2009.Pukul: 15.45
Guru Mapel

Eka Gunawan
132 094 858

Senin, Juni 08, 2009

Hakikat Belajar dan Mengajar

Hakikat Belajar
Aktivitas yang mengharapkan perubahan tingkah laku (behavioral change) pada individu yang belajar.

Hakikat mengajar
Membantu peserta didik memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya, dan cara-cara belajar bagaimana belajar.


Pembelajaran Berbasis Kompetensi
Pembelajaran bukan hanya terbatas pada peristiwa yang dilakukan oleh guru saja, melainkan mencakup  semua peristiwa yang mempunyai pengaruh langsung pada proses belajar manusia.
Pembelajaran mencakup pula peristiwa-peristiwa yang dimuat dalam bahan-bahan cetak, gambar, program radio,  televisi, film,  slide, maupun kombinasi  dari  bahan-bahan  tersebut.

Prinsip-Prinsip Umum Pembelajaran
Respon yang berakibat menyenangkan peserta didik;
Kondisi atau tanda untuk menciptakan perilaku tertentu;
Pembelajaran yang menyenangkan;
Pembelajaran kontekstual;
Generalisasi dan pembedaan sebagai dasar untuk belajar sesuatu yang kompleks;
Pengaruh status mental terhadap perhatian dan ketekunan
Membagi kegiatan ke dalam langkah-langkah kecil;
Pemodelan bagi materi yang kompleks;
Keterampilan tingkat tinggi terbentuk dari keterampilan-keterampilan dasar;
Pemberian informasi tentang perkembangan kemampuan peserta didik;
Variasi dalam kecepatan belajar;
Persiapan/kesiapan.

Minggu, Juni 07, 2009

Sistem Pendidikan Nasional

Pelaksanaan pendidikan nasional berlandaskan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

.: Jalur Pendidikan

Jalur pendidikan terdiri atas:

1. pendidikan formal,
2. nonformal, dan
3. informal.

Jalur Pendidikan Formal

Jenjang pendidikan formal terdiri atas:

1. pendidikan dasar,
2. pendidikan menengah,
3. dan pendidikan tinggi.

Jenis pendidikan mencakup:

1. pendidikan umum,
2. kejuruan,
3. akademik,
4. profesi,
5. vokasi,
6. keagamaan, dan
7. khusus.

Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah.

Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar.

Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar bagi setiap warga negara yang berusia 6 (enam) tahun pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya.

Pendidikan dasar berbentuk:

1. Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat; serta
2. Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan Menengah

Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar.

Pendidikan menengah terdiri atas:

1. pendidikan menengah umum, dan
2. pendidikan menengah kejuruan.

Pendidikan menengah berbentuk:

1. Sekolah Menengah Atas (SMA),
2. Madrasah Aliyah (MA),
3. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan
4. Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan Tinggi

Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

Perguruan tinggi dapat berbentuk:

1. akademi,
2. politeknik,
3. sekolah tinggi,
4. institut, atau
5. universitas.

Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik, profesi, dan/atau vokasi.

Pendidikan Nonformal

Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.

Pendidikan nonformal meliputi:

1. pendidikan kecakapan hidup,
2. pendidikan anak usia dini,
3. pendidikan kepemudaan,
4. pendidikan pemberdayaan perempuan,
5. pendidikan keaksaraan,
6. pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja,
7. pendidikan kesetaraan, serta
8. pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.

Satuan pendidikan nonformal terdiri atas:

1. lembaga kursus,
2. lembaga pelatihan,
3. kelompok belajar,
4. pusat kegiatan belajar masyarakat, dan
5. majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.

Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.

Pendidikan Informal

Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.

Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.

.: Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.
Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal.

Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk:

1. Taman Kanak-kanak (TK),
2. Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk:

1. Kelompok Bermain (KB),
2. Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

.: Pendidikan Kedinasan
Pendidikan kedinasan merupakan pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen.

Pendidikan kedinasan berfungsi meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam pelaksanaan tugas kedinasan bagi pegawai dan calon pegawai negeri suatu departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen.

Pendidikan kedinasan diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal dan nonformal.

.: Pendidikan Keagamaan

Pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal.

Pendidikan keagamaan berbentuk:

1. pendidikan diniyah,
2. pesantren,
3. pasraman,
4. pabhaja samanera, dan bentuk lain yang sejenis.

.: Pendidikan Jarak Jauh

Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.

Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler.

Pendidikan jarak jauh diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional pendidikan.



.: Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus

Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.

Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi.

**Warga negara asing dapat menjadi peserta didik pada satuan pendidikan yang diselenggarakan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Daftar Istilah

Pendidikan
Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan nasional
Pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.

Sistem pendidikan nasional
Keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Peserta didik
Anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.

Jalur pendidikan
Wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

Jenjang pendidikan
Tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan.

Jenis pendidikan
Kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan.

Satuan pendidikan
Kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.

Pendidikan formal
Jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

Pendidikan nonformal
Jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.

Pendidikan informal
Jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.

Pendidikan anak usia dini
Suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Pendidikan jarak jauh
Pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi, informasi, dan media lain.

Standar nasional pendidikan
Kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Wajib belajar
Program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh Warga Negara Indonesia atas tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah.

Warga Negara
Warga Negara Indonesia baik yang tinggal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia maupun di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Masyarakat
Kelompok Warga Negara Indonesia nonpemerintah yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan.

Pemerintah
Pemerintah Pusat.

Pemerintah Daerah
Pemerintah Propinsi, Pemerintah Kabupaten, atau Pemerintah Kota.

Menteri
Menteri yang bertanggung jawab dalam bidang pendidikan nasional.

sumber : http://www.depdiknas.go.id/

STANDAR PENILAIAN

Peraturan Mendiknas
Nomor: 20 Tahun 2007
tentang
STANDAR PENILAIAN

PENILAIAN PENDIDIKAN
Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik;
Penilaian hasil belajar peserta didik dilaksanakan berdasarkan standar penilaian pendidikan yang berlaku secara nasional;
Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik;
Penilaian dapat berupa ulangan dan atau ujian.

Prinsip Penilaian
1.Sahih
2.Objektif
3.Adil
4.Terpadu
5.Terbuka
6.Menyeluruh dan berkesinambungan
7.Sistematis
8.Beracuan Kriteria
9.Akuntabel

Soal Online Biologi Kl 7

buka : www.ulangan.com
login.
ikuti tes
pilih tryout
pilih kode soal 176
password soal 1970
selamat mengerjakan

Soal Online Agama Islam Kl 2

www.ulangan.com
login---pilih try out...
Kode soal 175.
Password 1970

Media Pembelajaran

Media pembelajaran
 Media adalah alat komunikasi yang digunakan untuk membawa suatu informasi atau dapat disebut pula segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima pesan.
 Media pembelajaran adalah alat komunikasi (pembelajaran) yang digunakan untuk menyampaikan pesan/materi pembelajaran atau teknologi pembawa pesan pembelajaran
Urgensi media dalam pembelajaran
 Proses instruksional menjadi lebih menarik dan interaktif
 Jumlah waktu belajar mengajar dapat dikurangi
 Kualitas belajar dapat ditingkatkan
 Proses belajar mengajar dapat terjadi kapan dan dimana saja
 Meningkatkan sikap positif siswa terhadap proses dan bahan belajar
 Peran guru berubah ke arah positif dan produktif
Pilihan media tradisional
 Gambar, poster, Foto
 Charts, Grafik, Diagram
 Pameran, papan informasi
 Proyeksi overhead
 Slides, Filmstrips
 Rekaman kaset atau piringan
 Slides plus suara
 Film, televisi, video
 Cetak : Buku teks, modul, majalah, handout dll
 Permainan: teka-teki, simulasi
 Realia : Model, peta, boneka dll
Pilihan media teknologi mutakhir
 Media berbasis telekomunikasi : Teleconference. Teleducation
 Media berbasis mikroposesor : Permainan komputer, interaktif video dll.
Dasar pemilihan media
 Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
 Ketepatan/kesesuaian media dengan materi yang akan dibahas
 Tersedianya sarana dan prasarana
 Karakteristik audience
 Ketrampilan atau kemampuan

Dasar2 proses pembelajaran PBL dan Collaborative Learning

Dasar2 proses pembelajaran PBL
 Perkembangan ilmu dan teknologi sangat cepat
 Siswa harus disiapkan menjadi life long learner
 Perlu pemilihan bahan pembelajaran yang relevan
 Perlu melatih belajar mandiri dan kemampuan bekerjasama

Proses belajar PBL
 Identifikasi masalah
 Mengumpulkan data
 Analisa data
 Menghasilkan pemecahan
 Memilih cara pemecahan masalah
 Merencanakan penerapan pemecahan masalah
 Uji coba
 Melakukan kegiatan
Collaborative Learning
 Kerjasama dua orang/lebih untuk memecahkan masalah bersama dan mencapai tujuan tertentu.
 Perception sharing
 Problem solving dan communication group
 Hasil : berbagai pandangan dalam mengatasi/ memecahkan masalah.
 Keberhasilan pada hasil penyelesaian tugas sesuai dengan bidang keahlian.

Jumat, Juni 05, 2009

CTL dan PBL

contextual teaching and Learning (CTL)
 The CTL System is an educational process that aims to help students see meaning in the academic material the are studying by connecting academic subjucts with the context of their daily lives, that is, with the context of their personal, social and the crcumstances (Johnson, 2002)
Problem based learning (PBL)
 Menekankan student centered
 Peserta didik menentukan masalah
 Peserta didik mencari informasi
 Proses belajar mandiri

TCT dan LCT

Teacher center learning (TCT)
 Belajar pasif dan guru lebih aktif
 Siswa tidak berperan dalam perencanaan belajar
 Motivasi pembelajaran adalah dapat mengerjakan ujian
 Sebagian besar keputusan dibuat oleh pengajar.
 Pengetahuan terpisah-pisah
 Tekanan hanya pada buku ajar
 Didominasi model ceramah
 Menekankan ingatan/hafalan
 Pengajar sebagai ahli yang menyalurkan pengetahuan
Learner center Learning (LCL)
 Siswa memiliki tanggungjawab dan berperan aktif
 Merancang kegiatan belajar, interaksi dengan pengajar dan teman, meneliti, menilai.
 Motivasi siswa adalah belajar.
 Siswa perlu menentukan pilihan tentang apa dan bagaimana cara belajar
 Tekanan pada belajar terpadu lintas kurikulum
 Belajar kelompok dan kolabirasi
 Pengetahuan terintegrasi
 Berbagai metode pembelajaran secara variatif
 Pemahaman, aplikasi dan pemecahan masalah
 Pengajar sebagai pembimbing mentor dan fasilitator belajar
 Gabungan antara penilai diri sendiri dan peer

Pandangan Behavioristik

 Pengetahuan : obyektif, pasti, tetap
 Belajar : perolehan pengetahuan
 Mengajar : Memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar
 Siswa diharapkan memiliki pemahaman sama dengan guru terhadap pengetahuan yang dipelajari
 Siswa dihadapkan pada aturan2 yang jelas dan ditetapkan lebih dulu secara ketat

sumber : tot gr pmd

Implikasi teori konstruktivistik terhadap pembelajaran

 Belajar adalah proses pemaknaan informasi.
 Kebebasan merupakan unsur esensial dalam lingkungan belajar
 Strategi belajar yang digunakan menentukan proses dan hasil belajar.
 Motivasi dan usaha mempengaruhi belajar.
 Belajar pada hakekatnya memiliki aspek sosial

sumber : tot gr pmd

Pandangan konstruktivistik dalam Pembelajaran

 Pengetahuan: non obyektif, temporer, selalu berubah
 Belajar : pemaknaan pengetahuan
 Mengajar : menggali makna
 Siswa dapat memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan yang dipelajari
 Segala sesuatu bersifat temporer, berubah dan tidak menentu
 Kebebasan merupakan unsur yang esensial

sumber : tot gr pmd

Faktor2 yang mempengaruhi pembelajaran

 Guru : Sikap, Motivasi, wawasan, tingkah laku, gaya bicara, ketrampilan berkomunikasi.
 Lingkungan belajar: sekolah, masyarakat, keluarga.
 Siswa : kesiapan belajar, motiasi, kemampuan, kecerdasan dan ketrampilan.
 Tujuan : Sesuai tidaknya dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik.
 Media : Sesuai tidaknya dengan materi dan tujuan yang ingin dicapai.
 Metode pembelajaran : sesuai tidaknya dengan materi pembelajaran, tingkat perkembangan, minat dan kemampuan peserta didik.

sumber : tot gr pmd

Model ARCS (Keller, 1983)

 Attention (perhatian) Pembelajaran supaya menarik perhatian siswa: metode bervariasi, media yang menarik,ada humor, contoh nyata, Tanya jawab, dll.
 Relevance (Relevansi) ada hubungan antara materi dengan kebutuhan dan kondisi siswa: nilai personal, nilai instrumental, nilai cultural: menjelaskan manfaat dan kegunaan, memberikan contoh-contoh, latihan dan tes.
 Confidence (percaya diri) merasa dirinya kompeten atau mampu dengan adanya keberhasilan yang dicapai: meningkatkan harapan siswa untuk berhasil.
 Satisfaction (kepuasan) keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan akan menghasilkan kepuasan. Strateginya, gunakan pujian dan umpan balik, beri kesempatan siswa menugasi yang menguasai untuk membantu sesame teman, suruh siswa membandingkan prestasinya dengan prestasi sebelumnya.

sumber : tot gr pmd

Cara meningkatkan motivasi belajar

 Menggunakan alat pendidikan seperti, ganjaran, penguatan, penghargaan dan “hukuman”.
 Menyediakan sarana dan prasarana belajar
 Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
 Menciptakan hubungan baik dengan siswa
 Merangsang materi dan metode pembelajaran yang menarik siswa

sumber: TOT GR PMD

Kamis, Juni 04, 2009

Langkah Membuat dan Mengerjakan Soal Online

A. Langkah buat soal online :
1. Buka www.ulangan.com
2. Registrasi guru./ isi data lengkap.
3. Login= masukkan kode user dan password.
4. Pilih : buat soal.
5. Masukkan data soal + kunci jawab.
Sampai dengan selesai.
6. Pilih…cetak soal. Akan keluar kode soal
7. Selesai

B. Langkah cara mengerjakan soal:
1. Siswa dimohon regristrasi sbg siswa.
2. Isi data sampai lengkap.
3. Login : user siswa + password.
4. Pilih soal sebagai…missal Latihan.
5. Kerjakan soal + masukkkan pswd soal.
6. Kerjakan sd selesai. Nilai langsung keluar.
email : burungterbang321@yahoo.com

blog : nilaieka.blogspot.com
A. Langkah buat soal online :
1. Buka www.ulangan.com
2. Registrasi guru./ isi data lengkap.
3. Login= masukkan kode user dan password.
4. Pilih : buat soal.
5. Masukkan data soal + kunci jawab.
Sampai dengan selesai.
6. Pilih…cetak soal. Akan keluar kode soal
7. Selesai

B. Langkah cara mengerjakan soal:
1. Siswa dimohon regristrasi sbg siswa.
2. Isi data sampai lengkap.
3. Login : user siswa + password.
4. Pilih soal sebagai…missal Latihan.
5. Kerjakan soal + masukkkan pswd soal.
6. Kerjakan sd selesai. Nilai langsung keluar.
email : burungterbang321@yahoo.com

blog : nilaieka.blogspot.com

Kegiatan UAS SMANTWOKEB 2009


Di SMANTWOKEB mulai tanggal 3 - 11 Juni 2009 diadakan Ulangan Akhir Semester tahun ajaran 2008-2009.Kegiatan UAS ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam kegiatan pembelajaran selama tahun ajaran 2008-2009. Dengan UAS ini nantinya akan diperoleh beberapa hasil penilaian baik secara kognitif maupun afektif. Bahkan pada mapel tertentu dapat diperoleh nilai psykomotor. Uas ini juga dilakukan sebagai upaya untuk mengetahui tingkat penguasaan materi sehingga bagi siswa yang memiliki ketuntasan belajar sesuai dengan KKM yang telah ditetapkan maka ia akan dinyatakan naik kelas. Namun sebaliknya bagi siswa yang tidak mencapai ketuntasan belajar menurut ketentuan yang berlaku maka ia dapat dinyatakan tinggal kelas.Bagi siswa kelas X ( sepuluh ), kegiatan UAS ini tidak hanya digunakan untuk menentukan kenaikan kelas tetapi juga digunakan untuk menentukan jurusan di kelas XI, apakah ia akan ditempatkan di jurusan Ilmu Alam , Ilmu Sosial ataukan Bahasa.


Keberhasilan pendidikan di suatu sekolah dapat diukur dengan tingkat ketuntasan belajar baik secara klasikal maupun individual.Bila jumlah siswa yang tuntas pada suatu mata pelajaran lebih dari 85 % maka dapat disimpulkan bahwa pada mapel tersebut dapat dinyatakan berhasil.Namun bila tidak maka perlu untuk dikaju lebih jauh tentang sebab-sebab ketidak tuntasan tersebut,mulai dari perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran ( KBM/PBM ), partisipasi siswa, Lingkungan sekolah, evaluasi pembelajaran dan masih banyak hal lain.
eka, 5- Juni 2009

MATERI SOSIOLOGI SMA / MA

SUB POKOK BAHASAN
• STRUKTUR SOSIAL
• KONFLIK DAN INTEGRASI SOSIAL
• MOBILITAS SOSIAL
• MASYARAKAT MULTIKULTURAL
• KELOMPOK SOSIAL DALAM MASY MULTIKULTURAL INDONESIA
• PERUBAHAN SOSIAL
1. STRUKTUR SOSIAL
• UNSUR PEMBENTUK :
STATUS, PERANAN, TINGKAH LAKU, INTERAKSI & HUBUNGAN SOSIAL INDIV STRUKTUR SOS
• BENTUK : MASY, KLP, LEMBAGA
C. DIFERENSIASI SOSIAL :
VERTIKAL, HORISONTAL
• BENTUK : TRADISIONAL & MODERN, RAS & ETNIS, AGAMA & KEPERCAYAAN, JENDER, PROFESI, KLAN, SUKU BANGSA
• STRATIFIKASI SOSIAL : PERBEDAAN STATUS/PERAN MENURUT KELAS/STRATA
LANJUTAN …
• JENIS : ALAMI, USAHA
• FAKTOR : KEKAYAAN, KEKUASAAN, KEHORMATAN, PENDIDIKAN
• SIFAT : TERBUKA, TERTUTUP
• BENTUK : SISTEM KASTA, KELAS SOSIAL, FEODAL, APARTHEID
• FUNGSI : RANGSANGAN, PEMBAGIAN KERJA, KESEMPATAN & GAYA HIDUP
• BIDANG : EKONOMI, STATUS SOSIAL, POLITIK
PENGARUH DIFERENSIASI & STRATIFIKASI PADA MASY
• KESEHATAN : TIDAK LANGSUNG
• PENDIDIKAN : LANGSUNG
• HARAPAN HIDUP : TIDAK LANGSUNG
• KEADILAN SOSIAL : LANGSUNG/TIDAK LANGSUNG
2. KONFLIK & INTEGRASI SOSIAL
A. KONFLIK : saling memukul, 2 Org /klp berusaha saling menyingkirkan dan membuatnya tdk berdaya
• Konflik social : tdk ada masy tanpa konflik
• FAKTOR : INDIV, KEBUD, KEPENTINGAN, PERUBH SOS
• KONDISI KONFLIK : ORANG TUA, SUAMI/ISTERI, ANAK, KERABAT, DI SEKOLAH, PEKERJAAN, POLITIK, AGAMA, ETNIK, KLP SOSIAL, PRIBADI, DNG ORANG LAIN, DLL.

• DAMPAK
• Menguatkan solidaritas anggota klp (ingroup)
2. Menimbulkan keretakan hub antar klp
3. Menimbulkan perubh sikap, perasaan thd sesuatu: dendam, benci, curiga, dll.
4. Kerusakan fisik, harta benda, hilangnya nyawa
5. Dominasi, penaklukan satu klp atas klp lain
6. Konflik menghasilkan konflik; krn yang dicapai pihak satu tidak diakui/diterima pihak lain
KONFLIK & KEKERASAN
• KEKERASAN : KONFLIK TERBUKA, MANIFES,TDK TERKENDALI
• DOMINASI SUMBERDAYA (LANGKA)
• PENGENDALIAN :
KONSILIASI, MEDIASI, ARBITRASI
• WIN-WIN SOLUTION :
KONSILIASI, DIALOG, MUSYAWARAH-MUFAKAT, SEPAKATI ATURAN BERSAMA, SALING MENGHORMATI & MENGHARGAI


3. MOBILITAS SOSIAL
A. MOB SOSIAL : PERPINDAHAN/PERGESERAN STATUS & PERANAN INDIV, KLP MENURUT LAPISAN SOSIAL (NAIK-TURUN)
• JENIS :
VERTIKAL, HORISONTAL, LATERAL (GEOGRAFIS)
• RUANG LINGKUP :
- INTRAGENERASI (STAF, KASI, MANAJER),
- ANTAR GENERASI (KAKEK, AYAH, ANAK)

• FAKTOR-FAKTOR :
• PENDORONG :
STATUS SOSIAL,KEADAAN SOSIAL EKONOMI, POLITIK, PENDUDUK
• PENARIK :
LAP KERJA, TANTANGAN, FASILITAS, KEMUDAHAN, HUBUNGAN SOSIAL, DLL
• PENGHAMBAT :
PERBEDAAN RAS & AGAMA, KELAS, IKATAN SOSIAL/BUD,MISKIN, JENDER
• SALURAN MS VERTIKAL :
TNI/POLRI, AGAMA, PENDIDIKAN, ORGN SOSEK
• DAMPAK MS
• KEMAJUAN
• PERUBAHAN SOSIAL
• KECEMASAN & KETEGANGAN
• KERETAKAN KLP PRIMER
• KONFLIK :
ANTAR INDIV, KELAS, KLP
4. MASY MULTIKULTURAL
• MASY MULTIKULTURAL
MASY MAJEMUK DNG :
KOMPOSISI SEIMBANG, MAYORITAS DOMINAN, MINORITAS DOMINAN, FRAGMENTASI
• SIFAT : SEGMENTASI KLP, KLP NON KOMPLEMENTER, KONSENSUS NILAI FUNDAMENTAL, KONFLIK SUB-BUDAYA, PAKSAAN & KETERGANTUNGAN SOSEK, DOMINASI POLITIK
• INDIKATOR : RAS, BAHASA, WIL GEOGRAFIS, AGAMA, BUDAYA


• MASY INDON MULTIKULTUR
• DIFF HORISONTAL & VERTIKAL
• HORISONTAL :
RAS, SUKU BANGSA, AGAMA, JENDER
• VERTIKAL :
SEJARAH, GEOGRAFIS
• PERMASALAHAN
KONFLIK : TINGKAT (IDEOLOGI, POLITIK); JENIS (RASIAL, SUKU, AGAMA)
INTEGRASI : BHS INDON, PERSATUAN &
KESATUAN, PANDANGAN HIDUP, GOTONG ROYONG, SENASIB, KAWIN
DISINTEGRASI : KETIDAKSEPAKATAN NILAI
REINTEGRASI : KESEPAKATAN/PEMAHAMAN KEMBALI

KLP-KLP SOSIAL DLM MASY MULTIKULTUR
• BERDASARKAN RAS
• BAHASA
• SUKU BANGSA
• PERBEDAAN AGAMA
• PERBEDAAN JENDER
• DAMPAK & KONSEKUENSI
• INTERSEKSI
• KONSOLIDASI
• AKULTURASI
• PRIMORDIALISME
• STEREOTIPE ETNIS
• SEKTARIAN (BERDASARKAN ALIRAN)
• PLURALISME & NASIONALISME
• SIKAP KRITIS, TOLERANSI & EMPATI THD HUB KEANEKARAGAMAN & PERUBH SOSIAL
• SIKAP KRITIS
KEANEKARAGAMAN : PENGHORMATAN
PERUBH SOS : SELEKTIF, PERBAIKAN
• TOLERANSI
KEANEKARAGAMAN : NILAI, PENGHARGAAN
PERUBH SOS : PENGUATAN & PENGEMBANGAN POTENSI
• EMPATI
KEANEKARAGAMAN : NILAI, PEMIKIRAN, PENDAPAT
PERUBH SOS : INOVASI YANG MENGUATKAN POTENSI

6. PERUBAHAN SOSIAL
• PS : PERUBH STRUKTUR & FUNGSI MASY
• PERUBH SOSIAL : MIKRO, MAKRO
- PS TERENCANA & TDK TERENCANA
• FAKTOR PENYEBAB
INTERNAL : PENDUDUK, TEMUAN BARU, KONFLIK SOS
EKSTERNAL : FISIK/ALAM, PERANG, PENGARUH BUD LUAR
• FAKTOR PENDORONG
BUD LUAR, PENDIDIKAN, TOLERANSI, PELAPISAN TERBUKA, PENDUDUK HITEROGIN, KETIDAK PUASAN MASY, ORIENTASI MASA DEPAN, PERBAIKAN HIDUP
• FAKTOR PENGHAMBAT
TERTUTUP, PERKB IPTEK LAMBAT, SIKAP APATIS/TRAD, KEMAPANAN, HUB LUAR KECIL,


• MODERNISASI
• MODERNISASI : PENERAPAN IPTEK DLM SELURUH PROSES KEHIDUPAN MASYARAKAT
• SYARAT :
RASIONAL, EFISIENSI, TERORGANISASI, INOVATIF, DISIPLIN, SENTRALISTIK
• DAMPAK :
DISORGANISASI SOS, KESENJANGAN BUD & DISINTEGRASI SOS

• GLOBALISASI
• GLOBALISASI : PERUBH SOS MAKRO DI MANA INDIV, MASY BERHUB TIMBAL BALIK, SALING MEMBUTUHKAN DNG MASY DI NEG2 LAIN; PASAR BEBAS, NEG TANPA BATAS
• DAMPAK :
GEGAR BUD, KESENJANGAN BUD, MEMPERKAYA UNSUR KEBUD INDON
• TANTANGAN :
JATI DIRI INDIV, MASY & BANGSA, PENGHAYATAN PS LEMAH, BHS INDON, LEGITIMASI AGAMA, DEKADENSI MORAL, PERUBH PERILAKU

SUMBER: TOT GR PEMANDU

Rabu, Juni 03, 2009

Hasil Seleksi Guru Pemandu SMA Jawa Tengah 2009

Kepada Bp dan Ibu guru yang berminat untuk mendownlod / mengetahui hasil seleksi guru pemandu SMA Jawa Tengah tahun 2009 dapat mengunjungi di lpmp.wordpress.com / atau dengan meng-klik pada bagian --lpmp.wordpress.com pada monggo bade ngelink.

Selasa, Juni 02, 2009

Kegiatan di LPMP 1-4 Juni 2009


http://www.blogger.com/img/blank.gif

Kegiatan di LPMP 1-4 Juni 2009

Kegiatan di LPMP 1-4 Juni 2009